EKONOMI – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$444,4 miliar atau sekitar Rp8.030,35 triliun pada Mei 2026. Nilai tersebut tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2 persen pada April 2026.
Menurut BI, kenaikan utang luar negeri terutama dipengaruhi oleh peningkatan utang sektor publik, sementara kontraksi utang swasta mulai mereda.
Kenaikan Dipicu Utang Pemerintah dan Bank Sentral
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan pertumbuhan ULN didorong oleh meningkatnya utang pemerintah dan bank sentral.
Di sisi lain, penurunan utang luar negeri sektor swasta mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
“Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah,” jelas Ramdan dalam keterangan resminya.
Utang Pemerintah Capai US$217,3 Miliar
Bank Indonesia mencatat utang luar negeri pemerintah mencapai US$217,3 miliar, tumbuh 3,7 persen (yoy) dan relatif stabil dibandingkan April 2026.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh:
- Meningkatnya aliran dana investor ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional.
- Pembayaran pinjaman luar negeri pemerintah yang jatuh tempo.
- Kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Pemerintah juga menegaskan komitmennya menjaga kredibilitas fiskal melalui pembayaran kewajiban utang secara tepat waktu.
Utang Digunakan untuk Sektor Produktif
Pemerintah mengarahkan pemanfaatan utang luar negeri guna mendukung pembiayaan pembangunan nasional.
Beberapa sektor yang menerima porsi terbesar antara lain:
- Jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22 persen).
- Administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,6 persen).
- Pendidikan (16,2 persen).
- Konstruksi (11,5 persen).
- Transportasi dan pergudangan (8,5 persen).
Kepemilikan SRBI Mendorong Kenaikan ULN Bank Sentral
Bank Indonesia juga mencatat peningkatan utang luar negeri bank sentral yang dipengaruhi bertambahnya kepemilikan investor asing pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Peningkatan tersebut merupakan bagian dari strategi operasi moneter yang mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Utang Swasta Masih Kontraksi
Sementara itu, utang luar negeri swasta tercatat US$195,9 miliar atau masih mengalami kontraksi 0,1 persen (yoy).
Namun demikian, angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan April 2026 yang mengalami kontraksi sebesar 0,5 persen.
Kontraksi yang semakin kecil terutama berasal dari sektor lembaga keuangan.
Empat sektor penyumbang terbesar ULN swasta meliputi:
- Industri pengolahan.
- Jasa keuangan dan asuransi.
- Pengadaan listrik dan gas.
- Pertambangan dan penggalian.
Keempat sektor tersebut menyumbang hampir 80 persen dari total utang luar negeri swasta.
Rasio Utang terhadap PDB Masih Aman
Bank Indonesia menilai struktur utang luar negeri Indonesia masih berada pada level yang sehat.
Hal itu tercermin dari:
- Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,9 persen.
- Dominasi utang jangka panjang yang mencapai 83,9 persen dari total ULN.
Menurut BI, struktur tersebut menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan utang sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan.
Kesimpulan
Utang luar negeri Indonesia mencapai sekitar Rp8.030 triliun pada Mei 2026 dengan pertumbuhan tahunan sebesar 2,1 persen. Kenaikan terutama didorong oleh sektor publik, sementara kontraksi utang swasta mulai mereda.
Bank Indonesia menegaskan kondisi utang masih terkendali karena rasio terhadap PDB tetap berada di bawah 30 persen dan mayoritas utang memiliki tenor jangka panjang.
FAQ
Berapa utang luar negeri Indonesia pada Mei 2026?
Posisi utang luar negeri Indonesia mencapai US$444,4 miliar atau sekitar Rp8.030,35 triliun.
Apa penyebab kenaikan utang luar negeri?
Kenaikan dipicu pertumbuhan utang pemerintah dan bank sentral, sementara kontraksi utang swasta mulai berkurang.
Berapa rasio utang luar negeri terhadap PDB?
Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 29,9 persen.
Apakah utang luar negeri Indonesia masih aman?
Bank Indonesia menilai struktur utang masih sehat karena didominasi utang jangka panjang dan rasio terhadap PDB tetap terkendali.
Untuk apa utang luar negeri digunakan?
Sebagian besar digunakan untuk membiayai sektor kesehatan, pendidikan, administrasi pemerintahan, konstruksi, transportasi, dan program pembangunan lainnya.









