Kurs Rupiah Hari Ini 2 Juli 2026 Ditutup Melemah ke Rp17.995 per Dolar AS, Investor Waspadai Data NFP

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 2 Juli 2026 - 16:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta-Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.995 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah sepanjang hari bergerak di zona negatif. Pelemahan ini terjadi ketika pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang rilis sejumlah data penting ekonomi Amerika Serikat yang diperkirakan memengaruhi arah kebijakan moneter global.

Sejak pembukaan perdagangan, rupiah sudah menunjukkan tren pelemahan. Pada pagi hari rupiah berada di sekitar Rp17.969 per dolar AS, kemudian terus bergerak turun hingga menyentuh Rp17.981 pada siang hari dan melemah menjadi Rp17.985 menjelang sore. Pada penutupan perdagangan, rupiah akhirnya berakhir di posisi Rp17.995 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah juga dialami mayoritas mata uang Asia. Pergerakan mata uang kawasan berlangsung beragam, dengan yuan China menguat tipis, yen Jepang menguat cukup signifikan, sementara dolar Taiwan masih mengalami pelemahan. Kondisi tersebut mencerminkan investor global masih berhati-hati menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia.

Analis menilai penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang. Data ekonomi Amerika Serikat yang relatif kuat membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed kembali meningkat. Investor kini menunggu data ketenagakerjaan AS, terutama laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang menjadi indikator penting kondisi ekonomi Negeri Paman Sam.

Baca Juga :  Cara Buat QR Code BBM Subsidi Pertamina Lewat HP, Ini Panduan Lengkap Terbaru 2026

Selain faktor global, sentimen domestik juga memberikan tekanan terhadap rupiah. Penurunan kinerja ekspor Indonesia serta munculnya defisit neraca perdagangan menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek aliran devisa sehingga mempersempit ruang penguatan mata uang nasional dalam jangka pendek.

Dari sisi geopolitik, pasar juga masih mencermati perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Qatar. Meskipun kedua negara disebut mencatat kemajuan dalam negosiasi terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, ketidakpastian masih membayangi pasar global. Situasi ini membuat investor tetap memilih aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat turut memperkuat pergerakan dolar. Laporan ADP menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta masih berada di bawah ekspektasi pasar. Sementara itu, aktivitas manufaktur juga mengalami perlambatan. Kini perhatian investor tertuju pada rilis data Nonfarm Payrolls yang diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan pasar keuangan global dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga :  JP Morgan Ramal Harga Emas Balik Arah ke Level Fantastis Ini

Sejumlah analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Rentang perdagangan diproyeksikan berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS. Arah kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik Timur Tengah, serta data ekonomi Amerika Serikat diperkirakan tetap menjadi faktor dominan yang menentukan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya.

FAQ

Berapa kurs rupiah hari ini?
Rupiah ditutup melemah di level Rp17.995 per dolar AS pada Kamis, 2 Juli 2026.

Mengapa rupiah melemah?
Pelemahan dipicu oleh penguatan dolar AS, antisipasi data ketenagakerjaan AS, ekspektasi kebijakan The Fed, serta sentimen domestik dari neraca perdagangan.

Apa itu Nonfarm Payrolls (NFP)?
NFP adalah laporan jumlah tenaga kerja baru di luar sektor pertanian di Amerika Serikat yang menjadi indikator utama kondisi ekonomi AS.

Bagaimana prediksi rupiah selanjutnya?
Analis memperkirakan rupiah berpotensi bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS, bergantung pada hasil data ekonomi AS dan perkembangan global. (Tim)

Berita Terkait

Pemerintah Buka Program Vokasi 250 Ribu Peserta, Ada Magang Berbayar Selama 6 Bulan
Harga Tetap, B50 Mulai Dijual di SPBU Secara Bertahap
BTN Ambil Alih Kredit Pensiun SMBC Indonesia, Ini Penjelasan Lengkapnya
Simulasi Biaya Polytron Fox 350: Sewa Baterai vs Beli Putus, Pilih yang Mana?
Belajar AI Digaji Rp1,5 Miliar per Tahun, Program Claude Corps Buka Pendaftaran
Apple Naikkan Harga Mac di Indonesia, Cek Daftar Harga MacBook Juli 2026
Aturan Saldo Minimum Bank Mandiri, BRI, dan BNI Terbaru Juli 2026
iPhone 16e Diskon Besar, Ini Daftar Harga iPhone Terbaru Juli 2026
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 16:43 WIB

Kurs Rupiah Hari Ini 2 Juli 2026 Ditutup Melemah ke Rp17.995 per Dolar AS, Investor Waspadai Data NFP

Kamis, 2 Juli 2026 - 16:00 WIB

Pemerintah Buka Program Vokasi 250 Ribu Peserta, Ada Magang Berbayar Selama 6 Bulan

Kamis, 2 Juli 2026 - 14:00 WIB

BTN Ambil Alih Kredit Pensiun SMBC Indonesia, Ini Penjelasan Lengkapnya

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:06 WIB

Simulasi Biaya Polytron Fox 350: Sewa Baterai vs Beli Putus, Pilih yang Mana?

Kamis, 2 Juli 2026 - 10:00 WIB

Belajar AI Digaji Rp1,5 Miliar per Tahun, Program Claude Corps Buka Pendaftaran

Berita Terbaru