Nilai Tukar Rupiah Menguat, Bank Indonesia Yakin Stabilitas Terjaga

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bank Indonesia (BI) meyakini tren positif tersebut masih akan berlanjut seiring berbagai kebijakan stabilisasi yang terus dilakukan bank sentral.

Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah pada 17 Juni 2026 berada di level Rp17.730 per dolar AS. Posisi tersebut menguat sekitar 0,76 persen dibandingkan akhir Mei 2026.

Penguatan rupiah terjadi setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026 memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan pihaknya optimistis nilai tukar rupiah akan tetap stabil bahkan berpotensi menguat dalam beberapa waktu ke depan.

Menurutnya, optimisme tersebut didukung oleh komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar, daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih terjaga.

BI Perkuat Intervensi Pasar

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing. Langkah tersebut dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Baca Juga :  Danantara Sederhanakan 15 Asuransi BUMN Jadi 3, Fokus Perkuat Modal dan Daya Saing Industri

Selain itu, BI juga meningkatkan daya tarik instrumen investasi dalam negeri melalui penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Kebijakan tersebut bertujuan menarik minat investor asing untuk menempatkan dananya di pasar keuangan Indonesia, sekaligus menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Hingga 15 Juni 2026, posisi SRBI tercatat mencapai Rp1.021,13 triliun. Dari jumlah tersebut, kepemilikan investor nonresiden mencapai Rp238,09 triliun atau sekitar 23,32 persen dari total outstanding.

Bank Indonesia juga memberikan insentif berupa penurunan biaya hedging swap bagi investor asing sebesar 10 persen guna memperkuat daya tarik investasi di Indonesia.

Modal Asing Mulai Kembali Masuk

Di tengah dinamika global, Bank Indonesia mencatat arus modal asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik.

Pada triwulan II 2026 hingga pertengahan Juni, aliran modal asing masuk secara neto sebesar 3,9 miliar dolar AS. Angka tersebut berbanding terbalik dengan kondisi triwulan I 2026 yang mencatat arus keluar modal sebesar 0,8 miliar dolar AS.

Masuknya modal asing terutama berasal dari investasi pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).

Kondisi ini dinilai menjadi sinyal positif terhadap kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Baca Juga :  Bank Global Mulai Pangkas Bunga Kredit, Kapan Indonesia Menyusul

Risiko Global Masih Membayangi

Meski menunjukkan tren penguatan, Bank Indonesia tetap mengingatkan bahwa risiko global masih perlu diwaspadai.

Ketidakpastian ekonomi dunia masih dipengaruhi berbagai faktor, termasuk dinamika geopolitik di Timur Tengah. Meskipun situasi sempat mereda setelah adanya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada pertengahan Juni 2026, perkembangan negosiasi kedua negara masih dinilai sangat dinamis.

Selain faktor geopolitik, perlambatan ekonomi global dan kebijakan moneter sejumlah negara maju juga berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan internasional.

Karena itu, Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna menjaga ketahanan eksternal perekonomian nasional dan memastikan stabilitas rupiah tetap terjaga.

Prospek Rupiah ke Depan

Sejumlah ekonom menilai penguatan rupiah akan sangat bergantung pada stabilitas global, arus modal asing, serta konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia.

Jika inflasi tetap terkendali, pertumbuhan ekonomi terjaga, dan arus investasi asing terus meningkat, peluang penguatan rupiah dalam jangka menengah masih terbuka.

Namun demikian, pelaku pasar tetap diminta mewaspadai berbagai perkembangan global yang dapat memicu volatilitas nilai tukar dalam waktu singkat.

Berita Terkait

Harga Pertamax Bisa Turun? ESDM Ungkap Syarat dan Mekanismenya
Pizza Hut Resmi Dijual Rp26,6 Triliun
Cek Harga Toyota Agya, Calya, Brio Satya, Ayla dan Sigra Juni 2026
Danantara Pangkas Ratusan Entitas BUMN, Ini Nasib Karyawannya
Asing Borong Saham GOTO Rp238 Miliar
Starbucks Tutup 2.000 Gerai Usai Kontroversi Promo
DJP Catat 50 Ribu Wajib Pajak Baru Berkat Coretax, Penerimaan Pajak Melonjak hingga Rp834 Triliun
Target Pajak Rp2.357 Triliun! DJP Buru Wajib Pajak Dormant, Coretax Jadi Senjata Baru Negara
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:00 WIB

Nilai Tukar Rupiah Menguat, Bank Indonesia Yakin Stabilitas Terjaga

Kamis, 18 Juni 2026 - 19:00 WIB

Harga Pertamax Bisa Turun? ESDM Ungkap Syarat dan Mekanismenya

Kamis, 18 Juni 2026 - 16:04 WIB

Pizza Hut Resmi Dijual Rp26,6 Triliun

Kamis, 18 Juni 2026 - 15:08 WIB

Cek Harga Toyota Agya, Calya, Brio Satya, Ayla dan Sigra Juni 2026

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:00 WIB

Danantara Pangkas Ratusan Entitas BUMN, Ini Nasib Karyawannya

Berita Terbaru

Oplus_131072

Lowongan Kerja

Loker Sampoerna Juni 2026 Resmi Dibuka, Lulusan S1 dan S2 Bisa Melamar

Jumat, 19 Jun 2026 - 01:02 WIB