Dolar AS Melejit ke Rp17.600, Strategi Ekonomi Habibie Kembali Jadi Sorotan Publik

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 16 Mei 2026 - 22:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta-Nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian utama masyarakat setelah sempat menyentuh level Rp17.600 pada perdagangan pertengahan Mei 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku usaha, investor, hingga masyarakat umum karena pelemahan rupiah dapat berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok, cicilan kredit, hingga biaya impor barang elektronik dan otomotif.

Di tengah situasi tersebut, publik kembali menyoroti strategi ekonomi era B. J. Habibie yang dinilai sukses mengendalikan krisis moneter 1998. Saat itu, nilai tukar rupiah sempat terpuruk hingga mendekati Rp16.800 per dolar AS sebelum akhirnya berhasil menguat drastis ke kisaran Rp6.550 dalam periode berikutnya.

Banyak ekonom menilai keberhasilan Habibie tidak lepas dari keberanian pemerintah melakukan reformasi besar di sektor keuangan nasional. Salah satu langkah paling penting adalah restrukturisasi perbankan yang kala itu mengalami tekanan hebat akibat krisis ekonomi Asia. Pemerintah menutup bank bermasalah dan menggabungkan beberapa bank milik negara menjadi Bank Mandiri untuk memperkuat stabilitas sektor perbankan.

Selain pembenahan bank, pemerintah juga memperkuat independensi Bank Indonesia melalui kebijakan reformasi moneter. Langkah tersebut membuat bank sentral memiliki kewenangan lebih besar dalam menjaga kestabilan rupiah tanpa campur tangan politik yang berlebihan. Kebijakan ini dinilai berhasil meningkatkan kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.

Baca Juga :  IHSG Hari Ini Melemah 2,73 Persen, Saham BMRI, TPIA, dan DSSA Terkoreksi Tajam

Habibie juga menerapkan kebijakan moneter ketat melalui penerbitan Sertifikat Bank Indonesia atau SBI dengan tingkat bunga tinggi. Strategi ini bertujuan menarik dana masyarakat kembali ke perbankan sehingga jumlah uang beredar di pasar dapat ditekan. Dampaknya, inflasi perlahan mulai terkendali dan nilai tukar rupiah berangsur stabil.

Tidak hanya fokus pada sektor finansial, pemerintah saat itu juga menjaga stabilitas harga BBM subsidi dan tarif listrik agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Kebijakan pengendalian harga kebutuhan pokok menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas sosial di tengah tekanan ekonomi yang sangat berat.

Kini, ketika dolar AS kembali menguat akibat ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat, banyak pelaku pasar mulai membandingkan kondisi saat ini dengan era krisis 1998. Meski demikian, sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibanding dua dekade lalu karena cadangan devisa, sistem perbankan, dan pengawasan keuangan sudah lebih stabil.

Penguatan dolar AS sendiri dipengaruhi berbagai faktor global seperti kebijakan suku bunga bank sentral AS, ketegangan geopolitik, hingga perlambatan ekonomi dunia. Kondisi tersebut membuat investor global cenderung menyimpan aset dalam bentuk dolar sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.

Baca Juga :  Kejar Investor China, Purbaya Terbang Bahas Panda Bond

Meski tantangan ekonomi global masih besar, pengalaman Indonesia menghadapi krisis di masa lalu menjadi pelajaran penting bahwa reformasi sektor keuangan, kebijakan moneter yang tepat, dan stabilitas kebutuhan pokok merupakan kunci menjaga kepercayaan pasar dan memperkuat ekonomi nasional di tengah gejolak dunia.

FAQ

Kenapa dolar AS naik terhadap rupiah?

Dolar AS menguat karena kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat, kondisi ekonomi global, serta meningkatnya permintaan aset berbasis dolar dari investor internasional.

Apa dampak dolar AS naik bagi masyarakat?

Kenaikan dolar dapat membuat harga barang impor, elektronik, otomotif, hingga biaya pendidikan luar negeri menjadi lebih mahal.

Bagaimana cara Habibie menstabilkan rupiah?

Habibie melakukan restrukturisasi perbankan, memperkuat independensi Bank Indonesia, menerapkan kebijakan moneter ketat, dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

Apakah kondisi ekonomi sekarang sama seperti krisis 1998?

Sebagian ekonom menilai situasi saat ini berbeda karena fundamental ekonomi Indonesia lebih kuat dibanding era krisis moneter 1998.

Apa sektor yang paling terdampak dolar tinggi?

Sektor impor, otomotif, elektronik, penerbangan, dan industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri biasanya paling terdampak pelemahan rupiah.

Berita Terkait

Lowongan BPJS Kesehatan 2026 Resmi Dibuka, Lulusan S1 hingga S3 Bisa Daftar
Forbes Rilis Orang Terkaya Indonesia Juli 2026, Ini 10 Nama dengan Harta Fantastis
Bank Mandiri Hadirkan QRIS Tap dan Sistem Keamanan Baru untuk Nasabah
Kasus Prolife, OJK Amankan Aset Rp113,97 Miliar
Berapa Total Emas Monas? Ini Penjelasan Lengkap dan Sejarahnya
Jangan Salah! Ini Perbedaan Harga Jual Emas Antam dan Perhiasan yang Wajib Diketahui
IPO RANS Entertainment Resmi Melantai di Bursa, Dihadiri Haji Isam dan Boy Thohir
Jampidsus Respons Penggeledahan Polri, Fokus Kejagung Tetap Berantas Korupsi
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 08:00 WIB

Forbes Rilis Orang Terkaya Indonesia Juli 2026, Ini 10 Nama dengan Harta Fantastis

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:00 WIB

Bank Mandiri Hadirkan QRIS Tap dan Sistem Keamanan Baru untuk Nasabah

Sabtu, 11 Juli 2026 - 12:00 WIB

Kasus Prolife, OJK Amankan Aset Rp113,97 Miliar

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:00 WIB

Berapa Total Emas Monas? Ini Penjelasan Lengkap dan Sejarahnya

Sabtu, 11 Juli 2026 - 08:00 WIB

Jangan Salah! Ini Perbedaan Harga Jual Emas Antam dan Perhiasan yang Wajib Diketahui

Berita Terbaru

Teknologi

Tips Merawat Smart TV 32 Inci agar Tahan Lama dan Tetap Jernih

Minggu, 12 Jul 2026 - 12:00 WIB