Jakarta-Keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026 langsung menjadi sorotan pelaku pasar. Kebijakan yang diumumkan oleh Gubernur Perry Warjiyo ini dinilai sebagai langkah strategis menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Bank sentral juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility di 3,75% dan Lending Facility di 5,5%. Langkah ini menegaskan fokus utama kebijakan moneter Indonesia saat ini, yakni menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil sekaligus mengendalikan inflasi agar berada dalam target 2,5% ±1%.
Dari sisi pasar keuangan, keputusan ini memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia masih mengutamakan stabilitas dibanding stimulus pertumbuhan agresif. Investor cenderung merespons positif karena kepastian arah kebijakan membantu menjaga kepercayaan terhadap aset domestik, termasuk obligasi dan pasar saham.
Namun, bagi sektor riil seperti UMKM dan kredit konsumsi, suku bunga yang tetap tinggi berarti biaya pinjaman belum akan turun dalam waktu dekat. Hal ini berpotensi menahan ekspansi bisnis, khususnya di sektor properti, otomotif, dan pembiayaan berbasis kredit.
Tekanan global menjadi faktor utama di balik keputusan ini. Gejolak geopolitik serta fluktuasi harga energi membuat bank sentral harus berhati-hati. Kenaikan harga BBM nonsubsidi juga berisiko memicu inflasi lanjutan melalui peningkatan biaya distribusi dan produksi.
Ekonom dari Bank Permata menilai bahwa ruang penurunan suku bunga masih sangat terbatas sepanjang nilai tukar rupiah berada dalam tekanan. Bahkan, jika harga minyak dunia bertahan tinggi, peluang pelonggaran moneter bisa semakin kecil.
Di sisi lain, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap optimistis serta PMI manufaktur yang berada di zona ekspansi menjadi sinyal bahwa daya tahan ekonomi domestik masih terjaga.
Ke depan, arah kebijakan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan global, terutama pergerakan dolar AS, inflasi energi, serta stabilitas geopolitik. Pelaku pasar kini menunggu apakah Bank Indonesia akan tetap bertahan atau mulai melonggarkan kebijakan pada semester berikutnya.
FAQ
1. Apa itu BI Rate 4,75%?
BI Rate adalah suku bunga acuan yang digunakan sebagai patokan perbankan dalam menentukan bunga kredit dan simpanan.
2. Kenapa BI tidak menurunkan suku bunga?
Karena tekanan global, inflasi energi, dan stabilitas rupiah masih menjadi prioritas utama.
3. Apakah cicilan akan turun?
Belum. Dengan suku bunga tetap, cicilan kredit masih relatif tinggi.
4. Apakah ini bagus untuk investasi?
Ya, terutama untuk instrumen seperti deposito dan obligasi yang menawarkan imbal hasil stabil.
5. Bagaimana dampaknya ke rupiah?
Menahan suku bunga membantu menjaga nilai tukar rupiah agar tidak melemah lebih dalam.








