BI Tahan Suku Bunga 4,75% April 2026, Ini Dampaknya ke Kredit, Investasi, dan Rupiah

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 22 April 2026 - 15:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Jakarta-Keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026 langsung menjadi sorotan pelaku pasar. Kebijakan yang diumumkan oleh Gubernur Perry Warjiyo ini dinilai sebagai langkah strategis menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Bank sentral juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility di 3,75% dan Lending Facility di 5,5%. Langkah ini menegaskan fokus utama kebijakan moneter Indonesia saat ini, yakni menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil sekaligus mengendalikan inflasi agar berada dalam target 2,5% ±1%.

Dari sisi pasar keuangan, keputusan ini memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia masih mengutamakan stabilitas dibanding stimulus pertumbuhan agresif. Investor cenderung merespons positif karena kepastian arah kebijakan membantu menjaga kepercayaan terhadap aset domestik, termasuk obligasi dan pasar saham.

Namun, bagi sektor riil seperti UMKM dan kredit konsumsi, suku bunga yang tetap tinggi berarti biaya pinjaman belum akan turun dalam waktu dekat. Hal ini berpotensi menahan ekspansi bisnis, khususnya di sektor properti, otomotif, dan pembiayaan berbasis kredit.

Baca Juga :  Rupiah Melemah ke Rp17.830, Pemerintah Pastikan APBN Masih Terkendali

Tekanan global menjadi faktor utama di balik keputusan ini. Gejolak geopolitik serta fluktuasi harga energi membuat bank sentral harus berhati-hati. Kenaikan harga BBM nonsubsidi juga berisiko memicu inflasi lanjutan melalui peningkatan biaya distribusi dan produksi.

Ekonom dari Bank Permata menilai bahwa ruang penurunan suku bunga masih sangat terbatas sepanjang nilai tukar rupiah berada dalam tekanan. Bahkan, jika harga minyak dunia bertahan tinggi, peluang pelonggaran moneter bisa semakin kecil.

Di sisi lain, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap optimistis serta PMI manufaktur yang berada di zona ekspansi menjadi sinyal bahwa daya tahan ekonomi domestik masih terjaga.

Ke depan, arah kebijakan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan global, terutama pergerakan dolar AS, inflasi energi, serta stabilitas geopolitik. Pelaku pasar kini menunggu apakah Bank Indonesia akan tetap bertahan atau mulai melonggarkan kebijakan pada semester berikutnya.

Baca Juga :  Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS! Ini Penyebab Utamanya yang Bikin Pasar Deg-Degan

FAQ

1. Apa itu BI Rate 4,75%?
BI Rate adalah suku bunga acuan yang digunakan sebagai patokan perbankan dalam menentukan bunga kredit dan simpanan.
2. Kenapa BI tidak menurunkan suku bunga?
Karena tekanan global, inflasi energi, dan stabilitas rupiah masih menjadi prioritas utama.
3. Apakah cicilan akan turun?
Belum. Dengan suku bunga tetap, cicilan kredit masih relatif tinggi.
4. Apakah ini bagus untuk investasi?
Ya, terutama untuk instrumen seperti deposito dan obligasi yang menawarkan imbal hasil stabil.
5. Bagaimana dampaknya ke rupiah?
Menahan suku bunga membantu menjaga nilai tukar rupiah agar tidak melemah lebih dalam.

Berita Terkait

Prabowo Resmi Terapkan Ekspor Sawit dan Batu Bara Satu Pintu via BUMN
APBN Mei 2026 Defisit Rp180,4 Triliun, Apa Dampaknya bagi Rupiah, Investasi, dan Ekonomi Indonesia?
Rupiah Hari Ini Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Simak Dampaknya untuk Kredit, Investasi, dan Harga Barang
Honda Brio vs Toyota Agya 2026, Mana City Car Paling Worth It untuk Harian?
IHSG Ambruk ke Level Terendah 5 Tahun, Investor Asing Kabur Rp67 Triliun, Ancaman MSCI Bikin Pasar Berguncang
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini 5 Dampak Besar yang Mengancam Ekonomi Indonesia
Rupiah Melemah ke Rp18.029 per Dollar AS, Ini Daftar Barang yang Berpotensi Mahal
Raja E-Commerce China Temu Didenda Rp4,1 Triliun
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 22:00 WIB

Prabowo Resmi Terapkan Ekspor Sawit dan Batu Bara Satu Pintu via BUMN

Sabtu, 6 Juni 2026 - 19:30 WIB

APBN Mei 2026 Defisit Rp180,4 Triliun, Apa Dampaknya bagi Rupiah, Investasi, dan Ekonomi Indonesia?

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:34 WIB

Rupiah Hari Ini Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Simak Dampaknya untuk Kredit, Investasi, dan Harga Barang

Sabtu, 6 Juni 2026 - 16:00 WIB

Honda Brio vs Toyota Agya 2026, Mana City Car Paling Worth It untuk Harian?

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:31 WIB

IHSG Ambruk ke Level Terendah 5 Tahun, Investor Asing Kabur Rp67 Triliun, Ancaman MSCI Bikin Pasar Berguncang

Berita Terbaru