EKONOMI – Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah setelah menyentuh level Rp18.029 per dollar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga berbagai barang konsumsi dan kebutuhan masyarakat.
Pelemahan rupiah membuat biaya impor meningkat karena pelaku usaha harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli barang, bahan baku, maupun komponen dari luar negeri. Dampaknya tidak hanya dirasakan produk impor, tetapi juga barang produksi dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku dan transaksi berbasis dollar AS.
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan depresiasi rupiah dalam enam bulan terakhir mencapai 7,29 persen terhadap dollar AS.
Menurutnya, pelemahan rupiah kali ini cukup serius karena terjadi hampir terhadap seluruh mata uang utama dunia, termasuk negara-negara ASEAN.
“Rupiah melemah terhadap 86 persen mata uang dunia dan terhadap seluruh mata uang utama ASEAN seperti SGD, THB, MYR, VND, dan PHP,” ujarnya.
Barang yang Diprediksi Mengalami Kenaikan Harga
Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi memicu inflasi akibat meningkatnya biaya impor dan produksi. Jika kondisi terus berlangsung, masyarakat diperkirakan akan menghadapi kenaikan harga di berbagai sektor.
Beberapa kelompok barang yang dinilai paling rentan mengalami kenaikan harga antara lain:
1. Produk Elektronik
Barang elektronik menjadi salah satu sektor paling terdampak karena mayoritas komponennya masih bergantung pada impor.
Produk seperti:
- Smartphone
- Laptop
- Televisi
- AC
- Kulkas
- Mesin cuci
berpotensi mengalami penyesuaian harga jika rupiah terus melemah.
Selain itu, biaya distribusi dan logistik juga dapat meningkat seiring kenaikan nilai dollar AS.
2. Produk Otomotif
Industri otomotif juga menghadapi tekanan besar karena banyak komponen kendaraan masih berasal dari luar negeri.
Harga:
- Mobil baru
- Sepeda motor
- Sparepart kendaraan
- Oli dan aksesori
diperkirakan ikut naik apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang.
Kondisi ini juga dapat berdampak pada cicilan kendaraan karena potensi kenaikan suku bunga kredit.
3. Produk FMCG dan Kebutuhan Harian
Barang konsumsi cepat saji atau fast moving consumer goods (FMCG) ikut terdampak akibat naiknya biaya bahan baku impor.
Beberapa produk yang berpotensi naik harga:
- Susu formula
- Makanan kemasan
- Minuman instan
- Produk perawatan tubuh
- Sabun dan deterjen
Meski diproduksi di dalam negeri, banyak bahan baku industri FMCG masih menggunakan komponen impor.
4. Material Bangunan
Sektor properti dan konstruksi juga tidak luput dari dampak pelemahan rupiah.
Harga material seperti:
- Besi
- Baja
- Keramik
- Kabel listrik
- Cat
- Peralatan konstruksi
diperkirakan ikut meningkat karena sebagian bahan baku dan mesin masih bergantung pada impor.
Jika kondisi ini berlangsung lama, harga rumah dan biaya pembangunan dapat ikut melonjak.
5. Pakaian dan Produk Fashion
Industri tekstil nasional juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga bahan baku impor.
Produk seperti:
- Pakaian jadi
- Sepatu
- Tas
- Kain impor
berpotensi mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan mendatang.
Masyarakat Desa Dinilai Paling Rentan
Wijayanto menilai masyarakat pedesaan menjadi kelompok yang paling rentan terdampak pelemahan rupiah.
Menurutnya, masyarakat desa umumnya memiliki akses informasi dan kemampuan adaptasi ekonomi yang lebih terbatas dibanding masyarakat perkotaan.
“Mereka menjadi pure price taker atau kelompok yang paling sulit beradaptasi terhadap kenaikan harga,” jelasnya.
Selain itu, petani dan peternak juga menghadapi tekanan karena biaya produksi meningkat lebih cepat dibanding kenaikan harga jual hasil usaha mereka.
Dunia Usaha Hadapi Tekanan Berlapis
Pelemahan rupiah juga meningkatkan beban dunia usaha karena biaya pendanaan dan bunga kredit berpotensi naik.
Sektor yang paling berisiko terkena dampak:
- Properti
- Otomotif
- Elektronik
- Farmasi
- Industri makanan
Sementara itu, eksportir komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel justru berpotensi mendapatkan keuntungan karena pendapatan mereka berbasis dollar AS.
APBN dan Utang Pemerintah Berpotensi Membengkak
Dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan masyarakat dan pelaku usaha, tetapi juga pemerintah.
Sekitar 25 persen utang pemerintah masih menggunakan denominasi valuta asing. Ketika rupiah melemah, kewajiban pembayaran otomatis meningkat.
Wijayanto memperkirakan depresiasi rupiah sepanjang 2026 dapat menambah beban utang pemerintah hingga Rp175 triliun.
Selain itu:
- Defisit APBN berpotensi meningkat
- Beban subsidi energi bertambah
- Pembayaran bunga utang naik
- Ruang fiskal pemerintah makin sempit
Kondisi ini dapat memperberat tekanan terhadap ekonomi nasional apabila tidak segera diantisipasi.
Risiko Inflasi dan Kenaikan Suku Bunga
Pelemahan rupiah juga meningkatkan risiko imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertimbangkan kenaikan BI Rate atau SRBI Rate.
Jika suku bunga naik:
- Cicilan kredit rumah dapat meningkat
- Kredit kendaraan menjadi lebih mahal
- Dunia usaha menghadapi bunga pinjaman lebih tinggi
- Konsumsi masyarakat bisa melambat
Karena itu, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah Diminta Fokus Perbaiki Fundamental Ekonomi
Wijayanto menilai pemerintah perlu fokus memperbaiki akar masalah pelemahan rupiah, bukan hanya menangani dampaknya.
Langkah yang dinilai penting meliputi:
- Penguatan neraca pembayaran
- Perbaikan strategi fiskal
- Stabilitas kebijakan ekonomi
- Peningkatan kepercayaan investor
- Penguatan sektor ekspor
Menurutnya, komunikasi kebijakan yang jelas juga menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas pasar dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.
FAQ
Mengapa rupiah melemah terhadap dollar AS?
Rupiah melemah akibat tekanan global, ketidakpastian ekonomi, arus modal keluar, dan tingginya permintaan dollar AS.
Barang apa yang paling terdampak pelemahan rupiah?
Produk elektronik, otomotif, FMCG, material bangunan, dan produk fashion menjadi sektor yang paling rentan mengalami kenaikan harga.
Apakah harga rumah bisa naik?
Bisa. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan harga material bangunan dan bunga kredit properti.
Siapa yang paling terdampak?
Masyarakat berpenghasilan rendah, warga pedesaan, serta pelaku usaha yang bergantung pada impor menjadi kelompok paling rentan.
Apakah BI Rate bisa naik?
Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi.









