Hari Ayah Nasional: di tengah Pengaruh Budaya Global dan Digital

Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd.(Guru Besar UIN STS Jambi)

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 12 November 2025 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hari Ayah Nasional

​Tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Ayah Nasional. Momen refleksi ini hadir di tengah Pengaruh dan gerusan budaya global dan digital yang secara perlahan mendefinisikan ulang peran domestik seorang laki-laki. Di era post-modern ini, identitas ayah  mengalami dualisme krisis: dituntut menjadi penyedia finansial sekaligus figur emosional yang hadir di rumah. Tekanan media sosial dan nilai-nilai global seringkali menciptakan ekspektasi peran yang tidak realistis. Widodo (2024) dalam perspektif psikologi keluarga Islam menyoroti bagaimana arus globalisasi menuntut adaptasi peran yang masif. Lebih lanjut, Burton (2020) mencatat bahwa tekanan ini memaksa ayah modern untuk menyeimbangkan antara penyedia finansial dan influencer moral.

​Maka, pertanyaan fundamentalnya adalah: Masihkah Ayah menjadi teladan, pemimpin, tulang punggung, dan pelindung kedamaian keluarga di tengah pusaran digital ini? Esai ini bertujuan merefleksi fungsi esensial ayah dalam perspektif Islam, meninjau ulang kedudukannya dari warisan keilmuan klasik hingga kontemporer, seraya mengambil pelajaran dari kisah-kisah kenabian sebagai panduan parenting di abad ke-21.


Teori Islam Klasik, Kontemporer, dan Pandangan Sufi
​Pandangan Islam tentang Ayah melampaui sekadar penyedia nafkah, ia ditegaskan dalam kerangka wilayah (kepemimpinan) dan qawwamah (pemeliharaan).

​Secara klasik, ulama seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menempatkan ayah sebagai Murabbi (pendidik) dan Mu’addib (pembentuk adab). Al-Ghazali (2009) menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan spiritual dan moral anak sejak dini terletak di pundak ayah, menjadikannya gerbang pertama spiritualitas keluarga.

​Dalam konteks kontemporer, model ini diperkuat oleh Abdullah Nashih Ulwan (2004) yang merangkum tujuh pilar utama peran ayah. Implementasi model tersebut saat ini diuji oleh kehadiran Generasi Alpha dan kondisi post-pandemi. Pratama (2022) menekankan pentingnya peran ayah dalam pembentukan karakter anak di tengah perubahan sosial yang sangat cepat ini.

Baca Juga :  HUT ke-80 Korps Marinir TNI AL “80 Tahun Marinir & Ancaman Baru di Laut Nusantara: Saatnya Indonesia Membangun Kekuatan Laut yang Sesungguhnya”

​Dimensi sufistik memberikan kedalaman spiritual. Bagi kaum Sufi, ayah diposisikan sebagai Mursyid (pembimbing spiritual) pertama. Said (2020) menghubungkan pandangan sufi ini dengan subjek modernitas, di mana pencarian sakinah (kedamaian batin) ayah adalah kunci utama untuk membawa Inner Peace ke dalam keluarga yang berada dalam Chaotic Digital World. Kedamaian internal (sakinah) ayah menjadi prasyarat untuk memimpin.


Posisi Ayah dalam Al-Qur’an, Hadis, dan Fiqih
​1. Dalam Al-Qur’an dan Hadis

​Al-Qur’an menyoroti peran ayah sebagai pendidik akidah. Surah Luqman menjadi contoh paling jelas, di mana M. Quraish Shihab (2006) menekankan bahwa teladan tauhid ayah adalah pelajaran paling penting yang harus ditanamkan.

​Ketauladanan ayah juga dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. An-Nawawi (1998) mengumpulkan hadis-hadis dalam Riyadhus Shalihin yang menekankan sikap kasih sayang dan kelembutan Nabi SAW, menolak stereotip ayah yang kaku dan otoriter.

​2. Dalam Fiqih Kontemporer

​Fiqih modern, dalam kajian Fiqh al-Usrah, menggeser penekanan dari hak legal ke tanggung jawab moral-psikologis.

​Wahbah Al-Zuhaili (2007) menjelaskan bahwa tanggung jawab ayah dalam pembiayaan dan pendidikan moral/agama anak (hadhanah) tidak pernah gugur. Kewajiban nafkah ini telah berevolusi; Rif’at (2021) bahkan telah merekonstruksi Fiqih Keluarga dengan menyoroti kewajiban nafkah non-materi ayah dalam bentuk komunikasi dan bimbingan digital yang berkualitas.

​Dalam konteks Indonesia, H. Nasution (2019) memandang kewajiban ayah sebagai implementasi dari hifdz al-nasl (menjaga keturunan) dalam Maqashid Syariah. Hal ini sangat krusial. Al-Qodhi (2023) secara spesifik menyerukan perlunya ayah Muslim untuk memahami Cyber Risks dan membangun Ethical Frameworks demi melindungi anak-anak mereka di ruang siber. Ayah harus menjadi filter yang bijak terhadap arus digital yang berpotensi merusak karakter anak (Mutawalli, 2018).

Baca Juga :  Belanja Pegawai Pemprov Jambi Tembus Rp1,1 Triliun, Pertimbangkan Penerimaan CPNS 2026


Kisah Inspiratif Sang Ayah Sepanjang Kenabian
​Kisah para Nabi (AS) adalah cermin sempurna peran ayah ideal:

​Nabi Ibrahim AS: Ayah yang mengajarkan ketaatan total (tsiqah) pada kehendak Ilahi kepada Nabi Ismail AS. Kisah pengorbanan yang diriwayatkan oleh Ibn Katsir (2000) adalah puncak pendidikan tauhid dan penyerahan diri.
​Nabi Muhammad SAW: Beliau adalah teladan ayah yang menunjukkan rahmah (kasih sayang universal). Martin Lings (2005) menggambarkan bahwa Nabi membiarkan cucu-cucunya bermain di punggungnya saat shalat. Ini mengirimkan pesan kuat bahwa ayah adalah ruang aman dan bermain pertama bagi anak, bahkan dalam situasi formal ibadah.

Penutup
​Peran ayah modern menghadapi tekanan yang kompleks dan eksistensial. Hari Ayah Nasional harus menjadi momentum evaluasi bagi semua pihak. Ayah harus kembali menjadi: pemimpin spiritual (berdasarkan warisan sufistik), pendidik dialogis (sesuai tuntutan kontemporer dan Gen Alpha), dan teladan moral (mencontoh kenabian).

​Kedamaian keluarga akan tegak, bukan karena tingginya penghasilan, tetapi karena kuatnya tiang tarbiyah yang dipancangkan oleh sang ayah. Tantangan bagi Ayah hari ini adalah menjadi filter yang bijak bagi arus digital dan globalisasi budaya (Widodo, 2024), memastikan bahwa anak mampu menyaring informasi, sehingga warisan spiritual dan karakter mereka tetap kokoh.(***)

Berita Terkait

Daftar Pemda di Jambi yang Ajukan Formasi CPNS 2026, Kota Jambi Usulkan 330 Posisi
Wisuda XII IAIN Kerinci Kukuhkan 538 Lulusan, Rektor : Kita Siap Melangkah Menuju UIN
Mengapa Orang Barat Pakai Tisu Toilet Setelah BAB? Ini Sejarah dan Alasannya
Jambi Resmi Punya 2 Bandara yang Didarati Pesawat Berbadan Lebar, Batik Air Perdana Mendarat di Muara Bungo
OJK Ungkap Hasil Audit Forensik Bank Jambi Sudah Keluar
Direbus atau Langsung Masuk Freezer? Ini Cara Simpan Daging Kurban agar Awet Berbulan-bulan
Dahlan Iskan Sebut Film “Pesta Babi” Layak Raih Piala Citra, Soroti Isu Papua dan Lingkungan
Beasiswa Pemprov Jambi 2026 Resmi Dibuka, Mahasiswa Berprestasi dan Kurang Mampu Bisa Daftar Gratis
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 07:00 WIB

Daftar Pemda di Jambi yang Ajukan Formasi CPNS 2026, Kota Jambi Usulkan 330 Posisi

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:43 WIB

Wisuda XII IAIN Kerinci Kukuhkan 538 Lulusan, Rektor : Kita Siap Melangkah Menuju UIN

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:30 WIB

Mengapa Orang Barat Pakai Tisu Toilet Setelah BAB? Ini Sejarah dan Alasannya

Selasa, 16 Juni 2026 - 05:01 WIB

Jambi Resmi Punya 2 Bandara yang Didarati Pesawat Berbadan Lebar, Batik Air Perdana Mendarat di Muara Bungo

Selasa, 16 Juni 2026 - 03:09 WIB

OJK Ungkap Hasil Audit Forensik Bank Jambi Sudah Keluar

Berita Terbaru

Ekonomi

Cara Menaikkan Limit PayLater dengan Cepat dan Aman

Sabtu, 27 Jun 2026 - 19:00 WIB

Teknologi

PP Tunas Mulai Diterapkan, TikTok Hapus 4,1 Juta Akun Anak

Sabtu, 27 Jun 2026 - 17:00 WIB