Jakarta-Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan pada perdagangan Kamis, 17 September 2026. Rupiah ditutup di level Rp17.753 per dolar AS.
Berdasarkan data Doo Financial Futures, rupiah melemah 57 poin atau 0,32 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya. Tekanan tersebut terjadi ketika dolar AS menguat di pasar global.
Pergerakan rupiah juga sejalan dengan pelemahan sejumlah mata uang Asia. Won Korea Selatan tercatat melemah 0,61 persen terhadap dolar AS.
Ringgit Malaysia turun 0,54 persen, sedangkan dolar Taiwan melemah 0,27 persen. Peso Filipina dan dolar Hong Kong juga mengalami tekanan meski dalam skala lebih kecil.
Sebaliknya, beberapa mata uang Asia masih mampu menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,30 persen, sementara dolar Singapura menguat 0,13 persen.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan rupiah berkaitan dengan kenaikan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut muncul setelah keputusan terbaru Federal Reserve.
Pasar kini mencermati pernyataan hawkish dari bank sentral AS. Sikap tersebut meningkatkan perhatian investor terhadap kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga pada akhir 2026.
Untuk perdagangan Jumat, 18 September 2026, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS. Investor juga akan mencermati harga minyak mentah dan pergerakan yield obligasi AS. (*)
Editor : Fanda Yosephta









