Setiap malam hingga pagi, deretan truk berdiri berjajar menunggu kesempatan mengisi solar subsidi. Ada yang sengaja tiba sejak sore, ada pula yang baru datang malam hari hanya untuk memastikan mendapatkan jatah BBM di hari berikutnya. Aktivitas ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga menguras tenaga para sopir yang harus tetap menjaga fisik untuk perjalanan jauh.
Suparno, seorang sopir angkutan barang asal Jawa Tengah yang hendak menuju Tapan, Pesisir Selatan, mengaku terpaksa bermalam di SPBU Sungai Penuh agar bisa mendapat solar. Ia mengatakan bahwa fenomena antrean panjang seperti ini tidak pernah ia jumpai di daerah asalnya, yang pasokan solar subsidinya dinilai lebih stabil dan mudah diakses oleh sopir angkutan.
Menurutnya, antrean panjang bukan hanya merugikan dari segi waktu, tetapi juga berdampak pada jadwal distribusi barang. Banyak sopir yang akhirnya mengalami keterlambatan pengiriman karena harus menunggu hingga belasan jam. Bagi mereka, pilihan menunggu adalah satu-satunya cara, sebab solar nonsubsidi terlalu mahal untuk perjalanan jarak jauh yang membutuhkan banyak konsumsi bahan bakar.
Suparno menceritakan bahwa ia dan beberapa sopir lain bahkan harus tidur di dalam kabin truk sambil menunggu giliran, karena antrean baru bergerak menjelang pagi. Meski kondisi ini tidak nyaman, mereka tetap bertahan karena mencari solar di tempat lain bukan solusi yang mudah. SPBU terdekat pun seringkali sudah penuh antrean saat mereka tiba.
Warga sekitar juga mengakui bahwa antrean kendaraan besar di SPBU Pelayang Raya sudah menjadi pemandangan harian. Tidak sedikit masyarakat yang terganggu, terutama ketika antrean kendaraan menyempitkan badan jalan dan memicu kemacetan di jam-jam tertentu. Namun, hingga kini belum ada perubahan signifikan dalam pola distribusi yang mampu mengurai persoalan tersebut.
Para sopir berharap pemerintah bersama Pertamina dapat segera memberikan solusi nyata. Mereka meminta adanya penambahan pasokan solar subsidi atau pengaturan distribusi yang lebih baik untuk wilayah Sungai Penuh. Tanpa langkah konkret, para sopir truk yang menjadi tulang punggung distribusi barang akan terus menghadapi situasi tidak menentu di tengah tingginya kebutuhan logistik.
Kondisi ini sekaligus menjadi alarm bagi daerah agar pengawasan dan distribusi BBM bersubsidi diperketat. Sebab, kelancaran distribusi bahan bakar sangat menentukan mobilitas barang yang menopang ekonomi masyarakat. Selama antrean panjang masih terjadi, persoalan serupa akan terus berulang dan menambah beban bagi para sopir yang sehari-hari mengandalkan solar untuk mencari nafkah.
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









