Skema Bagi Hasil Ojol Berubah, GoTo Mulai Kurangi Ketergantungan pada Gojek

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI – Perubahan skema bagi hasil ojek online (ojol) menjadi salah satu tantangan baru bagi bisnis mobilitas PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Di tengah perubahan tersebut, GoTo mulai mengarahkan pertumbuhan bisnisnya agar tidak lagi terlalu bergantung pada layanan Gojek.

Pemerintah telah menerapkan skema bagi hasil baru untuk layanan angkutan roda dua. Berdasarkan ketentuan tersebut, mitra pengemudi memperoleh sekitar 92% dari tarif perjalanan, sedangkan bagian untuk perusahaan aplikasi ditetapkan sebesar 8%.

Kebijakan ini mulai berlaku sejak 1 Juli 2026 dan mengubah struktur komisi yang sebelumnya berada di kisaran 20%.

Perubahan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap ekonomi unit bisnis layanan transportasi online karena ruang pendapatan aplikator dari setiap transaksi menjadi lebih kecil.

Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat GoTo kehilangan sumber pertumbuhan. Perusahaan justru melihat bisnis layanan keuangan digital sebagai salah satu mesin pertumbuhan berikutnya.

GoPay Makin Penting bagi GoTo

Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, mengatakan kontribusi bisnis On-Demand Services (ODS), yang mencakup layanan seperti Gojek, diperkirakan akan menurun dalam komposisi bisnis perseroan.

Sebaliknya, bisnis financial technology (fintech), termasuk layanan yang berkaitan dengan GoPay, diproyeksikan memberikan kontribusi lebih besar.

“Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” kata Hans dalam keterangannya pada Senin, 31 Agustus 2026.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa strategi GoTo mulai bergerak dari ketergantungan terhadap bisnis mobilitas menuju ekosistem digital yang lebih beragam.

Bisnis pembayaran dan layanan keuangan digital dinilai memiliki ruang pertumbuhan tersendiri. Bagi perusahaan, diversifikasi tersebut penting untuk menjaga kinerja ketika perubahan regulasi memberikan tekanan terhadap salah satu lini bisnis utama.

Baca Juga :  HP Non-Lipat Terpuruk, Pasar Lipat Melonjak 29,7% di Tahun 2026

Aturan Komisi Ojol Jadi Perhatian Investor

Perubahan komisi pengemudi juga menjadi perhatian investor karena berkaitan langsung dengan prospek bisnis GOTO.

Dengan potongan aplikator yang lebih rendah, perusahaan harus menyesuaikan strategi operasional dan struktur biaya agar layanan tetap dapat berjalan secara berkelanjutan.

Selain itu, pemerintah masih membahas pengaturan untuk layanan pengantaran makanan dan barang. Artinya, perkembangan regulasi masih menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh GoTo maupun pelaku industri transportasi online lainnya.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah berupaya mencari titik keseimbangan antara kepentingan pengemudi dan keberlangsungan bisnis platform digital.

Dari sisi pemerintah, pengemudi diharapkan memperoleh bagian pendapatan yang lebih adil. Di sisi lain, perusahaan aplikasi tetap membutuhkan margin yang memadai untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan layanan.

Gojek Tak Lagi Menjadi Satu-satunya Andalan

Bagi GoTo, perubahan komisi tersebut membuat diversifikasi bisnis menjadi semakin penting.

Selama ini Gojek menjadi salah satu bagian yang dikenal luas dari ekosistem GoTo. Namun, perusahaan kini memiliki sumber bisnis lain melalui layanan keuangan digital.

Kinerja bisnis fintech yang telah mencatat profitabilitas bahkan disebut mulai memberikan kontribusi lebih besar dibandingkan bisnis ODS.

Kondisi ini dapat mengubah cara investor menilai GoTo. Pertumbuhan jumlah transaksi tidak lagi menjadi satu-satunya indikator yang diperhatikan. Kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan secara konsisten juga menjadi faktor penting.

Baca Juga :  Bunga Deposito BRI, BNI, Mandiri dan BCA Hari Ini 3 September 2026, Mana Paling Tinggi?

Dengan model bisnis yang mencakup mobilitas, pengantaran, pembayaran, dan layanan finansial, GoTo memiliki peluang untuk mengurangi dampak apabila salah satu lini bisnis mengalami tekanan.

Analis: Fundamental GoTo Masih Berpeluang Menguat

Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Aziz, menilai dampak perubahan aturan terhadap saham GOTO kemungkinan tidak berlangsung permanen.

Menurutnya, setelah tekanan teknikal mereda, investor akan kembali melihat kondisi fundamental perusahaan.

GoTo dinilai memiliki keunggulan berupa ekosistem digital yang terintegrasi. Karena itu, ketika kinerja Gojek menghadapi tekanan akibat perubahan regulasi, lini bisnis lain seperti GoPay dapat menjadi penopang.

Fleksibilitas regulasi juga menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberlanjutan model bisnis GoTo.

Apabila kebijakan memberikan ruang bagi perusahaan aplikasi untuk mengatur harga sekaligus menjaga kualitas layanan, GoTo dinilai masih memiliki peluang mempertahankan momentum pertumbuhan profitabilitas.

Target Adjusted EBITDA 2026

Abdul Aziz juga optimistis GoTo dapat mencapai target adjusted EBITDA setahun penuh 2026 di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.

Target tersebut menjadi salah satu indikator yang menarik untuk diperhatikan investor karena menunjukkan fokus perusahaan terhadap peningkatan profitabilitas.

Ke depan, perkembangan saham GOTO tidak hanya akan dipengaruhi kinerja Gojek. Kontribusi GoPay dan bisnis fintech, perkembangan regulasi ojol, pertumbuhan transaksi, serta kemampuan perusahaan mempertahankan profitabilitas akan menjadi faktor penting.

Dengan demikian, perubahan skema bagi hasil ojol justru dapat menjadi momentum bagi GoTo untuk mempercepat diversifikasi bisnis.

Gojek tetap menjadi bagian penting dari ekosistem perusahaan, tetapi kontribusinya diperkirakan tidak lagi menjadi satu-satunya penentu arah kinerja GoTo.

Editor : Dedi Dora

Berita Terkait

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 16 September 2026 Turun Lagi, Cek Antam, UBS, Galeri 24 dan Buyback
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 16 September 2026: 1 Gram Rp2,631 Juta, Cek Buyback
CLARITY Act Gagal di Senat AS, Bitcoin Tertekan Lebih dari 5 Persen
Harga Laptop Diprediksi Naik 2027, Pasar PC Global Anjlok akibat Krisis Chip
Best Accounting Software for Small Business in 2026: Top Options Compared
Telkomsel Perkuat Loyalitas Pelanggan Lewat MAPrivilege, Ada 45 Benefit
The Fed Naikkan Suku Bunga 16 September 2026? Ini Sinyal Terbaru dan Dampaknya ke Rupiah, Emas, Saham
Suku Bunga The Fed 16 September 2026: Diprediksi Naik 25 Bps, Jadi 3,75%-4%
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 09:16 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 16 September 2026 Turun Lagi, Cek Antam, UBS, Galeri 24 dan Buyback

Rabu, 16 September 2026 - 07:41 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 16 September 2026: 1 Gram Rp2,631 Juta, Cek Buyback

Rabu, 16 September 2026 - 07:20 WIB

CLARITY Act Gagal di Senat AS, Bitcoin Tertekan Lebih dari 5 Persen

Rabu, 16 September 2026 - 05:01 WIB

Best Accounting Software for Small Business in 2026: Top Options Compared

Rabu, 16 September 2026 - 04:00 WIB

Telkomsel Perkuat Loyalitas Pelanggan Lewat MAPrivilege, Ada 45 Benefit

Berita Terbaru