JAKARTA-Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk memiliki hunian pada 2026. Dengan harga properti yang terus meningkat, skema cicilan jangka panjang menjadi solusi paling realistis bagi keluarga muda dan pekerja produktif.
Simulasi KPR 2026 menunjukkan bahwa cicilan sangat dipengaruhi oleh suku bunga, tenor, dan besaran uang muka. Bank-bank besar menawarkan variasi bunga tetap di awal tenor sebelum beralih ke bunga mengambang sesuai kondisi pasar.
Sebagai contoh, rumah seharga Rp500 juta dengan uang muka 20 persen dan tenor 20 tahun dapat menghasilkan cicilan mulai dari Rp4 jutaan per bulan, tergantung kebijakan suku bunga masing-masing bank.
Angka ini masih bisa berubah mengikuti arah kebijakan moneter.
Perbankan nasional seperti Bank Central Asia, Bank Mandiri, dan BRI tetap menjadi rujukan utama masyarakat karena stabilitas dan jaringan luas.
Namun, calon debitur perlu memperhatikan kemampuan bayar jangka panjang. Kenaikan suku bunga acuan dapat berdampak langsung pada cicilan setelah masa bunga tetap berakhir.
Bank juga akan menilai riwayat kredit, penghasilan tetap, serta rasio utang sebelum menyetujui pengajuan KPR. Skor kredit yang baik menjadi faktor krusial agar cicilan tetap ringan.
Di sisi lain, pemerintah masih mendorong kepemilikan rumah melalui berbagai skema insentif, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah.
Dengan perencanaan matang dan simulasi yang realistis, KPR tetap menjadi instrumen aman untuk memiliki aset jangka panjang di tengah dinamika ekonomi.(fyo)









