Rupiah Melemah Terancam Tembus Rp17.100, Efek Krisis Energi Global Kian Nyata

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 29 Maret 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada dalam tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pekan depan. Kondisi ini dipengaruhi oleh sentimen global yang belum stabil, terutama akibat krisis energi dan konflik geopolitik yang memanas.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah berpotensi menyentuh level Rp17.100 per dolar AS. Angka tersebut menjadi batas psikologis baru yang mengindikasikan tekanan cukup dalam terhadap mata uang domestik.

Menurutnya, penguatan dolar AS menjadi faktor dominan yang mendorong pelemahan rupiah. Indeks dolar diperkirakan bergerak di kisaran tinggi, sehingga membuat mata uang negara berkembang mengalami tekanan yang cukup signifikan.

Baca Juga :  Syarat dan Cara Daftar KUR Super Mikro BSI Hingga Rp10 Juta

Selain faktor ekonomi, situasi geopolitik juga turut memperburuk kondisi. Ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran pasar global dan meningkatkan ketidakpastian.

Ancaman gangguan distribusi minyak dunia di Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga energi. Jalur ini memiliki peran vital dalam distribusi minyak global, sehingga setiap gangguan berdampak besar terhadap pasar energi.

Kenaikan harga minyak dunia berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia, terutama dari sisi impor energi. Beban impor yang meningkat berpotensi menekan neraca perdagangan dan memperlemah nilai tukar rupiah.

Baca Juga :  IHSG Hari Ini Dibuka Melemah ke 5.884, Saham BBCA, BBRI dan BREN Tekan Bursa

Dalam kondisi seperti ini, investor global cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang lebih aman seperti dolar AS. Hal ini menyebabkan aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menekan rupiah lebih dalam.

Dengan berbagai tekanan tersebut, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam waktu dekat. Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi guna meredam dampak yang lebih luas. (*/Tim)

Berita Terkait

BSU Rp900 Ribu Cair untuk Oktober-Desember 2026, Ini Syarat dan Cara Ceknya
Belanja Pegawai Daerah Tak Wajib 30% pada 2027? Ini Penjelasannya
Batas Penghasilan Tidak Kena Pajak Berpeluang Naik, Ini Penjelasan Pemerintah
BGN Ubah Skema Insentif SPPG, dari Rp6 Juta Jadi Rp2.000 per Porsi
Wall Street Tertekan, Harga Minyak dan Treasury Jadi Sorotan Investor AS, Investor Mulai Waspada
Rincian Gaji Manajer Kopdes 2026: Gaji Pokok, Tunjangan hingga Uang Makan
Kompensasi CEO Tertinggi : Elon Musk Jauh di Atas Bos Perusahaan Lain
Michael Dell Naik Jadi Orang Terkaya Keempat Dunia, Salip Zuckerberg
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 02:00 WIB

BSU Rp900 Ribu Cair untuk Oktober-Desember 2026, Ini Syarat dan Cara Ceknya

Kamis, 1 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Belanja Pegawai Daerah Tak Wajib 30% pada 2027? Ini Penjelasannya

Kamis, 1 Oktober 2026 - 18:00 WIB

Batas Penghasilan Tidak Kena Pajak Berpeluang Naik, Ini Penjelasan Pemerintah

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:00 WIB

BGN Ubah Skema Insentif SPPG, dari Rp6 Juta Jadi Rp2.000 per Porsi

Selasa, 29 September 2026 - 23:32 WIB

Wall Street Tertekan, Harga Minyak dan Treasury Jadi Sorotan Investor AS, Investor Mulai Waspada

Berita Terbaru