Jakarta-Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu, 22 April 2026, di tengah tekanan global yang masih membayangi pasar keuangan. Mata uang Indonesia tersebut berakhir di level Rp17.181 per dolar AS, mencerminkan sentimen negatif yang masih cukup kuat di kalangan investor.
Pelemahan ini setara dengan penurunan sekitar 0,22% dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.143 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah masih sulit keluar dari tekanan eksternal, terutama akibat penguatan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi global.
Sepanjang hari perdagangan, pergerakan mata uang di kawasan Asia terlihat bervariasi. Beberapa negara mengalami tekanan signifikan, sementara lainnya justru mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar AS.
Mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia hari ini adalah rupee India yang terkoreksi sekitar 0,38%. Disusul peso Filipina yang turun 0,31% serta dolar Taiwan yang melemah sekitar 0,12%, menandakan tekanan yang merata di beberapa pasar berkembang.
Sementara itu, ringgit Malaysia juga ikut terkoreksi meski terbatas di kisaran 0,05%. Dolar Hong Kong pun tercatat melemah tipis sekitar 0,02%, menunjukkan bahwa tekanan dolar AS dirasakan hampir di seluruh kawasan.
Di sisi lain, won Korea Selatan justru tampil sebagai mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah naik sekitar 0,36%. Penguatan ini menjadi sinyal adanya aliran dana masuk ke pasar tertentu yang dinilai lebih stabil.
Baht Thailand dan dolar Singapura juga mencatatkan kenaikan masing-masing sekitar 0,24% dan 0,15%. Yen Jepang turut menguat tipis sebesar 0,09%, sementara yuan China bergerak stabil dengan kecenderungan naik sekitar 0,03%.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah dan mata uang Asia saat ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat, inflasi, serta arus modal asing. Investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas pasar yang berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.








