Prabowo Pangkas Anggaran Rp308 Triliun, Ini Dampak Besarnya ke Ekonomi Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 20 Maret 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto resmi mengumumkan kebijakan pemotongan anggaran kementerian dan lembaga sebagai langkah besar menjaga stabilitas fiskal Indonesia. Kebijakan ini langsung menyasar belanja negara yang dinilai tidak efisien dan rawan penyalahgunaan.

Dalam pernyataannya, Prabowo mengungkapkan pemerintah berhasil menghemat hingga Rp308 triliun dari total anggaran negara. Angka fantastis ini berasal dari pemangkasan pengeluaran yang dianggap tidak masuk akal serta tidak berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Menurut Prabowo, jika pemborosan anggaran dibiarkan, maka risiko korupsi akan semakin besar dan berpotensi merugikan keuangan negara dalam jangka panjang. Karena itu, pemerintah mulai melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola belanja di semua sektor.

Baca Juga :  Resmi! 9 Jalan Tol Diskon 30 Persen Saat Mudik Lebaran 2026, Ini Daftarnya

Salah satu sorotan utama adalah tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang mencapai 6,5. Angka ini menunjukkan efisiensi investasi yang masih rendah dibanding negara lain, bahkan diperkirakan terjadi pemborosan hingga 30 persen.

Jika dikalkulasikan, potensi inefisiensi tersebut setara dengan sekitar US$75 miliar dari total APBN yang hampir menyentuh Rp3.700 triliun. Kondisi ini dinilai menjadi alarm serius bagi pengelolaan anggaran nasional.

Pemotongan anggaran difokuskan pada kegiatan non-prioritas seperti acara seremonial, perjalanan dinas, hingga pengadaan barang rutin seperti perlengkapan kantor yang kerap tidak mendesak.

Baca Juga :  Resmi Berlaku PP 11 Tahun 2025, Gaji ASN Naik 8 Persen dan Pensiunan 12 Persen

Selain itu, pemerintah juga mulai mempertimbangkan perubahan sistem kerja aparatur negara, termasuk opsi work from home (WFH) dan pengurangan hari kerja. Negara seperti Filipina dan Pakistan disebut telah lebih dulu menerapkan kebijakan serupa.

Pengalaman saat pandemi COVID-19 juga menjadi acuan bahwa sistem kerja fleksibel mampu meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi produktivitas.

Langkah efisiensi ini diharapkan mampu memperkuat fundamental ekonomi Indonesia, menjaga defisit anggaran tetap terkendali, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global. (*/Tim)

Berita Terkait

Ekuinoks Datang Lagi, Kenapa Cuaca Terasa Lebih Panas? Ini Penjelasannya
Prabowo dan Megawati Bertemu 2 Jam, Bahas Isu Strategis dan Geopolitik
Mulai April 2026, Sekolah Terapkan Pembelajaran Daring dan Hybrid
8 Cara Memasak Rendang Anti Alot, Dijamin Enak dan Empuk
Astronom Arab Ungkap Prediksi Idulfitri 2026, Mayoritas Negara Lebaran 20 Maret
Identitas Terduga Pelaku Air Keras Terungkap, TNI Lanjutkan Proses
2.000 PPPK di Daerah Ini Terancam Dirumahkan Mulai 2027
BMKG & BRIN Prediksi Lebaran 2026 Berpotensi Beda, Ini Tanggal 1 Syawal Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 20 Maret 2026 - 13:00 WIB

Prabowo Pangkas Anggaran Rp308 Triliun, Ini Dampak Besarnya ke Ekonomi Indonesia

Jumat, 20 Maret 2026 - 10:00 WIB

Ekuinoks Datang Lagi, Kenapa Cuaca Terasa Lebih Panas? Ini Penjelasannya

Jumat, 20 Maret 2026 - 08:00 WIB

Prabowo dan Megawati Bertemu 2 Jam, Bahas Isu Strategis dan Geopolitik

Kamis, 19 Maret 2026 - 14:00 WIB

Mulai April 2026, Sekolah Terapkan Pembelajaran Daring dan Hybrid

Kamis, 19 Maret 2026 - 10:05 WIB

8 Cara Memasak Rendang Anti Alot, Dijamin Enak dan Empuk

Berita Terbaru

Oplus_131072

Asuransi Jiwa

Asuransi Murah untuk Mudik Lebaran 2026, BRI Tawarkan Premi Rp50 Ribu

Jumat, 20 Mar 2026 - 15:00 WIB

Internasional

Lewandowski Pecahkan Rekor Messi, Barcelona Hancurkan Newcastle

Jumat, 20 Mar 2026 - 14:00 WIB