Masyarakat Adat 6 Luhah Sungai Penuh Sambut Bambu Karamentang 30 Meter, Simbol Persatuan Jelang Kenduri Sko

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Luhah Dasira mengarak bambu sepanjang 40 meter diiringi Lagu Ala Yamule dalam kemeriahan Kenduri Sko di Sungai Penuh, sebagai simbol persatuan dan pelestarian adat budaya Kerinci.

Warga Luhah Dasira mengarak bambu sepanjang 40 meter diiringi Lagu Ala Yamule dalam kemeriahan Kenduri Sko di Sungai Penuh, sebagai simbol persatuan dan pelestarian adat budaya Kerinci.

SUNGAI PENUH – Suasana haru dan penuh semangat adat mewarnai penyambutan bambu Karamentang sepanjang 30 meter oleh masyarakat Adat 6 Luhah Kota Sungai Penuh. Prosesi yang diiringi lantunan lagu Yamule tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian persiapan Kenduri Sko, tradisi adat terbesar masyarakat Kerinci yang diwariskan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.

Bambu raksasa yang diarak bersama masyarakat itu nantinya akan digunakan sebagai tiang utama Karamentang, simbol kebesaran adat yang memiliki kedudukan sangat penting dalam pelaksanaan Kenduri Sko. Kehadiran Karamentang menandakan bahwa sebuah negeri adat sedang melaksanakan pesta adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus memperkuat persatuan masyarakat.

Bagi masyarakat Kerinci, Karamentang bukan sekadar bambu yang ditegakkan. Karamentang merupakan lambang marwah adat, kehormatan para depati, ninik mamak, pemangku adat, dan seluruh masyarakat yang tergabung dalam wilayah adat. Karena itu, proses pencarian, pengambilan, hingga pendiriannya dilakukan melalui tahapan adat yang sarat nilai budaya dan spiritual.

Yang menarik, Karamentang kali ini dibangun oleh masyarakat 6 Luhah Sungai Penuh, sebuah kesatuan adat yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Kota Sungai Penuh. Dalam struktur adat Kerinci, luhah merupakan wilayah persekutuan adat yang terdiri dari sejumlah kaum, kalbu, dan suku yang memiliki hubungan genealogis serta ikatan sosial budaya yang kuat.

Secara historis, 6 Luhah Sungai Penuh dikenal sebagai pusat perkembangan adat dan pemerintahan tradisional di kawasan Sungai Penuh. Keenam luhah tersebut menjadi pilar utama yang menjaga keberlangsungan hukum adat, penyelesaian sengketa, pengangkatan pemangku adat, hingga pelaksanaan berbagai upacara tradisional yang masih bertahan hingga saat ini.

Baca Juga :  Breaking News: Rumah Semi Permanen Terbakar di Kelurahan Sungai Penuh, Damkar Masih Berjibaku Padamkan Api

Dalam kehidupan masyarakat Kerinci, keberadaan 6 Luhah tidak hanya berfungsi sebagai pembagian wilayah adat, tetapi juga sebagai simbol persatuan. Meskipun terdiri dari berbagai suku dan kelompok keluarga besar, seluruh masyarakat tetap terikat dalam satu nilai kebersamaan yang diwariskan oleh leluhur. Semangat itulah yang tercermin dalam penyambutan bambu Karamentang yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

Tokoh adat menjelaskan bahwa tegaknya Karamentang menjadi tanda bahwa seluruh unsur adat telah bersatu untuk menyukseskan Kenduri Sko. Simbol ini mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga persaudaraan, menghormati adat istiadat, serta mempertahankan identitas budaya Kerinci di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

Selain menjadi lambang persatuan, Karamentang juga berfungsi sebagai penanda resmi dimulainya rangkaian Kenduri Sko. Dalam tradisi Kerinci, Kenduri Sko merupakan upacara adat yang mencakup pengukuhan gelar depati dan pemangku adat, pembersihan pusaka, doa keselamatan negeri, serta ungkapan rasa syukur atas keberkahan yang diberikan Tuhan kepada masyarakat.

Lagu Yamule yang mengiringi arak-arakan bambu Karamentang turut menambah nilai sakral prosesi tersebut. Lagu tradisional itu menjadi simbol kegembiraan sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan adat dan budaya kepada generasi penerus. Kehadirannya selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai kegiatan adat penting di Kerinci.

Bagi masyarakat Adat 6 Luhah Sungai Penuh, Karamentang bukan hanya tiang adat yang menjulang tinggi. Ia merupakan lambang tegaknya marwah negeri, kuatnya persaudaraan, dan kokohnya warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi. Melalui Kenduri Sko, masyarakat berharap nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur tetap hidup dan menjadi pedoman bagi anak cucu di masa mendatang.

Baca Juga :  Wawako Azhar Hamzah Lantik Pejabat Eselon II, III, dan IV, Ini Daftar Pejabat yang Bertahan dan Dinonjobkan

Mengenal 6 Luhah Sungai Penuh

Dalam tradisi adat Sungai Penuh, istilah 6 Luhah merujuk pada enam wilayah persekutuan adat yang menjadi fondasi masyarakat tradisional setempat. Keenam luhah tersebut memiliki struktur kepemimpinan adat masing-masing yang dipimpin oleh depati, ninik mamak, dan pemangku adat. Meskipun memiliki wilayah dan kelompok masyarakat yang berbeda, seluruh luhah terikat dalam satu kesatuan adat yang saling mendukung dalam menjaga tradisi, hukum adat, dan warisan budaya Kerinci.

FAQ

Apa arti Karamentang dalam Kenduri Sko?
Karamentang adalah simbol kebesaran dan kehormatan adat yang ditegakkan sebagai penanda berlangsungnya Kenduri Sko.

Apa yang dimaksud dengan 6 Luhah Sungai Penuh?
6 Luhah adalah enam wilayah persekutuan adat yang menjadi dasar struktur masyarakat adat Sungai Penuh dan memiliki sejarah panjang dalam adat Kerinci.

Mengapa bambu Karamentang harus panjang?
Bambu yang tinggi melambangkan kebesaran adat, persatuan masyarakat, dan penghormatan kepada leluhur.

Apa fungsi Kenduri Sko?
Sebagai upacara adat untuk pengukuhan gelar adat, pembersihan pusaka, syukuran negeri, dan pelestarian budaya.

Mengapa lagu Yamule dinyanyikan saat prosesi adat?
Karena lagu Yamule merupakan bagian dari tradisi budaya Kerinci yang melambangkan penghormatan dan kebersamaan dalam kegiatan adat.

Meta Description:
Masyarakat Adat 6 Luhah Sungai Penuh menyambut bambu Karamentang sepanjang 30 meter untuk Kenduri Sko. Simbol adat ini melambangkan persatuan, marwah negeri, dan warisan budaya Kerinci

Tags:
Karamentang, Kenduri Sko, 6 Luhah Sungai Penuh, Adat Kerinci, Budaya Kerinci, Lagu Yamule, Sungai Penuh, Depati, Ninik Mamak, Tradisi Kerinci

Berita Terkait

Nasib Gaji dan Kontrak PPPK 2026 Masih Menggantung, Pemkot Sungai Penuh Tunggu Keputusan Pemerintah Pusat
Proyek Pengendalian Banjir Batang Merao Dikebut, Selesai Akhir 2026
Tiga Mantan Pejabat Berebut Kursi Ketua Lembaga Adat Pondok Tinggi, Dusun Baru Masih Tunggu Figur Pengganti
Semarak Kenduri Sko Sungai Penuh, Luhah Dasira Arak Bambu Panjang 40 Meter Diiringi Lagu Ala Yamule
PLN Umumkan Padam Listrik 4 Jam di Sungai Penuh dan Kerinci Besok, Cek Daerah Terdampak
Kota Sungai Penuh Raih WTP ke-14 dari BPK RI, Bukti Tata Kelola APBD dan Transparansi Keuangan Daerah Makin Kuat
Wako Alfin Lantik Dewan Pengawas PDAM Tirta Khayangan 2026-2030, Fokus Tingkatkan Layanan Air Bersih dan Tata Kelola
Hindari Kebocoran PAD, DPRD Sarankan Pemkot Sungai Penuh Gunakan EDC dan Virtual Account untuk Retribusi
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 20:06 WIB

Nasib Gaji dan Kontrak PPPK 2026 Masih Menggantung, Pemkot Sungai Penuh Tunggu Keputusan Pemerintah Pusat

Jumat, 12 Juni 2026 - 12:36 WIB

Proyek Pengendalian Banjir Batang Merao Dikebut, Selesai Akhir 2026

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:29 WIB

Tiga Mantan Pejabat Berebut Kursi Ketua Lembaga Adat Pondok Tinggi, Dusun Baru Masih Tunggu Figur Pengganti

Rabu, 10 Juni 2026 - 10:00 WIB

Masyarakat Adat 6 Luhah Sungai Penuh Sambut Bambu Karamentang 30 Meter, Simbol Persatuan Jelang Kenduri Sko

Minggu, 7 Juni 2026 - 15:54 WIB

Semarak Kenduri Sko Sungai Penuh, Luhah Dasira Arak Bambu Panjang 40 Meter Diiringi Lagu Ala Yamule

Berita Terbaru

Kesehatan

Serangan Jantung Saat Tidur Bisa Mematikan, Kenali Gejalanya

Sabtu, 13 Jun 2026 - 18:00 WIB