JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis pada perdagangan Kamis pagi. Saham GOTO, BUMI, dan DEWA masuk jajaran saham yang mencatat kenaikan pada awal perdagangan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 09.02 WIB, IHSG naik 0,07% ke level 5.286,27. Penguatan ini memberikan sinyal positif pada pembukaan pasar, meski investor masih menghadapi sejumlah risiko dari kondisi ekonomi global.
Data perdagangan menunjukkan 340 saham menguat, 140 saham melemah, dan 483 saham bergerak stagnan. Kondisi tersebut memperlihatkan pergerakan pasar yang beragam di tengah upaya IHSG mempertahankan momentum pemulihan.
Saham GOTO, BUMI, dan DEWA Menguat
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) naik 4,17% ke Rp25 pada awal perdagangan. PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menguat 2,36% ke Rp130, sedangkan PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) naik 1,67% ke Rp244.
Penguatan juga terjadi pada sejumlah saham lainnya. Saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik 1,30% ke Rp25.300. Sementara itu, Elang Mahkota Teknologi (EMTK) menguat 1,23% ke Rp328 dan Alamtri Resources Indonesia (ADRO) naik 1,23% ke Rp2.470.
Namun, tidak semua saham bergerak positif. Indosat (ISAT) turun 4,46% ke Rp1.500, Astra International (ASII) melemah 3% ke Rp4.850, dan Solusi Sinergi Digital (WIFI) turun 1,99% ke Rp985.
Saham Bank Central Asia (BBCA) juga terkoreksi 0,95% ke Rp5.225. Selain itu, Bukit Asam (PTBA) turun 0,62% ke Rp3.230, sedangkan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) melemah 0,46% ke Rp430.
Keputusan The Fed Membayangi Pergerakan IHSG
Investor masih mencermati kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed. Dalam laporan yang menjadi acuan pasar pada Kamis, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4,00%.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi membuat risiko kebijakan moneter ketat tetap terbuka. Sikap sebagian pejabat The Fed yang menginginkan kenaikan suku bunga lanjutan juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Kondisi tersebut berpotensi menopang dolar AS dan membatasi aliran modal menuju pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan terhadap rupiah turut menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan investor.
Di sisi lain, pasar saham Indonesia memperoleh sinyal positif dari aktivitas investor asing. Investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp257 miliar di pasar reguler pada Rabu, 28 Oktober 2026. Transaksi ini menjadi pembelian bersih pertama setelah periode tekanan jual sebelumnya.
IHSG Berpeluang Menguat, tetapi Risiko Koreksi Masih Ada
Dari sisi teknikal, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan terbatas selama mampu bertahan di atas area support 5.182–5.118. Namun, peluang pemulihan tersebut belum otomatis menandakan perubahan tren jangka menengah.
IHSG masih berada di bawah indikator moving average 20 pada level 5.731 dan moving average 200 di level 6.899. Kondisi ini menunjukkan tren utama masih menghadapi tekanan bearish.
Indikator MACD juga masih berada di zona negatif. Meski demikian, histogram yang menyusut mengindikasikan tekanan penurunan mulai mereda.
Investor perlu mencermati laporan keuangan emiten kuartal III/2026, perkembangan rupiah, serta arah kebijakan The Fed. Ketiga faktor tersebut dapat memengaruhi pergerakan saham dan menentukan apakah penguatan IHSG mampu bertahan sepanjang perdagangan.
Bagi investor ritel, kenaikan indeks pada pembukaan bukan jaminan bahwa semua saham akan menguat. Memeriksa fundamental emiten, likuiditas saham, valuasi, dan toleransi risiko tetap penting sebelum mengambil keputusan investasi. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









