JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Indeks naik 16,18 poin atau 0,31% ke level 5.282,31, didorong penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat menyentuh level terendah 5.167,33 sebelum berakhir di posisi tertingginya pada penutupan perdagangan. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp9.273,95 triliun.
Meski indeks menguat, tekanan di pasar saham masih terlihat. Sebanyak 272 saham naik, sedangkan 406 saham melemah dan 112 saham bergerak stagnan. Kondisi ini menunjukkan penguatan IHSG belum mencerminkan kenaikan mayoritas saham di bursa.
Saham PT Astra International Tbk. (ASII) menjadi salah satu penopang utama setelah melonjak 7,99% ke Rp5.000 per saham. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga menguat 7,65% ke Rp5.275. Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) naik 3,72% ke Rp3.900.
Penguatan juga terjadi pada saham perbankan lainnya. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik 1,21% ke Rp3.350, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 0,69% ke Rp2.920 per saham.
Sebelumnya, IHSG sempat tertekan hingga menjauhi level psikologis 5.200 pada perdagangan sesi pertama. Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebut pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar turut membebani indeks. Saham BREN turun 6,94%, MORA melemah 6,76%, dan DSSA terkoreksi 6,52%.
Pelaku pasar juga mencermati pergerakan rupiah dan keputusan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat atau The Fed. Rupiah ditutup melemah ke Rp17.184 per dolar AS pada 28 Oktober 2026. Sementara itu, keputusan The Fed menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi sentimen pasar keuangan global.
Di sisi lain, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa BEI menyetujui tiga agenda utama, termasuk perubahan Anggaran Dasar terkait demutualisasi bursa, penggunaan saldo laba ditahan, serta Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan 2027. BEI menargetkan rata-rata nilai transaksi harian Rp21 triliun, pencatatan 905 efek baru, dan laba bersih Rp563,90 miliar pada 2027. Investor tetap perlu mencermati risiko pasar sebelum mengambil keputusan investasi. (Tim)
Editor : FANDA YOSEPHTA









