Jakarta-Pasar keuangan global menantikan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) pada Oktober 2026. Meski diperkirakan menahan suku bunga, pelaku pasar mulai mewaspadai kemungkinan kenaikan pada Desember.
Ekspektasi ini muncul ketika inflasi Amerika Serikat masih berada di atas target bank sentral. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah, pasar saham, dan arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Mengutip laporan Bisnis.com pada Rabu, 28 Oktober 2026, pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga setelah menaikkannya sebesar 25 basis poin pada September. Berdasarkan materi laporan tersebut, peluang kenaikan pada Oktober hanya sekitar 10%. Sementara itu, probabilitas kenaikan pada Desember disebut telah melampaui 80%.
Angka tersebut merupakan ekspektasi pasar, bukan keputusan resmi The Fed. Pelaku pasar masih perlu mencermati data ekonomi terbaru dan pernyataan pejabat bank sentral sebelum mengambil keputusan investasi.
Tekanan inflasi menjadi perhatian utama. Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat pada September 2026 dilaporkan meningkat 3,7% secara tahunan. Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,6%, masih lebih tinggi dibandingkan target The Fed sebesar 2%.
Jika inflasi bertahan tinggi, bank sentral AS berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan memengaruhi aliran investasi global. Namun, pergerakan dolar tetap dipengaruhi faktor lain, termasuk pertumbuhan ekonomi, kondisi pasar tenaga kerja, dan kebijakan bank sentral negara lain.
Bagi Indonesia, arah kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor. Penguatan dolar AS berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah, sedangkan perubahan arus modal asing dapat memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski demikian, dampaknya tidak selalu sama karena kondisi ekonomi domestik dan kinerja emiten juga berperan penting.
Sektor properti dan pembiayaan konsumen di Amerika Serikat juga menghadapi tantangan ketika suku bunga kredit tetap tinggi. Biaya pinjaman yang mahal dapat menekan kemampuan masyarakat membeli rumah, kendaraan, dan menggunakan kredit konsumsi. Situasi ini membuat keputusan The Fed penting bagi pelaku usaha dan investor yang memantau prospek ekonomi global.
Investor sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan perkiraan kenaikan suku bunga. Perhatikan pengumuman resmi The Fed, perkembangan inflasi AS, pergerakan indeks dolar, imbal hasil obligasi pemerintah, serta data nilai tukar rupiah dan IHSG. Kombinasi indikator tersebut dapat membantu memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai risiko pasar menjelang akhir 2026. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









