The Fed Tahan Suku Bunga di 4%, Rupiah Tertekan dan Investor Menanti Keputusan Berikutnya

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Jakarta-Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4% pada Rabu, 28 Oktober 2026, waktu Amerika Serikat. Keputusan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena inflasi AS masih berada di atas target bank sentral.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas. Meski demikian, perekonomian AS menunjukkan ketahanan melalui konsumsi rumah tangga, investasi bisnis, dan aktivitas ekonomi yang kuat.

Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara dengan hasil 10 berbanding 2. Dua pejabat, Lisa D. Cook dan Beth M. Hammack, menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Inflasi AS Masih Menjadi Tantangan

Warsh menilai inflasi masih terlalu tinggi setelah bertahan di atas sasaran 2% selama hampir enam tahun. Karena itu, The Fed membutuhkan lebih banyak data sebelum menentukan langkah kebijakan berikutnya.

Kenaikan harga energi dan sejumlah komoditas turut meningkatkan perhatian terhadap risiko inflasi. The Fed juga ingin memastikan tekanan harga pada sektor tertentu tidak menyebar ke seluruh perekonomian.

Di sisi lain, ekonomi AS masih memperlihatkan daya tahan. Warsh menyebut pertumbuhan produk domestik bruto pada semester pertama 2026 direvisi dari 1,8% menjadi 2,4%.

Konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap kuat pada kuartal III/2026. Investasi bisnis, terutama pada teknologi tinggi, juga menjadi salah satu pendorong aktivitas ekonomi.

Baca Juga :  BI Rate Tetap 5,75 Persen, Ini Dampaknya ke Saham, SBN, K

Pasar Tenaga Kerja dan Kredit Jadi Perhatian

Kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif solid. Tingkat pengangguran tercatat lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya, sementara pertumbuhan tenaga kerja tetap positif.

Namun, kondisi kredit mulai mengetat bagi sebagian rumah tangga dan pelaku usaha sejak keputusan kebijakan pada September 2026. Warsh menilai perkembangan tersebut perlu terus dipantau untuk melihat dampaknya terhadap ekonomi.

The Fed belum memberikan petunjuk pasti mengenai arah suku bunga pada pertemuan berikutnya. Bank sentral akan mempertimbangkan data inflasi, pertumbuhan ekonomi, ketenagakerjaan, dan kondisi keuangan.

Jadwal Rapat FOMC Berubah Mulai 2027

Warsh juga mengumumkan perubahan agenda rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Mulai musim gugur 2027, satu dari delapan rapat tahunan akan difokuskan pada strategi kebijakan moneter.

Pada 2028, The Fed memperkirakan dua rapat membahas strategi, sedangkan enam rapat lainnya berfokus pada keputusan kebijakan.

Perubahan tersebut bertujuan memberi ruang lebih besar bagi pembahasan strategi jangka panjang. Dengan demikian, para pembuat kebijakan dapat mengevaluasi perkembangan ekonomi secara lebih menyeluruh.

Apa Dampaknya bagi Rupiah dan IHSG?

Baca Juga :  Harga Emas Pegadaian Hari Ini 18 September 2026: Antam, UBS dan Galeri 24

Keputusan The Fed menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan pasar keuangan Indonesia. Suku bunga AS yang bertahan tinggi dapat menjaga daya tarik aset berbasis dolar AS dan memengaruhi aliran modal global.

Rupiah juga menghadapi tekanan apabila permintaan dolar meningkat. Namun, pergerakan nilai tukar tetap dipengaruhi faktor lain, termasuk kondisi ekonomi domestik, kebijakan Bank Indonesia, dan sentimen investor.

Sementara itu, IHSG berpotensi bergerak fluktuatif ketika investor menilai prospek suku bunga AS. Saham perbankan, komoditas, dan emiten dengan eksposur terhadap dolar dapat merespons perkembangan tersebut secara berbeda.

Karena itu, investor perlu mencermati data ekonomi terbaru dan pernyataan lanjutan The Fed. Keputusan investasi sebaiknya mempertimbangkan fundamental emiten, toleransi risiko, dan tujuan investasi masing-masing.

The Fed Masih Bergantung pada Data

Keputusan mempertahankan suku bunga belum menjamin pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat. Inflasi yang tinggi dan ekonomi yang kuat membuat ruang penurunan suku bunga tetap bergantung pada perkembangan data berikutnya.

Bagi pasar global, arah kebijakan The Fed masih menjadi salah satu faktor penting menjelang keputusan moneter selanjutnya. Investor Indonesia juga perlu memantau pergerakan rupiah, imbal hasil obligasi AS, dan respons pasar saham domestik. (*)

Editor : FANDA YOSEPHTA

Berita Terkait

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 29 Oktober 2026: Antam Rp2,6 Juta, Cek Tabel UBS dan Galeri 24
Harga Emas Antam di Pegadaian 29 Oktober 2026: 1 Gram Rp2,6 Juta, 100 Gram Tembus Rp254 Juta
Rupiah Tembus Rp18.184 per Dolar AS, BI Intervensi Pasar dan Serap SBN
IHSG Menguat ke 5.282, Saham ASII dan BBCA Melonjak pada Penutupan 28 Oktober 2026
The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga Oktober 2026, Rupiah dan IHSG Jadi Sorotan
Harga Emas Pegadaian 28 Oktober 2026: Antam Rp2,589 Juta, UBS dan Galeri 24 Lebih Murah
Rupiah Hari Ini 28 Oktober 2026 Melemah ke Rp18.156, Pasar Menanti The Fed
Laba Antam Tembus Rp9,66 Triliun hingga September 2026, Naik 46 Persen
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 29 Oktober 2026: Antam Rp2,6 Juta, Cek Tabel UBS dan Galeri 24

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:45 WIB

The Fed Tahan Suku Bunga di 4%, Rupiah Tertekan dan Investor Menanti Keputusan Berikutnya

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:32 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian 29 Oktober 2026: 1 Gram Rp2,6 Juta, 100 Gram Tembus Rp254 Juta

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:33 WIB

Rupiah Tembus Rp18.184 per Dolar AS, BI Intervensi Pasar dan Serap SBN

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:16 WIB

IHSG Menguat ke 5.282, Saham ASII dan BBCA Melonjak pada Penutupan 28 Oktober 2026

Berita Terbaru

Otomotif

7 Merek Ban Motor Terbaik 2026 untuk Harian, Ini Pilihannya

Kamis, 29 Okt 2026 - 08:04 WIB