Jakarta-Harga BBM dari PT Pertamina (Persero) kembali jadi sorotan publik menjelang akhir Maret 2026. Per 25 Maret 2026, harga bahan bakar minyak (BBM) masih mengacu pada penyesuaian awal bulan, namun selisih harga antar daerah kini makin terasa, terutama antara Pulau Jawa dan Sumatera.
Di DKI Jakarta, harga BBM non-subsidi terpantau relatif lebih rendah dibanding daerah lain. Pertamax dijual Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Turbo berada di level Rp13.100 per liter. Untuk sektor diesel, Dexlite dibanderol Rp14.200 per liter dan Pertamina Dex menyentuh Rp14.500 per liter.
Beranjak ke Sumatera Barat, harga BBM terlihat lebih tinggi. Pertamax kini berada di angka Rp12.900 per liter dan Pertamax Turbo menembus Rp13.650 per liter. Sementara itu, Dexlite dijual Rp14.800 per liter dan Pertamina Dex mencapai Rp15.100 per liter, menjadi salah satu yang tertinggi di wilayah Sumatera.
Sementara di Jambi, harga BBM juga mengalami selisih yang cukup signifikan dibanding Jakarta. Pertamax dijual Rp12.600 per liter, Pertamax Turbo Rp13.350 per liter, Dexlite Rp14.500 per liter, dan Pertamina Dex Rp14.800 per liter.
Untuk BBM subsidi, pemerintah masih mempertahankan harga yang sama di seluruh Indonesia. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Kebijakan ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat di tengah fluktuasi harga energi global.
Perbedaan harga BBM antar wilayah dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari biaya distribusi, jarak dari kilang, hingga kebijakan pajak daerah. Hal ini membuat harga di luar Jawa cenderung lebih tinggi dibanding wilayah pusat distribusi seperti Jakarta.
Di sisi lain, pasar global juga ikut memengaruhi potensi perubahan harga BBM ke depan. Fluktuasi harga minyak dunia serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi faktor utama yang terus dipantau oleh Pertamina sebelum melakukan penyesuaian harga berikutnya.
Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau lebih bijak dalam menggunakan BBM. Memilih bahan bakar sesuai spesifikasi kendaraan dan menjaga efisiensi konsumsi menjadi langkah penting untuk menekan pengeluaran di tengah potensi perubahan harga energi yang masih dinamis. (*/Tim)









