Jakarta-Federal Reserve akan merilis FOMC Minutes dari rapat 28–29 Juli 2026 pada Rabu, 19 Agustus 2026. Dokumen tersebut dijadwalkan terbit pukul 14.00 waktu Eastern Daylight Time (EDT), atau Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 01.00 WIB.
FOMC Minutes menjadi perhatian pasar karena memberikan gambaran lebih detail mengenai perdebatan para pejabat Federal Reserve. Investor akan mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga dalam pertemuan berikutnya, terutama setelah keputusan Juli yang cukup terbelah.
Pada rapat 28–29 Juli, Fed mempertahankan target federal funds rate pada 3,50% hingga 3,75%. Keputusan tersebut disahkan dengan suara 9–3. Tiga anggota FOMC menginginkan kenaikan suku bunga 25 basis poin.
Karena itu, bagian terpenting dalam Minutes adalah alasan di balik perbedaan pandangan tersebut. Pasar akan mencermati pembahasan mengenai inflasi, pasar tenaga kerja, risiko ekonomi, serta kemungkinan perubahan kebijakan pada September.
Perhatian terhadap FOMC Minutes semakin besar setelah pasar global menghadapi tekanan baru. Pada 18 Agustus, kenaikan imbal hasil obligasi AS dan ketegangan geopolitik ikut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut membuat investor kembali memperhatikan arah kebijakan The Fed.
Bagi emas, sinyal hawkish dari Minutes berpotensi menjadi tekanan karena dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dan menopang dolar AS. Sebaliknya, sinyal dovish dapat meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Harga emas sendiri telah menguat dan mencapai penutupan futures sekitar US$4.473 pada 17 Agustus.
Bitcoin juga berpotensi bergerak volatil setelah dokumen tersebut diterbitkan. Investor kripto akan mencermati perubahan ekspektasi suku bunga, pergerakan dolar AS, dan imbal hasil Treasury. Jika pasar melihat peluang pelonggaran kebijakan meningkat, aset berisiko seperti Bitcoin dapat memperoleh sentimen positif.
Namun, FOMC Minutes bukan keputusan suku bunga baru. Dokumen tersebut hanya memberikan gambaran mengenai diskusi dalam rapat sebelumnya. Karena itu, investor tetap perlu membandingkannya dengan data inflasi, tenaga kerja, dan indikator ekonomi terbaru sebelum menyimpulkan arah kebijakan Fed. (Tim)
Editor : Fanda Yosephta









