Film Pesta Babi Tuai Polemik, Sutradara Jelaskan Arti Judul dan Pesannya

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 17 Mei 2026 - 04:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HIBURAN – Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjadi perbincangan publik setelah sejumlah kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi terkait film tersebut dikabarkan menghadapi penolakan di sejumlah tempat. Menanggapi polemik yang berkembang, salah satu sutradara film, Cypri Paju Dale, akhirnya memberikan penjelasan mengenai makna judul serta pesan yang ingin disampaikan melalui film tersebut.

Menurut Cypri, penggunaan istilah “kolonialisme” dalam judul film bukan dipilih secara sembarangan. Ia menegaskan bahwa istilah tersebut digunakan sebagai kerangka analisis untuk memahami berbagai persoalan yang terjadi di Papua secara lebih luas dan mendalam.

Dalam pernyataannya yang diunggah melalui media sosial Ekspedisi Indonesia Baru, Cypri menyebut bahwa film dokumenter tersebut disusun berdasarkan penelitian sejarah, antropologi, investigasi jurnalistik, serta analisis kebijakan.

“Barangkali sumber keberatan atas film ini adalah karena di dalamnya kami memakai istilah kolonialisme pada judul dan keseluruhan rangka analisis yang dibangun dalam cerita,” kata Cypri.

Baca Juga :  Yusril Jelaskan Mengapa Febrie Adriansyah Belum Ditahan

Ia menjelaskan bahwa selama ini berbagai istilah seperti konflik, pelanggaran HAM, pembangunan, deforestasi, hingga militerisme dinilai belum cukup menggambarkan kompleksitas situasi yang terjadi di Papua.

Menurutnya, istilah kolonialisme dipakai karena mampu menghubungkan berbagai persoalan tersebut dalam satu rangkaian sistemik yang saling berkaitan.

Cypri juga mengatakan bahwa cara pandang tersebut bukan hal baru bagi sebagian masyarakat Papua. Ia menilai perspektif tersebut telah lama digunakan dalam melihat relasi dan pengalaman masyarakat Papua dengan berbagai kekuatan politik maupun negara.

Selain persoalan istilah, ia mengakui bahwa fakta-fakta yang ditampilkan dalam film kemungkinan dapat memunculkan respons beragam dari masyarakat maupun pemerintah.

Ia menyebut dokumenter tersebut mengajak publik untuk mendiskusikan secara terbuka berbagai pertanyaan terkait kondisi Papua saat ini.

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita diproduksi oleh Ekspedisi Indonesia Baru yang melibatkan sejumlah jurnalis dan pembuat film dokumenter. Film tersebut menyoroti isu masyarakat adat, hak atas tanah, hingga dampak sejumlah proyek pembangunan di Papua.

Baca Juga :  SIPSS Polri 2026 Resmi Dibuka, Cek Syarat, Jurusan, dan Jadwal Seleksinya

Salah satu isu yang banyak mendapat perhatian dalam film tersebut adalah pelaksanaan proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan yang oleh sebagian pihak dinilai memiliki dampak terhadap lingkungan dan masyarakat adat.

Pemerintah Tegaskan Tidak Ada Larangan Nobar

Di sisi lain, Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan untuk melarang kegiatan nobar maupun diskusi film tersebut.

Yusril menyatakan masyarakat dipersilakan menonton dan mendiskusikan isi film secara terbuka selama dilakukan dengan cara yang baik.

Menurutnya, kritik yang muncul melalui karya dokumenter merupakan hal yang wajar dalam ruang demokrasi, meskipun terdapat narasi yang dinilai provokatif.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah dapat menjadikan kritik dalam film sebagai bahan evaluasi terhadap implementasi program di lapangan.

Selain itu, Yusril menegaskan tindakan pembubaran atau pelarangan kegiatan yang terjadi di beberapa lokasi bukan merupakan arahan resmi pemerintah pusat.

Berita Terkait

BSU Rp900 Ribu Cair untuk Oktober-Desember 2026, Ini Syarat dan Cara Ceknya
Belanja Pegawai Daerah Tak Wajib 30% pada 2027? Ini Penjelasannya
Nuzran Joher Putra Sungai Penuh Resmi Dilantik Prabowo sebagai Ketua Ombudsman RI 2026–2031
Gaji Listyo Sigit Jadi KSP 2026 Setara Menteri, Ini Rincian Hak Keuangan dan Fasilitasnya
Jabatan Baru Mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Kini Jadi Kepala Staf Kepresidenan
Reshuffle Kabinet Merah Putih 1 Oktober 2026: Daftar 18 Pejabat yang Resmi Dilantik Prabowo
Batas Penghasilan Tidak Kena Pajak Berpeluang Naik, Ini Penjelasan Pemerintah
Gaji Kapolri Baru Suyudi Ario Seto 2026: Segini Gaji Pokok, Tunjangan dan Fasilitas yang Diterima
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 02:00 WIB

BSU Rp900 Ribu Cair untuk Oktober-Desember 2026, Ini Syarat dan Cara Ceknya

Kamis, 1 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Belanja Pegawai Daerah Tak Wajib 30% pada 2027? Ini Penjelasannya

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Nuzran Joher Putra Sungai Penuh Resmi Dilantik Prabowo sebagai Ketua Ombudsman RI 2026–2031

Kamis, 1 Oktober 2026 - 18:33 WIB

Gaji Listyo Sigit Jadi KSP 2026 Setara Menteri, Ini Rincian Hak Keuangan dan Fasilitasnya

Kamis, 1 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Jabatan Baru Mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Kini Jadi Kepala Staf Kepresidenan

Berita Terbaru