Jakarta – Kabar pengunduran diri Daryono dari jabatan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi perhatian publik. Sosok yang selama ini dikenal aktif menyampaikan analisis kegempaan itu dilaporkan telah mengajukan pensiun dini.
Informasi yang beredar menyebutkan, pengunduran diri tersebut disampaikan kepada pimpinan BMKG pada pertengahan Februari 2026. Langkah itu diambil setelah Daryono mempertimbangkan kondisi kesehatannya yang memerlukan perawatan medis.
Dalam pernyataannya, Daryono menjelaskan bahwa keputusan mundur bukan diambil secara mendadak, melainkan melalui pertimbangan matang. Ia menegaskan komitmennya untuk tetap berkontribusi dalam edukasi kebencanaan meski tidak lagi menjabat struktural.
Selama menjabat, Daryono dikenal sebagai salah satu pejabat BMKG yang kerap hadir di ruang publik melalui konferensi pers, wawancara media, hingga edukasi mitigasi gempa dan tsunami. Gaya komunikasinya yang lugas membuat namanya lekat di kalangan masyarakat.
Ia juga sering mengingatkan bahwa gempa bumi tidak membunuh secara langsung, melainkan dampak dari bangunan yang tidak tahan gempa. Pesan tersebut menjadi salah satu narasi penting dalam upaya meningkatkan kesadaran mitigasi risiko bencana di Indonesia.
Pihak BMKG hingga kini belum memberikan penjelasan rinci mengenai pengganti jabatan Direktur Gempa dan Tsunami. Namun, lembaga tersebut memastikan pelayanan informasi kegempaan dan peringatan dini tsunami tetap berjalan normal.
Pengunduran diri Daryono menandai berakhirnya satu babak penting dalam komunikasi publik kebencanaan di BMKG. Publik berharap pengalaman dan keahliannya tetap dapat dimanfaatkan dalam penguatan literasi kebencanaan nasional. (***)









