EKONOMI – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) resmi memutuskan tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham untuk tahun buku 2025. Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta pada Selasa (23/6/2026).
Manajemen perseroan menjelaskan bahwa seluruh laba bersih akan ditahan dan dialokasikan untuk mendukung strategi pengembangan usaha, terutama percepatan diversifikasi bisnis di luar sektor batu bara.
Fokus Perkuat Ekspansi dan Diversifikasi
Keputusan tidak membagikan dividen diambil sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. BUMI menilai penguatan modal internal lebih penting untuk mendukung ekspansi bisnis dan mengurangi ketergantungan terhadap sektor batu bara.
Langkah ini sejalan dengan tren global yang mendorong perusahaan energi melakukan transformasi bisnis menuju sektor yang lebih berkelanjutan.
Manajemen menyatakan bahwa dana yang tersedia akan digunakan untuk mendukung berbagai program pengembangan usaha yang tengah dipersiapkan perusahaan.
RUPST Setujui Laporan Keuangan 2025
Rapat yang dipimpin Komisaris Utama BUMI, Sharif Cicip Sutardjo, berlangsung dengan kuorum yang memenuhi ketentuan perundang-undangan.
Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui seluruh agenda yang diajukan, termasuk:
- Pengesahan laporan tahunan Direksi.
- Persetujuan laporan keuangan tahun buku 2025.
- Penunjukan auditor eksternal tahun buku 2026.
- Laporan penggunaan dana hasil penerbitan obligasi.
- Perubahan susunan pengurus perusahaan.
BUMI juga memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Kantor Akuntan Publik Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar dan Rekan (RSM Indonesia) atas laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2025.
Dana Obligasi Rp5 Triliun Terealisasi Sesuai Rencana
Selain membahas laporan keuangan, perusahaan juga menyampaikan perkembangan penggunaan dana hasil Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap I hingga V.
Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp5 triliun. Hingga 31 Mei 2026, sisa dana yang belum digunakan tercatat sebesar Rp980,8 miliar.
Manajemen memastikan penggunaan dana tersebut telah sesuai dengan rencana yang tercantum dalam prospektus dan digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional maupun pengembangan usaha perusahaan.
Susunan Pengurus BUMI Mengalami Penyegaran
RUPST dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) juga menyetujui perubahan struktur kepengurusan perusahaan.
Sharif Cicip Sutardjo tetap dipercaya menjabat sebagai Presiden Komisaris sekaligus Komisaris Independen.
Sementara posisi Presiden Direktur masih dijabat oleh Adika Nuraga Bakrie yang akan melanjutkan kepemimpinan operasional perusahaan.
Perubahan struktur tersebut diharapkan dapat memperkuat tata kelola perusahaan serta mendukung implementasi strategi bisnis ke depan.
Saham BUMI Tertekan Aksi Jual Investor Asing
Di tengah keputusan tidak membagikan dividen, pergerakan saham BUMI masih berada dalam tekanan.
Pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi II Selasa (23/6/2026), saham BUMI tercatat berada di level Rp159 per saham atau turun sekitar 1,85 persen dibandingkan harga pembukaan.
Sebelumnya, pada perdagangan Senin (22/6/2026), saham BUMI juga mengalami koreksi sebesar 3,57 persen ke level Rp161 per saham.
Tekanan terhadap saham BUMI terjadi seiring meningkatnya aksi jual investor asing.
Berdasarkan data perdagangan, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) mencapai sekitar Rp553,3 miliar pada saham BUMI sepanjang periode 15 hingga 19 Juni 2026.
Prospek Jangka Panjang Masih Menarik
Meskipun saham mengalami tekanan dalam jangka pendek, sejumlah analis masih melihat prospek BUMI cukup positif.
Diversifikasi bisnis yang tengah dijalankan dinilai dapat menjadi katalis pertumbuhan baru bagi perusahaan di masa depan. Selain itu, posisi BUMI sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia masih menjadi kekuatan utama dalam menjaga kinerja keuangan perusahaan.
Keputusan menahan laba untuk investasi dan ekspansi juga dinilai sebagai langkah strategis yang berpotensi memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dalam jangka panjang.









