Bumi Resources Tahan Laba Bersih 2025, Fokus Diversifikasi Bisnis Non Batu Bara

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 24 Juni 2026 - 00:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) resmi memutuskan tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham untuk tahun buku 2025. Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta pada Selasa (23/6/2026).

Manajemen perseroan menjelaskan bahwa seluruh laba bersih akan ditahan dan dialokasikan untuk mendukung strategi pengembangan usaha, terutama percepatan diversifikasi bisnis di luar sektor batu bara.

Fokus Perkuat Ekspansi dan Diversifikasi

Keputusan tidak membagikan dividen diambil sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. BUMI menilai penguatan modal internal lebih penting untuk mendukung ekspansi bisnis dan mengurangi ketergantungan terhadap sektor batu bara.

Langkah ini sejalan dengan tren global yang mendorong perusahaan energi melakukan transformasi bisnis menuju sektor yang lebih berkelanjutan.

Manajemen menyatakan bahwa dana yang tersedia akan digunakan untuk mendukung berbagai program pengembangan usaha yang tengah dipersiapkan perusahaan.

RUPST Setujui Laporan Keuangan 2025

Rapat yang dipimpin Komisaris Utama BUMI, Sharif Cicip Sutardjo, berlangsung dengan kuorum yang memenuhi ketentuan perundang-undangan.

Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui seluruh agenda yang diajukan, termasuk:

  • Pengesahan laporan tahunan Direksi.
  • Persetujuan laporan keuangan tahun buku 2025.
  • Penunjukan auditor eksternal tahun buku 2026.
  • Laporan penggunaan dana hasil penerbitan obligasi.
  • Perubahan susunan pengurus perusahaan.
Baca Juga :  Promo Top Up DANA Harian Mei 2026, Diskon Game hingga Cashback Besar

BUMI juga memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Kantor Akuntan Publik Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar dan Rekan (RSM Indonesia) atas laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2025.

Dana Obligasi Rp5 Triliun Terealisasi Sesuai Rencana

Selain membahas laporan keuangan, perusahaan juga menyampaikan perkembangan penggunaan dana hasil Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap I hingga V.

Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp5 triliun. Hingga 31 Mei 2026, sisa dana yang belum digunakan tercatat sebesar Rp980,8 miliar.

Manajemen memastikan penggunaan dana tersebut telah sesuai dengan rencana yang tercantum dalam prospektus dan digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional maupun pengembangan usaha perusahaan.

Susunan Pengurus BUMI Mengalami Penyegaran

RUPST dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) juga menyetujui perubahan struktur kepengurusan perusahaan.

Sharif Cicip Sutardjo tetap dipercaya menjabat sebagai Presiden Komisaris sekaligus Komisaris Independen.

Sementara posisi Presiden Direktur masih dijabat oleh Adika Nuraga Bakrie yang akan melanjutkan kepemimpinan operasional perusahaan.

Perubahan struktur tersebut diharapkan dapat memperkuat tata kelola perusahaan serta mendukung implementasi strategi bisnis ke depan.

Saham BUMI Tertekan Aksi Jual Investor Asing

Di tengah keputusan tidak membagikan dividen, pergerakan saham BUMI masih berada dalam tekanan.

Baca Juga :  WFH ASN Tiap Jumat APBN Hemat Rp 6,2 T! Konsumsi BBM Turun hingga Rp 59 T, Ini Dampaknya ke APBN

Pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi II Selasa (23/6/2026), saham BUMI tercatat berada di level Rp159 per saham atau turun sekitar 1,85 persen dibandingkan harga pembukaan.

Sebelumnya, pada perdagangan Senin (22/6/2026), saham BUMI juga mengalami koreksi sebesar 3,57 persen ke level Rp161 per saham.

Tekanan terhadap saham BUMI terjadi seiring meningkatnya aksi jual investor asing.

Berdasarkan data perdagangan, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) mencapai sekitar Rp553,3 miliar pada saham BUMI sepanjang periode 15 hingga 19 Juni 2026.

Prospek Jangka Panjang Masih Menarik

Meskipun saham mengalami tekanan dalam jangka pendek, sejumlah analis masih melihat prospek BUMI cukup positif.

Diversifikasi bisnis yang tengah dijalankan dinilai dapat menjadi katalis pertumbuhan baru bagi perusahaan di masa depan. Selain itu, posisi BUMI sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia masih menjadi kekuatan utama dalam menjaga kinerja keuangan perusahaan.

Keputusan menahan laba untuk investasi dan ekspansi juga dinilai sebagai langkah strategis yang berpotensi memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dalam jangka panjang.

Berita Terkait

Data Desil DTSEN Tidak Sesuai? Begini Cara Mengubahnya Lewat HP
Freeport Investasikan Rp25 Triliun untuk Tambang Kucing Liar, Produksi Ditargetkan 2029
Anak Kurir SPX Express Dapat Beasiswa Kuliah di UI, ITB, dan UNP
Konglomerat Jerman Klaus-Michael Kühne Wafat dan Tak Miliki Anak, Tinggalkan Harta Rp867 Triliun
Cek Bansos September 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya
Kekayaan Fantastis 10 Miliarder Termuda Forbes 400 2026, Ada yang Baru Berusia 30 Tahun
Alasan Pergantian Purbaya dari Menteri Keuangan, Ini Penjelasan Purbaya dan Istana
Dirjen Pajak Minta Mutasi Pejabat Era Purbaya Dibatalkan, Ini Jawaban Menkeu
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 14:00 WIB

Data Desil DTSEN Tidak Sesuai? Begini Cara Mengubahnya Lewat HP

Senin, 21 September 2026 - 10:00 WIB

Freeport Investasikan Rp25 Triliun untuk Tambang Kucing Liar, Produksi Ditargetkan 2029

Minggu, 20 September 2026 - 06:00 WIB

Anak Kurir SPX Express Dapat Beasiswa Kuliah di UI, ITB, dan UNP

Sabtu, 19 September 2026 - 06:02 WIB

Konglomerat Jerman Klaus-Michael Kühne Wafat dan Tak Miliki Anak, Tinggalkan Harta Rp867 Triliun

Jumat, 18 September 2026 - 16:00 WIB

Cek Bansos September 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya

Berita Terbaru