JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menyampaikan informasi terkait 13 segmen megathrust yang tersebar di wilayah Indonesia. Penyampaian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai kondisi geologi Indonesia sekaligus memperkuat upaya mitigasi bencana jangka panjang.
Megathrust merupakan zona pertemuan lempeng tektonik aktif, di mana salah satu lempeng bergerak menunjam ke bawah lempeng lainnya. Proses tersebut menyebabkan akumulasi energi dalam kurun waktu yang sangat panjang. Apabila energi dilepaskan, dapat terjadi gempa bumi berkekuatan besar dan berpotensi memicu tsunami di wilayah pesisir.
BMKG menegaskan bahwa informasi ini disampaikan sebagai bagian dari edukasi kebencanaan, bukan untuk menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Beberapa Segmen Masuk Kategori Seismic Gap
Melalui keterangan yang dibagikan di akun resmi Instagram @infobmkg, BMKG menjelaskan bahwa sejumlah segmen megathrust di Indonesia telah lama tidak mengalami pelepasan energi signifikan. Kondisi tersebut dalam ilmu kebumian dikenal sebagai seismic gap.
Sebagai contoh, Megathrust Selat Sunda tercatat terakhir kali mengalami gempa besar pada abad ke-18. Sementara Megathrust Mentawai–Siberut juga telah ratusan tahun tidak menunjukkan aktivitas gempa besar. Meski demikian, BMKG menekankan bahwa tidak ada metode ilmiah yang dapat memastikan kapan gempa akan terjadi.
Indonesia di Persimpangan Lempeng Dunia
Secara geografis, Indonesia berada di wilayah pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Interaksi ketiganya membentuk jalur subduksi panjang yang memunculkan sejumlah segmen megathrust dari wilayah barat hingga timur Nusantara.
Hingga saat ini, BMKG mencatat terdapat 13 segmen megathrust aktif yang memiliki potensi gempa dengan magnitudo besar, tergantung karakteristik masing-masing zona.
Daftar 13 Segmen Megathrust di Indonesia
Berikut segmen megathrust beserta perkiraan potensi magnitudo maksimumnya:
Aceh–Andaman (M 9,2)
Nias–Simeulue (M 8,7)
Batu (M 7,8)
Mentawai–Siberut (M 8,9)
Mentawai–Pagai (M 8,9)
Enggano (M 8,4)
Selat Sunda (M 8,7)
Jawa Barat–Jawa Tengah (M 8,7)
Jawa Timur (M 8,7)
Sumba (M 8,5)
Sulawesi Utara (M 8,5)
Lempeng Laut Filipina (M 8,2)
Papua (M 8,7)
Fokus pada Kesiapsiagaan
BMKG menekankan bahwa pemetaan dan kajian megathrust menjadi dasar penting dalam:
Penyusunan kebijakan tata ruang wilayah
Penerapan standar bangunan tahan gempa
Penguatan sistem peringatan dini
Peningkatan literasi kebencanaan masyarakat
Dengan langkah mitigasi yang tepat, risiko dampak gempa dapat dikurangi meskipun potensi geologis tetap ada.









