Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan yang belum dicairkan (undisbursed loan) meningkat pada Januari 2026. Nilainya mencapai Rp 2.506,47 triliun atau setara 22,65% dari total plafon kredit yang tersedia.
Angka tersebut naik dibanding Desember 2025 yang tercatat Rp 2.439,2 triliun atau 22,12%. Kenaikan ini menunjukkan masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum dimanfaatkan oleh debitur.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan masih dapat ditingkatkan. Terutama melalui optimalisasi kredit yang sudah disetujui namun belum digunakan.
“Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan perbankan tetap memadai,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (19/2/2026).
Likuiditas perbankan, lanjut Perry, tetap kuat. Hal ini tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,54%.
Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh 13,48% secara tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026.
Secara keseluruhan, kredit perbankan tumbuh 9,96% yoy pada Januari 2026. Realisasi ini lebih tinggi dibanding Desember 2025 yang tumbuh 9,69% yoy.
Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit ditopang kredit investasi yang tumbuh 22,38% yoy. Kredit modal kerja tumbuh 4,13% yoy dan kredit konsumsi naik 6,58% yoy.
BI memprakirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada di kisaran 8-12%. Proyeksi ini didukung peningkatan kegiatan ekonomi dan pelonggaran kebijakan moneter serta makroprudensial.
Di sisi lain, Direktur Utama BRI Hery Gunardi memprediksi pertumbuhan kredit masih berada di level satu digit pada 2026. Menurutnya, permintaan kredit belum sepenuhnya pulih.
“Daya beli belum sepenuhnya pulih dan ekspansi usaha masih selektif. Kita masuk fase normalisasi pertumbuhan kredit,” ujarnya. (***)









