JAMBI – Gubernur Jambi, Al Haris, menegaskan bahwa bonus demografi yang tengah berlangsung di Provinsi Jambi merupakan peluang besar sekaligus tantangan serius bagi keberlanjutan pembangunan daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Tahun 2026 yang digelar di Kantor Gubernur Jambi, Rabu (8/4/2026).
Dalam arahannya, Al Haris menekankan bahwa persoalan kependudukan bukan hanya menjadi tanggung jawab BKKBN, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, sektor swasta hingga masyarakat.
“Isu kependudukan ini sangat luas, mulai dari ibu hamil, stunting, menyusui hingga pengendalian jumlah penduduk. Semua harus kita tangani bersama,” ujarnya.
Bonus Demografi Capai Puncak 2040
Gubernur menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, sebanyak 68,66 persen penduduk Jambi berada pada usia produktif (15–64 tahun). Sementara itu, 25,11 persen merupakan usia anak (0–14 tahun) dan 6,03 persen merupakan lansia.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa Jambi sedang berada dalam fase bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada tahun 2040.
“Ini peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun jika tidak dikelola dengan baik, justru bisa menjadi beban pembangunan,” tegasnya.
Tantangan: Stunting, Urbanisasi hingga Lansia
Al Haris menyoroti sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), distribusi penduduk yang belum merata, hingga laju urbanisasi yang semakin cepat.
Selain itu, angka stunting di Jambi yang mencapai 17,1 persen juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Kenaikan stunting ini harus segera ditangani dengan langkah konkret dan kolaboratif,” ujarnya.
Di sisi lain, peningkatan jumlah penduduk lanjut usia juga menjadi isu yang tidak kalah penting. Dengan persentase lansia mencapai 6,03 persen, Jambi mulai memasuki fase masyarakat menua (aging population).
Gubernur mengungkapkan, masih terdapat lansia yang hidup tanpa dukungan keluarga dan tinggal di rumah tidak layak huni. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah kabupaten/kota untuk melakukan pendataan dan penganggaran yang lebih optimal.
Ancaman Fenomena “Fatherless”
Tak hanya itu, Al Haris juga menyoroti fenomena sosial yang mulai mengemuka, yakni kondisi “fatherless” atau anak yang kehilangan peran figur ayah.
Menurutnya, sekitar 25 persen anak di Jambi berpotensi mengalami kondisi tersebut, yang dapat berdampak pada perkembangan psikologis dan sosial anak.
“Ini harus menjadi perhatian bersama karena bisa memicu berbagai persoalan sosial di masa depan,” katanya.
Tekan AKI dan AKB
Gubernur juga menyinggung angka kematian ibu dan bayi yang masih menjadi pekerjaan rumah. Berdasarkan data, Angka Kematian Bayi (AKB) di Jambi berada di angka 16,99 per 1.000 kelahiran, sementara Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 177 per 100.000 kelahiran.
Ia berharap seluruh tenaga kesehatan, termasuk organisasi profesi seperti Ikatan Bidan Indonesia, dapat terus berperan aktif dalam menekan angka tersebut.
Perkuat Sinergi untuk Masa Depan Jambi
Menutup arahannya, Al Haris mengajak seluruh pihak untuk memperkuat sinergi dalam menjalankan program Bangga Kencana sebagai bagian dari upaya mendukung visi pembangunan daerah.
“Dengan kerja sama yang kuat, kita optimistis berbagai persoalan kependudukan bisa kita atasi dan menjadi kekuatan bagi pembangunan Jambi ke depan,” pungkasnya
Editor : Dedi Dora









