Jakarta-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan mulai bangkit setelah mengalami tekanan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena membuka peluang untuk membeli saham berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau di pasar modal Indonesia.
Sepanjang kuartal pertama 2026, IHSG tercatat mengalami koreksi cukup dalam setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi di kisaran 9.135. Penurunan yang terjadi membawa indeks ke area 6.900-an sebelum akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan secara bertahap.
Pada penutupan perdagangan terakhir, IHSG berada di level 7.091. Meski masih bergerak fluktuatif, posisi ini dinilai lebih stabil dibandingkan titik terendah sebelumnya. Sejumlah analis menyebut level tersebut sebagai area bottom yang berpotensi menjadi titik awal rebound.
Secara historis, koreksi IHSG kali ini mencapai sekitar 23 persen dari puncaknya. Angka tersebut dinilai masih dalam batas normal jika dibandingkan dengan peristiwa pasar sebelumnya seperti gejolak global dan tekanan ekonomi yang pernah terjadi dalam dua dekade terakhir.
Penurunan lebih dalam biasanya hanya terjadi saat krisis besar seperti krisis finansial global atau pandemi. Oleh karena itu, banyak pelaku pasar menilai risiko penurunan lanjutan saat ini relatif terbatas, sementara peluang kenaikan mulai terbuka.
Meski demikian, investor tetap perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Evaluasi terhadap fundamental saham sangat penting, terutama di tengah ketidakpastian global seperti kenaikan harga minyak dan tensi geopolitik yang masih berlangsung.
Selain faktor eksternal, perhatian juga tertuju pada kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi, termasuk defisit fiskal dan reformasi pasar modal. Faktor-faktor ini diyakini akan memengaruhi arah pergerakan IHSG dalam jangka menengah hingga panjang.
Dari sisi teknikal, IHSG diperkirakan masih bergerak dalam rentang support dan resistance tertentu. Namun, jika mampu menembus level atas, peluang penguatan lebih lanjut terbuka lebar, sehingga investor dapat memanfaatkan momentum ini untuk menambah portofolio saham unggulan. (*/Tim)









