JAKARTA – Dua saham sektor batu bara, yakni PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), menjadi sorotan pasar dalam sepekan terakhir. Keduanya mencatatkan aksi beli bersih (net buy) signifikan oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan periode 25–27 Maret 2026, saham AADI mencatat net buy asing sebesar Rp530,4 miliar. Angka tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan saham lainnya dalam periode tersebut.
Sementara itu, saham PTBA menyusul dengan net buy sebesar Rp205,4 miliar. Kinerja positif kedua emiten ini membuatnya dijuluki sebagai “duet maut” penarik dana asing di pasar saham Indonesia.
Tren Investor Asing Masih Fluktuatif
Meski terjadi aksi beli pada saham batu bara, secara keseluruhan investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp22,3 triliun dalam sepekan terakhir di seluruh pasar.
Nilai tersebut dipengaruhi oleh transaksi besar di pasar negosiasi, termasuk aksi crossing saham PT FAP Agri Tbk (FAPA) senilai Rp18,7 triliun.
Secara akumulatif, sepanjang tahun berjalan 2026, investor asing telah mencatatkan net sell sebesar Rp30,8 triliun di BEI.
Kinerja AADI Dorong Optimisme
Kinerja AADI sepanjang 2025 dinilai solid. Perusahaan mencatat volume produksi sebesar 68,7 juta ton dan penjualan 71,9 juta ton, masing-masing tumbuh 4% dan 6% secara tahunan (year on year).
Selain itu, efisiensi juga tercermin dari penurunan biaya tunai (cash cost) hingga 11% berkat perbaikan rasio pengupasan (strip ratio).
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan produksi AADI pada 2026 akan tetap positif, meski bergantung pada persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemerintah.
Dalam skenario dasar, pertumbuhan diperkirakan mencapai 1,9% yang didukung oleh kontribusi sejumlah proyek tambang.
Target Harga Saham Naik
Seiring dengan prospek harga batu bara yang masih kuat, BRI Danareksa Sekuritas menaikkan proyeksi laba AADI untuk periode 2026–2027 sebesar 44% hingga 84%.
Tak hanya itu, target harga saham AADI juga direvisi naik menjadi Rp12.400 per saham, dari sebelumnya Rp9.850. Kenaikan ini dihitung menggunakan metode discounted cash flow (DCF).
Rekomendasi terhadap saham AADI pun tetap berada di level buy, mencerminkan optimisme terhadap kinerja perusahaan ke depan.
Saham Batu Bara Masih Menarik
Kenaikan minat investor terhadap saham batu bara menunjukkan bahwa sektor energi masih menjadi salah satu pilihan utama di tengah dinamika pasar global.
Selain faktor harga komoditas, kinerja fundamental perusahaan dan efisiensi operasional menjadi pertimbangan utama investor dalam menentukan portofolio.
Dengan kondisi ini, saham AADI dan PTBA diperkirakan masih akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam waktu dekat.









