JAKARTA – Pergerakan saham sektor energi, khususnya batu bara, menjadi pusat perhatian investor. Sejumlah emiten mencatatkan penguatan signifikan, di antaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), serta PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
Berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia, saham BUMI memimpin penguatan dengan lonjakan mencapai 8,7% ke level Rp224 pada penutupan sesi pertama. Kinerja positif juga ditunjukkan AADI yang naik 4,29% ke Rp10.950, disusul PTBA yang menguat 6,5% ke Rp3.100, serta ITMG yang naik 6,6% ke posisi Rp29.850.
Selain sektor batu bara, saham tambang emas seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turut mencuri perhatian setelah mencatat kenaikan sekitar 7,3% ke level Rp730.
Didukung Sentimen Global dan Harga Komoditas
Analis pasar menilai penguatan saham-saham tersebut tidak lepas dari faktor eksternal, terutama dinamika harga komoditas global. Kenaikan harga batu bara dan ketidakpastian harga minyak dunia membuat investor kembali melirik sektor energi sebagai instrumen lindung nilai (hedging).
Menurut laporan dari Stockbit Sekuritas, saham berbasis komoditas seperti batu bara dan CPO berpotensi menjadi pilihan menarik di tengah volatilitas pasar. Hal ini sejalan dengan pola historis ketika harga energi meningkat.
Di sisi lain, pergerakan saham emas juga dipengaruhi oleh potensi koreksi harga logam mulia serta arus dana asing terkait penyesuaian indeks global seperti GDX dan GDXJ.
Rekomendasi Analis dan Prospek Emiten
Dari sisi rekomendasi, saham AADI menjadi salah satu favorit analis. BRI Danareksa Sekuritas bahkan menaikkan target harga saham AADI menjadi Rp12.400 dari sebelumnya Rp9.850. Proyeksi ini didasarkan pada potensi peningkatan laba seiring naiknya harga batu bara dalam beberapa waktu ke depan.
Selain itu, proyeksi laba AADI untuk periode 2026–2027 diperkirakan meningkat signifikan hingga 44–84%. Rekomendasi buy pun tetap dipertahankan oleh analis.
Sementara itu, JP Morgan memilih ITMG sebagai saham unggulan di sektor ini, terutama karena potensi pembagian dividen yang menarik. Emiten ini diperkirakan mampu membagikan dividen hingga dua kali dalam setahun, dengan yield yang kompetitif.
Target harga ITMG juga dinaikkan menjadi Rp32.100 dengan rekomendasi overweight, mencerminkan optimisme terhadap kinerja perusahaan ke depan.
Faktor Risiko Tetap Perlu Dicermati
Meski prospeknya terlihat cerah, investor tetap diminta mencermati sejumlah risiko global. Di antaranya perkembangan negosiasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, potensi pelebaran defisit fiskal, tekanan inflasi, serta pergerakan nilai tukar rupiah.
Selain itu, tren penurunan harga minyak dan potensi de-eskalasi konflik global juga dapat memengaruhi sentimen pasar, khususnya pada sektor energi.
Dengan berbagai faktor tersebut, saham batu bara dan energi diperkirakan masih akan menjadi salah satu sektor yang menarik dalam jangka pendek, meskipun volatilitas tetap menjadi tantangan utama bagi pelaku pasar.









