EKONOMI – Pergerakan pasar saham di kawasan Asia menunjukkan tren negatif setelah periode libur panjang Nyepi dan Idulfitri 2026. Tekanan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik yang memanas.
Pengamat ekonomi menilai, pelemahan tersebut berpotensi berdampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ketika kembali dibuka. Menurut Gunawan Benjamin, tekanan eksternal yang terjadi saat ini membuat pasar keuangan regional bergerak serempak di zona merah.
“Jika melihat kinerja bursa Asia pada awal pekan ini, maka IHSG memiliki peluang untuk ikut melemah saat perdagangan dibuka kembali,” ujarnya, Senin (23/3/2026).
Tekanan Global Jadi Faktor Utama
Kondisi pasar yang melemah tidak terlepas dari meningkatnya eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global.
Selain itu, sejumlah indikator ekonomi turut memberikan tekanan tambahan. Kenaikan inflasi di Amerika Serikat serta menguatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor yang mendorong arus modal keluar dari pasar berkembang.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dilaporkan naik hingga sekitar 4,4 persen. Di saat yang sama, indeks dolar AS juga menunjukkan penguatan signifikan, bahkan sempat menembus level psikologis 100.
Harga Energi Melonjak, Pasar Semakin Tertekan
Lonjakan harga energi global turut memperburuk sentimen pasar. Harga minyak mentah dunia masih bertahan di level tinggi seiring konflik yang belum mereda di kawasan Timur Tengah.
Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global, yang pada akhirnya membuat investor cenderung bersikap lebih hati-hati dan mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham.
IHSG dan Rupiah Berisiko Tertekan
Gunawan menambahkan, tekanan tidak hanya berpotensi terjadi pada IHSG, tetapi juga terhadap nilai tukar rupiah. Kedua instrumen ini dinilai rentan terhadap perubahan sentimen global, terutama ketika terjadi penguatan dolar AS.
“IHSG tidak bergerak sendiri. Rupiah juga berpeluang melemah karena tekanan eksternal yang cukup besar,” jelasnya.
Meski demikian, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan global dan data ekonomi terbaru sebelum mengambil keputusan investasi.









