INTERNASIONAL-Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya menanggapi keputusan Pemerintah Amerika Serikat yang resmi mengakhiri keanggotaan mereka pada 22 Januari 2026. Langkah tersebut memicu keprihatinan mendalam dari WHO mengingat AS merupakan negara pendiri sekaligus penyumbang dana terbesar bagi organisasi itu selama puluhan tahun.
Dalam pernyataan resminya, WHO menilai keluarnya AS bukan hanya sebuah keputusan politik, tetapi juga langkah yang berpotensi melemahkan kesiapsiagaan global menghadapi berbagai ancaman kesehatan masyarakat. Organisasi kesehatan dunia itu menyebut AS telah memainkan peran sentral dalam pencapaian-pencapaian besar, mulai dari pemberantasan cacar hingga dukungan terhadap program penanggulangan penyakit menular di berbagai kawasan.
WHO: Keputusan AS Membuat Dunia Kurang Aman
WHO menegaskan bahwa kontribusi AS selama berpuluh tahun tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan organisasi ini menangani wabah-wabah besar, termasuk polio, HIV/AIDS, Ebola, influenza, malaria, hingga penyakit tropis terabaikan. Karena itu, keputusan untuk meninggalkan WHO dipandang sebagai kemunduran besar dalam kerja sama global menghadapi ancaman kesehatan.
Organisasi tersebut juga menepis tuduhan Washington yang menilai WHO tidak menghargai kontribusi AS. Menurut WHO, seluruh negara anggota diperlakukan dengan itikad baik dan penghormatan penuh terhadap kedaulatan nasional masing-masing.
Latar Belakang Keputusan AS Keluar dari WHO
Penarikan diri ini merupakan tindak lanjut dari Perintah Eksekutif 14155 yang ditandatangani Presiden Donald Trump pada 20 Januari 2025, tepat di hari pertama masa jabatannya di periode kedua. Perintah tersebut memulai proses resmi keluar dari WHO, yang menurut aturan organisasi memerlukan masa pemberitahuan selama satu tahun.
Setelah masa pemberitahuan terpenuhi, AS kemudian mengumumkan pengakhiran partisipasi mereka. Bukan hanya keanggotaan, seluruh pendanaan yang selama ini diberikan pemerintah AS kepada WHO turut dihentikan.
Dampak Langsung: Pendanaan Terhenti, Personel Ditarik
Pemerintah AS juga memastikan seluruh personel, kontraktor, dan staf pendukung yang ditempatkan di kantor pusat WHO di Jenewa maupun kantor-kantor regional ditarik pulang. Seluruh bentuk keterlibatan resmi di komite, kelompok kerja teknis, hingga badan kepemimpinan WHO turut dihentikan.
Langkah ini menciptakan kekosongan besar dalam sejumlah program WHO yang selama ini sangat bergantung pada dukungan finansial dan teknis dari AS. Sebagai negara yang pertama bergabung sejak WHO berdiri pada 1948, keluarnya AS dipandang sebagai salah satu peristiwa paling signifikan dalam sejarah organisasi tersebut.
AS: WHO Telah Mencoreng Reputasi Washington
Dalam pernyataannya, Pemerintah AS menyebut bahwa WHO selama ini dianggap tidak proporsional dalam menangani kontribusi Washington. Bahkan, AS menuduh WHO telah “merusak reputasi” dan “menghina” Negeri Paman Sam.
Tuduhan ini segera dibantah WHO yang menyatakan bahwa hubungan dengan AS selalu dijalankan secara profesional. WHO menekankan bahwa mereka tetap menghormati AS sebagai mitra penting, terlepas dari dinamika politik yang berkembang.
Keputusan AS meninggalkan WHO dipastikan akan berdampak jangka panjang terhadap lanskap kesehatan global, mengingat peran negara tersebut dalam pendanaan dan dukungan teknis selama beberapa dekade.









