BI Rate 5,75 Persen, Cadangan Devisa Indonesia Tembus US$146,32 Miliar per September 2026

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 01:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta-Bank Indonesia mempertahankan indikator moneter sebagai salah satu acuan untuk membaca kondisi perekonomian nasional. Data terbaru menunjukkan BI Rate berada di level 5,75 persen pada 23 September 2026.

Selain suku bunga acuan, Bank Indonesia mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 3,19 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) per 31 Agustus 2026.

Angka inflasi tersebut masih berada dalam kisaran target inflasi 2026, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen. Dengan demikian, batas atas target inflasi tahun ini mencapai 3,5 persen.

Baca Juga :  Rupiah tembus Rp17.500 per dolar AS, Pemerintah Siapkan Langkah Darurat Stabilkan Ekonomi

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,32 miliar per 30 September 2026. Posisi ini menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kemampuan Indonesia menghadapi kebutuhan pembayaran internasional.

Cadangan devisa berperan mendukung stabilitas eksternal, termasuk memenuhi kebutuhan transaksi luar negeri dan menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.

Sementara itu, BI Rate memengaruhi biaya pinjaman dan imbal hasil simpanan melalui mekanisme transmisi kebijakan moneter. Perubahan suku bunga acuan dapat memengaruhi keputusan masyarakat dalam menabung, mengambil kredit, dan membelanjakan uang.

Baca Juga :  Rupiah Hari Ini, Jumat 29 Mei 2026 Diprediksi Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Dampak Besarnya bagi Masyarakat

Bagi pelaku usaha dan investor, perkembangan suku bunga, inflasi, serta cadangan devisa perlu dicermati secara bersamaan. Ketiga indikator tersebut memberikan gambaran berbeda mengenai stabilitas harga, kondisi keuangan, dan ketahanan eksternal Indonesia.

Ke depan, perkembangan inflasi, nilai tukar rupiah, serta kebijakan Bank Indonesia akan menjadi perhatian pasar. Namun, arah perekonomian tidak hanya ditentukan oleh indikator moneter, melainkan juga oleh pertumbuhan ekonomi, kondisi perdagangan internasional, dan perkembangan pasar keuangan global. (Tim)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Harga Asuransi Mobil 2026: Cara Menghitung Premi dan Mendapatkan Perlindungan Lebih Murah
Dow Jones Tembus 51.999, Wall Street Menguat 0,73%, Bagaimana Nasib IHSG dan Rupiah?
ASX 200 Today: Australian Shares Slip as BHP and Rio Tinto Sink Nearly 5%
Low Tuck Kwong Borong 100 Juta Saham BYAN Senilai Rp1,12 Triliun, Kepemilikan Naik Jadi 10,25%
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus US$459,3 Miliar pada Agustus 2026, Ini Penjelasan BI
Pertamina Tambah 57,9 Juta Liter BBM ke Bali, 60 SPBU Disiapkan Buka 24 Jam
IHSG Dibuka Anjlok ke 5.900, Saham GOTO Ambles 7,14%, Investor Waspadai Inflasi AS
Harga Emas 1 Gram di Pegadaian Hari Ini, Galeri 24 Lebih Murah dari Antam
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 02:00 WIB

Harga Asuransi Mobil 2026: Cara Menghitung Premi dan Mendapatkan Perlindungan Lebih Murah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 01:00 WIB

BI Rate 5,75 Persen, Cadangan Devisa Indonesia Tembus US$146,32 Miliar per September 2026

Jumat, 16 Oktober 2026 - 00:02 WIB

Dow Jones Tembus 51.999, Wall Street Menguat 0,73%, Bagaimana Nasib IHSG dan Rupiah?

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:00 WIB

Low Tuck Kwong Borong 100 Juta Saham BYAN Senilai Rp1,12 Triliun, Kepemilikan Naik Jadi 10,25%

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus US$459,3 Miliar pada Agustus 2026, Ini Penjelasan BI

Berita Terbaru