JAKARTA — Pasar kredit pemilikan rumah (KPR) Indonesia memasuki fase yang menarik pada 2026. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat outstanding KPR mencapai Rp144,3 triliun hingga Juni 2026, tumbuh 4,8% secara tahunan (YoY).
Angka tersebut menunjukkan pembiayaan rumah masih tumbuh, tetapi lajunya belum terlalu tinggi. Kondisi ini terjadi ketika daya beli masyarakat, tingkat suku bunga, harga rumah, dan kemampuan membayar cicilan menjadi pertimbangan utama calon pembeli.
KPR BCA Tumbuh 4,8%
Berdasarkan laporan kinerja semester I 2026, portofolio KPR BCA mencapai Rp144,3 triliun atau meningkat 4,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara kuartalan, KPR BCA tumbuh sekitar 1,3%, sedangkan secara year-to-date meningkat sekitar 1,8%.
BCA menilai perlambatan pada semester pertama merupakan pola yang cukup lazim. Menurut manajemen, pertumbuhan KPR biasanya kembali meningkat setelah pelaksanaan BCA Expoversary atau Expo KPR pada kuartal II.
Pasar KPR Indonesia Juga Melambat
Perlambatan tidak hanya terjadi pada BCA.
Data Bank Indonesia menunjukkan outstanding KPR perbankan pada Juni 2026 mencapai sekitar Rp852 triliun, tumbuh 4,4% YoY. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Mei 2026 sebesar 4,7%.
Artinya, masyarakat masih membutuhkan pembiayaan rumah, tetapi pertumbuhannya belum secepat yang diharapkan.
Salah satu faktor yang memengaruhi adalah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Selain itu, suku bunga dan kenaikan harga rumah juga dapat membuat calon pembeli lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Kenapa Banyak Orang Masih Menunda Beli Rumah?
Rumah merupakan aset dengan nilai transaksi besar sehingga keputusan pembelian sangat sensitif terhadap kemampuan mencicil.
Ketika bunga kredit tinggi, cicilan bulanan dapat menjadi lebih berat. Di sisi lain, kenaikan harga rumah yang lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan membuat sebagian masyarakat memilih menunda pembelian.
Kondisi tersebut juga membuat bank harus menjaga kualitas kredit sekaligus mencari segmen pertumbuhan baru.
BCA Masih Optimistis di Semester II 2026
Meski pertumbuhan KPR melambat, BCA masih melihat peluang untuk meningkatkan penyaluran kredit perumahan pada semester II.
BCA secara keseluruhan mencatat total kredit mencapai Rp1.036 triliun pada semester I 2026, tumbuh 8% YoY. Bank tersebut juga mempertahankan target pertumbuhan kredit sekitar 8%-10% sampai akhir 2026.
Ini menunjukkan bisnis kredit BCA secara keseluruhan masih ekspansif meskipun segmen konsumer menghadapi tekanan.
Apa Artinya bagi Calon Pembeli Rumah?
Bagi masyarakat yang sedang mempertimbangkan KPR, perlambatan pertumbuhan bukan berarti kesempatan membeli rumah sudah tertutup.
Justru calon debitur perlu lebih cermat membandingkan:
- suku bunga fixed dan floating;
- besarnya uang muka;
- tenor KPR;
- biaya administrasi dan provisi;
- kemampuan membayar cicilan;
- potensi kenaikan cicilan setelah masa fixed berakhir;
- serta harga rumah dibandingkan kemampuan finansial.
BCA sendiri menyediakan informasi KPR seperti suku bunga, tanggal perubahan suku bunga, saldo pokok, sisa tenor, serta tabel angsuran melalui sejumlah kanal layanan nasabah.
Apakah Harga Rumah Akan Turun?
Data KPR yang melambat belum cukup untuk menyimpulkan bahwa harga rumah akan turun.
Permintaan pembiayaan yang lebih lambat bisa menunjukkan calon pembeli semakin berhati-hati, tetapi harga properti juga dipengaruhi oleh lokasi, biaya pembangunan, harga tanah, pasokan rumah, dan kebijakan pemerintah.
Karena itu, calon pembeli sebaiknya tidak hanya menunggu harga turun, tetapi menghitung apakah cicilan rumah tersebut memang sesuai kemampuan keuangan.
Kesimpulan
KPR BCA sebesar Rp144,3 triliun hingga Juni 2026 memperlihatkan bahwa pembiayaan rumah masih memiliki permintaan yang kuat. Namun, pertumbuhan 4,8% YoY menunjukkan pasar tidak sedang mengalami ekspansi yang sangat cepat.
Semester II 2026 menjadi periode penting untuk melihat apakah permintaan KPR kembali menguat setelah aktivitas promosi dan pameran properti meningkat.
Bagi calon pembeli, faktor terpenting bukan hanya “kapan harga rumah turun?”, tetapi juga berapa cicilan yang aman, berapa bunga KPR, dan apakah penghasilan mampu menanggung cicilan dalam jangka panjang.
FAQ
Berapa KPR BCA hingga Juni 2026?
Outstanding KPR BCA mencapai Rp144,3 triliun.
Berapa pertumbuhan KPR BCA?
KPR BCA tumbuh 4,8% secara tahunan hingga Juni 2026.
Apakah pasar KPR Indonesia sedang melambat?
Ya. Outstanding KPR perbankan pada Juni 2026 tumbuh 4,4% YoY, lebih rendah dibandingkan 4,7% pada Mei.
Apakah sekarang waktu yang tepat membeli rumah?
Tidak ada jawaban yang sama untuk semua orang. Calon pembeli perlu menghitung uang muka, cicilan, bunga, tenor, dan kestabilan pendapatan.
Apakah KPR BCA akan kembali tumbuh?
BCA optimistis pertumbuhan KPR dapat menguat pada semester II 2026, antara lain setelah aktivitas Expo KPR pada kuartal II. (*)
Editor : Fanda Yosephta








