SUNGAI PENUH – Pemandangan kontras terlihat di pusat perkantoran eks Bupati Kerinci. Setelah bertahun-tahun Pemkot Sungai Penuh harus menyewa gedung untuk aktivitas pemerintahan, kini situasinya berbalik drastis: kantor berlebih, tapi sebagian justru dibiarkan kosong dan terlantar.
Sejak pengalihan aset gedung dan perkantoran dari Pemkab Kerinci ke Pemkot Sungai Penuh, jumlah kantor di kota ini melonjak signifikan. Namun limpahan itu tak diimbangi pemanfaatan. Beberapa bangunan kini tampak terbengkalai — salah satunya eks kantor Bawaslu Kabupaten Kerinci yang kondisinya memprihatinkan.
Halaman kantor itu sudah dipenuhi semak belukar. Pintu besi yang terkunci rapat tampak ditutup gulma, menandakan betapa lamanya gedung ini tak dihuni. Bangunan yang dulunya aktif kini tak ubahnya rumah kosong yang dibiarkan ditelan waktu.
Oki, warga Sungai Penuh, mengaku prihatin melihat aset daerah dibiarkan tidak terurus. “Sayang sekali, tidak terawat. Halamannya sudah bersemak, dipenuhi tumbuhan liar,” ujar Oki.
Nada serupa disampaikan Andi, warga lainnya. Ia menilai kondisi kantor berlebih ini justru akan semakin banyak setelah rencana penggabungan sejumlah OPD. “Dulu ngontrak, sekarang malah kebanyakan kantor. Setelah aset dialihkan, jumlahnya berlebih. Kita harap ada perawatan atau difungsikan, jangan sampai mubazir,” katanya.
Menurut dia, bangunan yang tidak ditempati akan cepat rusak. Karena itu, ia berharap Pemkot segera mengambil langkah agar gedung-gedung tersebut tidak menjadi “aset tidur” yang hanya menambah biaya perawatan tanpa manfaat. (fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta








