JAKARTA – Kabar baik bagi pengguna bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Pemerintah membuka peluang penurunan harga Pertamax pada Agustus 2026 apabila tren harga minyak dunia terus mengalami pelemahan. Sinyal tersebut disampaikan langsung Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (20/7/2026).
Bahlil menjelaskan pemerintah tengah mengkaji kemungkinan penyesuaian harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax. Pembahasan akan dilakukan bersama PT Pertamina (Persero) dan badan usaha penyedia BBM lainnya. Menurutnya, apabila harga minyak dunia terus menurun, maka harga jual kepada masyarakat juga akan disesuaikan mengikuti perkembangan tersebut.
Meski demikian, pemerintah belum menetapkan besaran maupun tanggal pasti penurunan harga Pertamax. Sebab, harga BBM masih bergantung pada pergerakan Indonesian Crude Price (ICP) yang dalam beberapa pekan terakhir bergerak cukup fluktuatif. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah memilih mengambil kebijakan yang seimbang agar tidak merugikan konsumen maupun pelaku usaha di sektor energi.
Bahlil menegaskan penyesuaian harga harus mempertimbangkan kepentingan masyarakat pengguna BBM nonsubsidi sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan migas. Pemerintah ingin harga BBM tetap kompetitif tanpa mengganggu stabilitas pasokan energi nasional.
Selain membahas harga BBM, Bahlil juga melaporkan kondisi stok energi nasional kepada Presiden Prabowo. Ia memastikan cadangan BBM nasional saat ini berada di atas standar minimum. Pemerintah juga telah mengamankan pasokan minyak mentah melalui kerja sama dengan sejumlah negara sehingga kebutuhan energi dipastikan aman hingga akhir tahun 2026.
Kabar lainnya, pemerintah memastikan tidak ada rencana kenaikan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite maupun Solar subsidi. Bahkan, apabila tren harga minyak dunia terus melemah, beberapa jenis BBM nonsubsidi lainnya juga berpotensi mengalami penyesuaian harga dalam waktu dekat.
Sebagai informasi, Pertamina terakhir melakukan penyesuaian harga BBM pada 1 Juli 2026. Saat itu harga Pertamax tetap bertahan di Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Turbo turun dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter, Dexlite turun dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter, dan Pertamina Dex turun dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter.
Analis energi menilai peluang penurunan harga Pertamax cukup terbuka apabila harga minyak mentah global tetap berada dalam tren turun dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS stabil. Namun apabila terjadi lonjakan harga minyak akibat faktor geopolitik atau gangguan pasokan global, maka evaluasi harga bisa berubah sewaktu-waktu.
Bagi masyarakat, penurunan harga Pertamax tentu akan mengurangi biaya transportasi harian, terutama bagi pengguna kendaraan pribadi dan pelaku usaha yang mengandalkan BBM nonsubsidi. Selain itu, harga BBM yang lebih rendah juga berpotensi membantu menekan biaya distribusi barang sehingga ikut mendukung stabilitas inflasi nasional.
FAQ Harga Pertamax Agustus 2026
Apakah harga Pertamax akan turun pada Agustus 2026?
Pemerintah membuka peluang penurunan harga apabila harga minyak dunia terus melemah. Namun keputusan final masih menunggu hasil evaluasi.
Berapa harga Pertamax saat ini?
Saat ini harga Pertamax masih berada di kisaran Rp16.250 per liter.
Mengapa harga Pertamax bisa turun?
Harga Pertamax mengikuti formula yang dipengaruhi harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, dan biaya distribusi.
Apakah Pertalite ikut turun?
Belum. Pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan, sementara penurunan masih difokuskan pada BBM nonsubsidi.
Kapan pengumuman resmi harga BBM terbaru?
Biasanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi diumumkan menjelang atau pada awal bulan setelah evaluasi pemerintah dan badan usaha penyedia BBM. (Tim)









