EKONOMI-Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebanyak 41,75 persen lanjut usia (lansia) di Indonesia masih berada dalam kelompok rumah tangga dengan pengeluaran 40 persen terbawah. Kondisi ini membuat banyak lansia rentan mengalami kesulitan ekonomi di masa tua.
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, Ph.D., CFP, menilai kondisi tersebut terjadi karena lemahnya sistem perlindungan pensiun di Indonesia. Saat ini, hanya sekitar lima persen lansia yang mampu hidup mandiri dari dana pensiun yang dimiliki.
Menurut Eddy, perlu ada perbaikan serius pada sistem jaminan hari tua agar masyarakat tidak jatuh miskin saat memasuki usia senja.
Potongan Dana Pensiun Dinilai Terlalu Kecil
Saat ini, potongan gaji pekerja untuk jaminan hari tua hanya sebesar 1 persen, ditambah kontribusi perusahaan sekitar 2 persen dari gaji kotor.
Eddy menilai angka tersebut terlalu kecil untuk menjamin kehidupan layak setelah pensiun.
“Angka yang memadai sekitar 14-15 persen dari gaji kotor walau kemungkinan masih pas-pasan di kemudian hari, tetapi tetap lebih baik daripada sistem sekarang,” ujarnya dikutip dari laman resmi UGM, Minggu (14/6/2026).
Ia mengusulkan agar:
- Potongan gaji pekerja dinaikkan menjadi 5-6 persen.
- Kontribusi perusahaan ditingkatkan menjadi 8-9 persen dari gaji kotor.
Dengan skema tersebut, dana pensiun dinilai lebih realistis untuk menopang kebutuhan hidup lansia di masa depan.
Pekerja Informal Disarankan Menabung 10-20 Persen
Selain pekerja formal, Eddy juga menyoroti kondisi pekerja informal dan wirausaha yang tidak memiliki sistem dana pensiun otomatis.
Kelompok ini disarankan memiliki disiplin finansial lebih tinggi dengan menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin.
Ia menyarankan pekerja informal mengalokasikan minimal 10-20 persen pendapatan untuk tabungan hari tua atau investasi jangka panjang.
“Wirausaha dan pekerja informal sebaiknya menyisihkan 10-20 persen untuk tabungan hari tua atau investasi,” katanya.
Strategi Agar Tidak Miskin Saat Lansia
Eddy mengungkap beberapa strategi penting agar masyarakat lebih siap menghadapi masa pensiun, antara lain:
1. Menyiapkan Dana Pensiun Sejak Dini
Semakin cepat memulai tabungan atau investasi, semakin besar dana yang dapat terkumpul saat memasuki usia pensiun.
2. Memiliki Investasi Jangka Panjang
Investasi seperti deposito, emas, reksa dana, maupun properti dapat membantu menjaga kestabilan ekonomi di usia tua.
3. Mengurangi Gaya Hidup Konsumtif
Pengeluaran yang tidak terkontrol dapat menghambat persiapan finansial jangka panjang.
4. Menyiapkan Penghasilan Tambahan
Memiliki usaha sampingan atau aset produktif bisa menjadi sumber pendapatan ketika sudah tidak aktif bekerja.
5. Menjaga Kesehatan
Biaya kesehatan menjadi salah satu pengeluaran terbesar saat lansia. Karena itu, menjaga kesehatan sejak usia produktif sangat penting untuk mengurangi beban finansial di masa tua.
Pemerintah Dinilai Perlu Perkuat Sistem Pensiun
Selain perbaikan dana pensiun, Eddy juga mendorong pemerintah memperbanyak fasilitas perawatan lansia serta memberikan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga rendah bagi pensiunan yang ingin membuka usaha.
Ia juga mengusulkan penghapusan usia pensiun wajib agar masyarakat dapat memilih sendiri kapan ingin berhenti bekerja.
Menurutnya, pembenahan sistem pensiun dapat membantu memutus rantai sandwich generation yang selama ini membebani generasi produktif.
“Apabila kebijakan pemerintah dan perusahaan diperbaiki, itu dapat membantu para pensiunan serta membantu generasi berikutnya,” ujarnya.
FAQ
Mengapa banyak lansia di Indonesia rentan miskin?
Karena rendahnya dana pensiun dan minimnya perlindungan sosial bagi pekerja.
Berapa ideal potongan dana pensiun menurut ekonom UGM?
Sekitar 14-15 persen dari gaji kotor, termasuk kontribusi pekerja dan perusahaan.
Berapa persen pendapatan yang sebaiknya ditabung pekerja informal?
Sekitar 10-20 persen untuk investasi atau tabungan hari tua.
Apa strategi utama agar tidak miskin saat tua?
Menabung sejak dini, berinvestasi, menjaga kesehatan, dan memiliki penghasilan tambahan.
Apa itu sandwich generation?
Kondisi ketika generasi produktif harus menanggung kebutuhan orang tua sekaligus anak-anak mereka.









