JAKARTA – Pasar aset kripto kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Mayoritas mata uang kripto berkapitalisasi besar mengalami koreksi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik global serta keluarnya dana investasi dari produk ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat. Kondisi ini membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Aset kripto terbesar dunia, Bitcoin, tercatat turun sekitar 3,4 persen dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$70.500 hingga US$71.300 per koin. Dengan asumsi kurs rupiah sekitar Rp17.879 per dolar AS, harga Bitcoin berada pada rentang Rp1,24 miliar hingga Rp1,26 miliar per keping.
Tekanan juga terjadi pada sejumlah altcoin utama. Ethereum berada di sekitar US$1.983, sementara BNB diperdagangkan di kisaran US$682. Di sisi lain, Solana dan XRP turut mengalami pelemahan seiring meningkatnya aksi ambil untung di pasar kripto global.
Berikut rangkuman harga aset kripto utama pada 2 Juni 2026:
| Kripto | Harga USD | Perkiraan Harga Rupiah |
|---|---|---|
| Bitcoin (BTC) | US$70.569 | Rp1,26 miliar |
| Ethereum (ETH) | US$1.983 | Rp35,4 juta |
| BNB | US$682 | Rp12,2 juta |
| Solana (SOL) | US$79,65 | Rp1,42 juta |
| XRP | US$1,27 | Rp22.700 |
| Tether (USDT) | US$1,00 | Rp17.860 |
| USDC | US$1,00 | Rp17.880 |
| Dogecoin (DOGE) | US$0,10 | Rp1.775 |
Sentimen negatif utama datang dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah pembatalan kelanjutan pembicaraan gencatan senjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut memicu pola investasi risk-off, di mana investor lebih memilih aset yang dianggap aman seperti emas dan minyak dibandingkan aset berisiko tinggi seperti kripto.
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibebani oleh arus keluar dana (outflow) dari ETF Bitcoin Spot AS. Penarikan dana tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.
Pelaku pasar juga tengah menantikan sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat pada awal Juni, termasuk data ketenagakerjaan JOLTS, inflasi konsumen (CPI), dan inflasi produsen (PPI). Data tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan moneter The Fed sekaligus memengaruhi pergerakan pasar aset digital dalam beberapa pekan ke depan.
Meski sedang mengalami koreksi, sejumlah analis menilai tren jangka panjang Bitcoin masih relatif kuat selama mampu bertahan di atas area psikologis US$70.000. Investor disarankan tetap menerapkan manajemen risiko dan menghindari penggunaan leverage berlebihan di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
FAQ
Apakah Bitcoin masih layak dibeli saat ini?
Bitcoin masih menjadi aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar. Namun investor perlu mempertimbangkan profil risiko dan volatilitas harga sebelum membeli.
Mengapa harga kripto turun hari ini?
Penurunan dipicu kombinasi sentimen geopolitik global, arus keluar dana ETF Bitcoin Spot, dan sikap investor yang menunggu data ekonomi AS.
Berapa harga Bitcoin dalam rupiah hari ini?
Harga Bitcoin berada di kisaran Rp1,24 miliar hingga Rp1,26 miliar per koin.
Apa yang perlu diperhatikan investor minggu ini?
Fokus pasar tertuju pada data ekonomi AS, kebijakan suku bunga The Fed, serta perkembangan situasi geopolitik Timur Tengah. (Tim)
Editor : Fanda Yosephta









