Rupiah Melemah ke Rp17.830, Pemerintah Pastikan APBN Masih Terkendali

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 28 Mei 2026 - 00:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI-Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan menembus level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (27/5/2026). Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi tersebut belum mengguncang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut Purbaya, pemerintah sejak awal telah menyiapkan berbagai simulasi menghadapi tekanan ekonomi global, termasuk kemungkinan lonjakan harga minyak dunia hingga 100 dolar AS per barel.

“Semua sudah kami hitung sejak awal, termasuk asumsi pelemahan rupiah ketika harga minyak global menyentuh 100 dolar AS per barel. Jadi tidak ada kebutuhan menghitung ulang APBN,” ujar Purbaya di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta.


Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Purbaya menilai pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Menurutnya, sejumlah indikator ekonomi domestik masih berada dalam kondisi yang relatif solid sehingga tekanan terhadap rupiah dianggap tidak sepenuhnya wajar.

“Kalau fundamental ekonomi bermasalah, pelemahan rupiah itu wajar. Tapi sekarang kondisi ekonominya justru cukup baik,” katanya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran pasar terhadap volatilitas nilai tukar dan arus modal asing dari negara berkembang.

Baca Juga :  9 Kiai Terpilih Jadi Anggota AHWA Muktamar NU, Bakal Tentukan Ketum PBNU

Pemerintah Lakukan Buyback Obligasi

Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, pemerintah disebut melakukan langkah buyback atau pembelian kembali Surat Berharga Negara (SBN).

Langkah ini dilakukan guna menahan kenaikan yield obligasi agar tetap menarik di mata investor.

“Yield-nya turun karena aksi pemerintah melalui pembelian kembali supaya tetap terkendali,” kata Purbaya.

Pemerintah berharap stabilitas pasar obligasi dapat menjaga kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan Indonesia.


Modal Asing Mulai Kembali Masuk

Menurut Purbaya, strategi pengendalian pasar obligasi mulai menunjukkan hasil positif.

Arus modal asing disebut perlahan kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia karena investor masih melihat kondisi pasar domestik cukup stabil dibanding beberapa negara berkembang lainnya.

Selain itu, pemerintah juga disebut tengah menyiapkan langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tukar rupiah dalam waktu dekat, meski belum dijelaskan secara rinci.


Rupiah Jadi Mata Uang Terlemah di Asia?

Berdasarkan data perdagangan Bloomberg, rupiah berada di level sekitar Rp17.827 hingga Rp17.830 per dolar AS atau melemah sekitar 0,18–0,20 persen dibanding penutupan sebelumnya.

Di saat bersamaan, mayoritas mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS, termasuk:

  • Yuan China
  • Ringgit Malaysia
  • Dolar Singapura
  • Yen Jepang
Baca Juga :  Resmi! Dividen BBRI 2026 Rp346 per Saham, Investor Wajib Catat Tanggal Penting Ini

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah lebih dipicu sentimen domestik dibanding penguatan dolar AS global.

“Investor masih menunggu data penting seperti manufaktur, perdagangan, dan inflasi Indonesia sebagai petunjuk arah suku bunga BI berikutnya,” ujar Lukman.


Proyeksi Rupiah

Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran:

 

Rentang tersebut diperkirakan bertahan selama sentimen global dan domestik belum menunjukkan perubahan signifikan.


FAQ

Kenapa rupiah melemah hingga Rp17.800?

Pelemahan dipengaruhi sentimen pasar dan kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global serta kebijakan domestik.

Apakah APBN terancam?

Pemerintah menyatakan APBN tetap aman karena berbagai skenario pelemahan rupiah sudah dihitung sebelumnya.

Apa langkah pemerintah?

Pemerintah melakukan buyback obligasi dan menyiapkan kebijakan penguatan rupiah.

Apakah investor asing masih masuk?

Ya, pemerintah menyebut modal asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia.

Berapa proyeksi rupiah selanjutnya?

Analis memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Berita Terkait

DJP Beri Diskon Sanksi Pajak hingga 100 Persen, Berlaku sampai 2028: Ini Syarat dan Cara Mengajukannya
Komdigi Atur Tarif Ojol Antar Makanan dan Barang, Ini Perinciannya
BPOM Terbitkan Aturan Baru Kemasan Pangan 2026, Ini Perubahan Pentingnya
Joki Baca Buku Makin Ramai, Tarifnya Tembus Rp 700.000 per Buku
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum untuk Ketahanan Energi
Malaysia Tawarkan Bantuan Karhutla Indonesia, Wakil PM Sebut Belum Ada Respons
Panduan Pencairan JHT Tanpa Resign: Dokumen, Batas Saldo, dan Prosedur
Film Digger Tayang di Indonesia, Tom Cruise Berusaha Selamatkan Dunia
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 23:01 WIB

DJP Beri Diskon Sanksi Pajak hingga 100 Persen, Berlaku sampai 2028: Ini Syarat dan Cara Mengajukannya

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:05 WIB

Komdigi Atur Tarif Ojol Antar Makanan dan Barang, Ini Perinciannya

Selasa, 13 Oktober 2026 - 21:00 WIB

BPOM Terbitkan Aturan Baru Kemasan Pangan 2026, Ini Perubahan Pentingnya

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:00 WIB

Joki Baca Buku Makin Ramai, Tarifnya Tembus Rp 700.000 per Buku

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum untuk Ketahanan Energi

Berita Terbaru