Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, Ini Imbauan Penting dari Kemenkes

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 11 Mei 2026 - 00:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KESEHATAN – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Hantavirus setelah muncul kekhawatiran global terkait wabah virus tersebut di kapal pesiar MV Hondius. Meski demikian, pemerintah menegaskan situasi di Indonesia masih terkendali dan berbeda dengan kasus yang terjadi di luar negeri.

Hantavirus menjadi perhatian dunia setelah insiden di kapal pesiar MV Hondius yang memicu kewaspadaan sejumlah negara. Virus tersebut diketahui berasal dari hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization menyebut penyebaran virus masih dapat dikendalikan melalui langkah kesehatan masyarakat yang ketat.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sebanyak 23 kasus Hantavirus ditemukan sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026. Namun, jenis virus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan yang menyerang penumpang MV Hondius.

Kasus di MV Hondius diketahui berasal dari varian Andes Virus yang menyebabkan penyakit Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi serius yang menyerang paru-paru dengan tingkat kematian mencapai sekitar 60 persen.

Sementara di Indonesia, mayoritas kasus berasal dari varian Seoul Virus yang menyebabkan Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Penyakit ini menyerang ginjal dan memiliki tingkat kematian lebih rendah, yakni sekitar 5 hingga 15 persen.

Baca Juga :  Super Flu Tidak Sama dengan Flu Biasa: Ini Dampaknya pada Pasien Komorbid

Meski tingkat fatalitasnya lebih kecil dibanding HPS, Kemenkes menegaskan masyarakat tetap harus waspada. Dari total 23 kasus yang terdeteksi di Indonesia, tercatat tiga pasien meninggal dunia.

Penularan Hantavirus tipe HFRS di Indonesia umumnya terjadi akibat kontak langsung dengan tikus atau celurut, termasuk paparan urine, air liur, maupun kotoran hewan pengerat tersebut.

Kemenkes Minta Warga Jaga Kebersihan Lingkungan

Kemenkes mengeluarkan sejumlah imbauan penting agar masyarakat terhindar dari risiko penularan Hantavirus. Salah satunya dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar agar tidak menjadi sarang tikus.

Masyarakat juga diminta rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, serta menerapkan etika batuk dan bersin untuk mencegah penyebaran penyakit menular.

Selain itu, warga diimbau untuk menyimpan makanan dan minuman di wadah tertutup guna menghindari kontaminasi dari tikus maupun celurut. Lubang-lubang di rumah juga perlu ditutup agar hewan pengerat tidak masuk ke area tempat tinggal.

Baca Juga :  WHO Ungkap Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar Naik Jadi 13 Orang

Kemenkes turut meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, batuk, hingga sesak napas.

Pemerintah memastikan sistem pemantauan penyakit menular terus dilakukan di berbagai daerah guna mengantisipasi potensi peningkatan kasus.

Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai

Gejala awal Hantavirus umumnya menyerupai flu biasa. Namun dalam beberapa kasus, kondisi dapat berkembang menjadi lebih serius.

Berikut beberapa gejala yang perlu diwaspadai:

  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot dan tubuh lemas
  • Mual atau gangguan pencernaan
  • Batuk dan sesak napas
  • Gangguan fungsi ginjal

Jika mengalami gejala tersebut, terutama setelah kontak dengan tikus atau berada di lingkungan yang kotor, masyarakat disarankan segera mendapatkan penanganan medis.

Pemerintah Pastikan Situasi Terkendali

Meski muncul kekhawatiran global, pemerintah menegaskan kondisi di Indonesia masih dalam pengawasan dan belum ditemukan lonjakan kasus baru secara signifikan.

Kemenkes mengajak masyarakat tetap tenang namun tidak lengah terhadap potensi penularan penyakit yang berasal dari hewan pengerat tersebut.

Berita Terkait

Iuran BPJS Kesehatan 2027 Tak Naik? Ini Penjelasan Menkes dan Menkeu
Kota Sungai Penuh Bangun Gedung KJSU-KIA Senilai Rp14,2 Miliar di RSUD Mayjen H.A. Thalib, Layanan Jantung hingga NICU Makin Lengkap
Sri Kartini Alfin Jadi Ujung Tombak Pemberantasan Stunting di Kota Sungai Penuh
Kelas 1, 2, 3 Resmi Dihapus, Ini Besaran Iuran BPJS Kesehatan Selama Masa Transisi
Daftar Lengkap Batas Kolesterol Normal, Cara Menjaga, hingga Rekomendasi Penanganannya
8 Makanan Pencegah Stroke yang Direkomendasikan Dokter, Bantu Turunkan Kolesterol dan Tekanan Darah
Siloam Siapkan Investasi Rp1 Triliun untuk Bedah Robotik, Target Kurangi Pasien Berobat ke Luar Negeri
Biaya Operasi Tanpa BPJS Bisa Berapa? Ini Komponen Biaya yang Perlu Disiapkan
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Iuran BPJS Kesehatan 2027 Tak Naik? Ini Penjelasan Menkes dan Menkeu

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:02 WIB

Kota Sungai Penuh Bangun Gedung KJSU-KIA Senilai Rp14,2 Miliar di RSUD Mayjen H.A. Thalib, Layanan Jantung hingga NICU Makin Lengkap

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:27 WIB

Sri Kartini Alfin Jadi Ujung Tombak Pemberantasan Stunting di Kota Sungai Penuh

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:06 WIB

Kelas 1, 2, 3 Resmi Dihapus, Ini Besaran Iuran BPJS Kesehatan Selama Masa Transisi

Minggu, 26 Juli 2026 - 02:00 WIB

Daftar Lengkap Batas Kolesterol Normal, Cara Menjaga, hingga Rekomendasi Penanganannya

Berita Terbaru

Internasional

Ronaldo Cetak Rekor Baru

Minggu, 23 Agu 2026 - 08:00 WIB