5 Sektor Bisnis Berkelanjutan yang Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi RI, Ada Energi hingga Teknologi

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 26 Agustus 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Arah ekonomi Indonesia mulai memasuki fase baru. Keberlanjutan tidak lagi sekadar menjadi isu lingkungan, tetapi semakin dipandang sebagai strategi bisnis yang berhubungan langsung dengan investasi, daya saing, ketahanan usaha, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Riset Bank DBS Indonesia mengidentifikasi lima sektor strategis yang berpotensi menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi berkelanjutan Indonesia, yakni energi dan infrastruktur, teknologi serta telekomunikasi, pangan dan agribisnis, kesehatan dan farmasi, serta logam dan pertambangan.

Riset tersebut melihat perubahan pola bisnis dari pendekatan yang sekadar memenuhi aturan atau compliance-driven menuju strategi keberlanjutan yang menjadi bagian dari bisnis inti.

1. Energi Terbarukan dan Infrastruktur

Kebutuhan energi Indonesia diperkirakan meningkat signifikan seiring pertumbuhan kendaraan listrik, hilirisasi mineral, pusat data, kecerdasan buatan atau AI, hingga elektrifikasi rumah tangga.

DBS memproyeksikan konsumsi listrik Indonesia yang berada di kisaran 300 TWh pada 2024 dapat meningkat menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060.

Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 GW, tetapi pemanfaatannya masih sangat rendah.

Kondisi tersebut membuka peluang investasi pada pembangkit energi surya, penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS), modernisasi jaringan listrik, serta elektrifikasi sektor industri.

Tantangan utama yang perlu diselesaikan antara lain keterbatasan transmisi dan kemampuan proyek untuk memenuhi persyaratan pembiayaan atau bankability.

2. Teknologi, Media dan Telekomunikasi

Sektor teknologi dan telekomunikasi juga mengalami perubahan. Pertumbuhan tidak lagi hanya mengandalkan konektivitas, tetapi mulai bergeser menuju layanan digital bernilai tambah.

Pertumbuhan sektor telekomunikasi berbasis konektivitas tercatat melambat dari sekitar 9,69% pada 2015 menjadi 7,14% pada kuartal I 2026.

Namun, ekonomi digital Indonesia terus berkembang. Nilai gross merchandise value atau GMV ekonomi digital diperkirakan mencapai sekitar US$99 miliar pada 2025.

Perkembangan AI kemudian menciptakan kebutuhan baru terhadap komputasi awan, keamanan siber, dan pusat data.

Salah satu peluang yang dinilai menarik adalah pengembangan green data center, terutama karena kebutuhan komputasi AI membutuhkan infrastruktur digital dengan konsumsi energi yang semakin besar.

Bagi investor, perkembangan tersebut membuat sektor data center, cloud, cybersecurity, dan infrastruktur digital layak masuk radar, meski tetap perlu memperhatikan valuasi, belanja modal, arus kas, serta prospek pertumbuhan masing-masing perusahaan.

3. Pangan dan Agribisnis

Sektor pangan menghadapi tantangan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga ketahanan pangan.

Perubahan strategi mulai terlihat dari ekspansi lahan menuju peningkatan hasil produksi, efisiensi rantai pasok, teknologi pertanian, dan praktik yang lebih berkelanjutan.

Indonesia merupakan salah satu pemain terbesar industri sawit global. Karena itu, peluang pertumbuhan berikutnya tidak hanya berasal dari pembukaan lahan baru, tetapi juga replanting, peningkatan produktivitas, sertifikasi, teknologi pertanian, cold chain, traceability, dan pupuk organik.

Baca Juga :  Utang Pinjol Tembus Rp101 Triliun di 2026, OJK Peringatkan Risiko Kredit Macet Meningkat

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga berpotensi menciptakan permintaan baru di sepanjang rantai pasok pangan, termasuk sektor perunggasan dan pembibitan.

4. Kesehatan dan Farmasi

Sektor kesehatan dan farmasi menjadi area strategis lainnya.

Salah satu persoalan yang masih dihadapi Indonesia adalah ketergantungan terhadap impor bahan baku obat atau active pharmaceutical ingredients (API).

DBS mencatat sekitar 90% API Indonesia masih berasal dari impor, dengan China dan India menjadi sumber utama.

Situasi tersebut sekaligus menciptakan peluang pengembangan industri farmasi domestik.

Peluang dapat muncul melalui lokalisasi bahan baku secara selektif, pembangunan fasilitas manufaktur, diversifikasi pemasok, hingga penguatan rantai pasok industri kesehatan.

Dari sisi akses kesehatan, cakupan kepesertaan BPJS Kesehatan juga telah mencapai sekitar 98,6% populasi. Namun, tantangan lain adalah akses terhadap obat inovatif dan pembiayaan layanan kesehatan.

5. Logam dan Pertambangan

Sektor logam dan pertambangan menjadi bagian penting dalam strategi hilirisasi Indonesia.

Indonesia memiliki posisi kuat dalam rantai pasok nikel global dan menjadi salah satu pemain penting industri baja.

Namun, keberlanjutan menjadi tantangan yang semakin besar karena kebutuhan pasar global terhadap produk dengan jejak karbon lebih rendah.

DBS mencatat sebagian besar listrik yang digunakan dalam pemrosesan nikel masih berasal dari pembangkit listrik captive berbasis batu bara.

Karena itu, peluang pertumbuhan ke depan tidak hanya terletak pada peningkatan volume produksi.

Potensi value creation justru dapat berkembang pada komponen baterai, BESS, daur ulang baterai, serta produk logam rendah karbon.

Perubahan regulasi global, termasuk standar terkait emisi karbon dan baterai, juga dapat meningkatkan tekanan terhadap produsen Indonesia untuk memperbaiki jejak lingkungan produknya.

Keberlanjutan Mulai Menjadi Strategi Investasi

Director of Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin menilai perusahaan membutuhkan perspektif jangka panjang dalam menghadapi perubahan lanskap bisnis.

Menurutnya, keberlanjutan semakin berkaitan dengan ketahanan bisnis, daya saing, dan penciptaan nilai.

Artinya, tren sustainable business tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan. Perubahan tersebut dapat memengaruhi keputusan investasi, pembiayaan proyek, strategi perusahaan, hingga prospek industri dalam beberapa tahun mendatang.

Bagi investor pasar modal, perkembangan ini juga membuka peluang untuk mengamati perusahaan yang memiliki eksposur terhadap energi terbarukan, infrastruktur digital, agritech, kesehatan, hilirisasi mineral, dan teknologi rendah karbon.

Namun, investor tetap perlu melakukan analisis fundamental. Tema keberlanjutan tidak otomatis membuat seluruh saham dalam sektor tersebut menarik.

Baca Juga :  Google Rilis Fitur Anti Penipuan AI, Pengguna Android Kini Lebih Aman dari Telepon Scam Deepfake

Sektor Mana yang Paling Menarik?

Dari lima sektor tersebut, energi terbarukan dan infrastruktur digital memiliki peluang pertumbuhan yang sangat terkait dengan peningkatan kebutuhan listrik dan transformasi digital.

Sementara itu, logam dan pertambangan memiliki posisi strategis karena berkaitan dengan kendaraan listrik dan rantai pasok baterai.

Pangan dan kesehatan memiliki karakter yang berbeda karena lebih berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat dan ketahanan nasional.

Dengan demikian, peluang investasi ke depan kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan pendapatan perusahaan, tetapi juga kemampuan perusahaan beradaptasi dengan perubahan regulasi, teknologi, biaya energi, kebutuhan pembiayaan, dan standar keberlanjutan global.

Kesimpulan

Riset Bank DBS Indonesia menunjukkan bahwa transformasi menuju ekonomi berkelanjutan dapat menciptakan peluang baru bagi Indonesia.

Lima sektor yang patut diperhatikan adalah energi dan infrastruktur, teknologi dan telekomunikasi, pangan dan agribisnis, kesehatan dan farmasi, serta logam dan pertambangan.

Bagi dunia usaha dan investor, perubahan tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru. Namun, pemilihan investasi tetap membutuhkan analisis terhadap fundamental perusahaan, valuasi, risiko industri, serta prospek jangka panjang.

FAQ

Apa saja lima sektor bisnis berkelanjutan yang berpotensi mendorong ekonomi Indonesia?

Lima sektor tersebut adalah energi dan infrastruktur, teknologi-media-telekomunikasi, pangan dan agribisnis, kesehatan dan farmasi, serta logam dan pertambangan.

Mengapa energi terbarukan menjadi sektor penting?

Kebutuhan listrik Indonesia diperkirakan meningkat tajam hingga 2060, sementara potensi energi terbarukan Indonesia sangat besar. Hal ini membuka peluang pada pembangkit energi bersih, penyimpanan energi dan modernisasi jaringan listrik.

Apa peluang investasi dari perkembangan AI?

Pertumbuhan AI dapat meningkatkan kebutuhan terhadap data center, cloud computing, keamanan siber, dan infrastruktur digital. Green data center juga berpotensi menjadi salah satu area pertumbuhan.

Mengapa industri farmasi Indonesia perlu diperkuat?

Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku obat. Pengembangan manufaktur domestik dan diversifikasi pemasok dapat memperkuat ketahanan industri kesehatan.

Apakah sektor pertambangan masih memiliki peluang?

Masih. Namun peluang pertumbuhan semakin bergeser dari sekadar meningkatkan produksi menuju hilirisasi, komponen baterai, penyimpanan energi, daur ulang, dan produk logam rendah karbon.

Apakah lima sektor tersebut otomatis menjadi rekomendasi saham?

Tidak. Tema sektor dapat menjadi bahan pertimbangan, tetapi keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada fundamental perusahaan, valuasi, prospek laba, arus kas, utang, serta risiko masing-masing emiten.

Catatan: Artikel ini merupakan pengolahan ulang berbasis materi riset yang diberikan dan bukan rekomendasi pembelian atau penjualan saham tertentu. (*)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Harga Emas Naik atau Turun Besok? Ini Pengaruh PCE AS dan Suku Bunga The Fed
Harga Emas Antam Hari Ini 26 Agustus 2026 di Logam Mulia : Harga 1 Gram Tembus Rp2,75 Juta, Cek Lengkap Semua Ukuran
Kurs Dolar AS di BCA, Bank Mandiri, BRI & BNI Hari Ini Rabu 26 Agustus 2026
Kurs Dolar ke Rupiah Hari Ini 26 Agustus 2026: USD/IDR Tembus Rp17.723, Rupiah Tertekan?
Kurs Dollar ke Rupiah Hari Ini 26 Agustus 2026: USD Menguat atau Melemah?
NVIDIA Earnings 26 Agustus 2026: Prediksi Laporan Keuangan, Saham NVDA dan Prospek AI
Suku Bunga Fed Hari Ini 26 Agustus 2026: Tetap 3,50%-3,75%, Pasar Menunggu Sinyal September
Laba Bersih Bank DBS Indonesia Tembus Rp945,70 Miliar pada Semester I 2026, Kredit Melonjak 24,44%
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 21:36 WIB

Harga Emas Naik atau Turun Besok? Ini Pengaruh PCE AS dan Suku Bunga The Fed

Rabu, 26 Agustus 2026 - 21:00 WIB

5 Sektor Bisnis Berkelanjutan yang Bisa Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi RI, Ada Energi hingga Teknologi

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:55 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 26 Agustus 2026 di Logam Mulia : Harga 1 Gram Tembus Rp2,75 Juta, Cek Lengkap Semua Ukuran

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:19 WIB

Kurs Dolar AS di BCA, Bank Mandiri, BRI & BNI Hari Ini Rabu 26 Agustus 2026

Rabu, 26 Agustus 2026 - 09:43 WIB

Kurs Dolar ke Rupiah Hari Ini 26 Agustus 2026: USD/IDR Tembus Rp17.723, Rupiah Tertekan?

Berita Terbaru

Uncategorized

Target Dividen BUMN 2026, Danantara Pilih Reinvestasi 5-10 Tahun

Rabu, 26 Agu 2026 - 19:01 WIB