Jakarta – Tekanan biaya hidup yang terus meningkat menjadi tantangan utama masyarakat Indonesia sepanjang 2026. Hasil survei terbaru yang dirilis oleh menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh warga Indonesia merasakan dampak langsung dari kenaikan harga kebutuhan sehari-hari yang semakin membebani kondisi keuangan rumah tangga.
Temuan tersebut berasal dari studi Financial Resilience Index 2026 yang dilakukan terhadap 1.000 responden berusia di atas 18 tahun di berbagai wilayah Indonesia. Hasilnya menunjukkan hanya 14 persen responden yang merasa sangat aman secara finansial. Angka ini menggambarkan bahwa mayoritas masyarakat masih menghadapi ketidakpastian ekonomi di tengah kenaikan harga barang dan jasa yang terus berlangsung.
Tidak hanya itu, survei juga menemukan bahwa hanya 45 persen masyarakat yang mengaku mampu bertahan lebih dari enam bulan apabila kehilangan sumber penghasilan utama. Kondisi ini menunjukkan pentingnya dana darurat, tabungan, investasi, serta perlindungan keuangan yang memadai untuk menghadapi berbagai risiko ekonomi di masa depan.
Tekanan biaya hidup juga memengaruhi pola pengelolaan keuangan masyarakat. Sebanyak 48 persen responden mengaku belum memiliki perencanaan keuangan jangka panjang atau hanya merencanakan kebutuhan finansial dalam waktu kurang dari satu tahun. Akibatnya, fokus utama sebagian besar masyarakat saat ini adalah memenuhi kebutuhan harian dibandingkan mempersiapkan tujuan keuangan jangka panjang.
Dalam survei tersebut, sebanyak 56 persen responden menyebut pengelolaan pengeluaran sehari-hari sebagai prioritas utama selama 12 bulan mendatang. Prioritas ini bahkan lebih tinggi dibandingkan menabung, berinvestasi, membeli asuransi, atau mempersiapkan dana pensiun. Fenomena ini mencerminkan bagaimana kenaikan biaya hidup memaksa masyarakat mengubah strategi keuangannya.
Ketika menghadapi tekanan ekonomi, banyak keluarga memilih solusi jangka pendek. Sebanyak 23 persen responden menggunakan tabungan yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, 26 persen lainnya mengurangi atau menunda pengeluaran penting, dan lima persen mengaku menunda kontribusi dana pensiun demi menjaga arus kas rumah tangga tetap stabil.
Meski demikian, laporan tersebut juga mencatat adanya sedikit peningkatan ketahanan finansial masyarakat. Kelompok yang tergolong sangat tangguh secara finansial meningkat dari 30 persen menjadi 34 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun peningkatan ini belum merata karena jumlah masyarakat dengan ketahanan finansial rendah juga bertambah akibat melemahnya kelompok kelas menengah.
Direktur Utama Albertus Wiroyo mengatakan bahwa masyarakat saat ini menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan kebutuhan finansial jangka pendek dengan tujuan keuangan jangka panjang. Menurutnya, kesiapan finansial menjadi fondasi utama dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga di tengah perubahan kondisi ekonomi yang cepat.
Survei juga menunjukkan bahwa literasi keuangan memiliki peran penting dalam meningkatkan kepercayaan diri masyarakat dalam mengambil keputusan finansial. Individu yang memiliki pemahaman keuangan yang baik tercatat tiga kali lebih siap menghadapi kenaikan biaya hidup dibandingkan mereka yang memiliki tingkat literasi rendah. Mereka juga lebih optimistis terhadap kondisi keuangan masa depan dan lebih siap menghadapi keadaan darurat.
Menariknya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai menjadi sumber informasi finansial baru bagi masyarakat. Sebanyak 68 persen responden mengaku menggunakan teknologi generative AI untuk mencari panduan mengenai investasi, pengelolaan uang, hingga perencanaan keuangan. Bahkan 67 persen responden memperkirakan penggunaan AI untuk kebutuhan keuangan akan terus meningkat dalam satu tahun ke depan.
Namun demikian, penggunaan AI dinilai belum bisa sepenuhnya menggantikan peran penasihat keuangan profesional. Teknologi hanya menjadi alat bantu, sementara keputusan finansial penting tetap membutuhkan pemahaman mendalam dan pertimbangan yang matang agar tujuan keuangan jangka panjang dapat tercapai secara optimal.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa di tengah meningkatnya biaya hidup, masyarakat perlu memperkuat dana darurat, meningkatkan literasi keuangan, serta menyusun strategi investasi dan perlindungan keuangan yang tepat agar mampu menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang mungkin muncul di masa depan.
FAQ
Mengapa biaya hidup semakin terasa berat pada 2026?
Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, energi, pendidikan, dan layanan lainnya menjadi faktor utama yang meningkatkan pengeluaran rumah tangga.
Berapa persen masyarakat Indonesia yang merasa tertekan oleh biaya hidup?
Survei menunjukkan sekitar 80 persen masyarakat Indonesia merasakan tekanan akibat kenaikan biaya hidup.
Apakah masyarakat Indonesia sudah memiliki dana darurat yang cukup?
Belum sepenuhnya. Hanya 45 persen responden yang mengaku mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan.
Mengapa literasi keuangan penting?
Literasi keuangan membantu masyarakat mengelola uang, menyusun anggaran, menabung, berinvestasi, dan menghindari risiko finansial yang tidak perlu.
Bagaimana AI membantu perencanaan keuangan?
AI dapat membantu mencari informasi tentang investasi, tabungan, asuransi, hingga strategi pengelolaan keuangan secara cepat dan praktis. Tim









