JAKARTA – Pelaku pasar global memasuki pekan yang penuh kehati-hatian menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28–29 Juli 2026. Mayoritas analis memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menahan suku bunga pada pertemuan kali ini. Namun, pasar tetap mewaspadai nada pernyataan yang lebih hawkish karena inflasi AS masih berada di atas target dan konflik geopolitik berpotensi mendorong kenaikan harga energi.
Ketidakpastian tersebut membuat investor mengurangi aset berisiko dan memilih menunggu hasil rapat The Fed. Di Indonesia, sentimen ini diperkuat oleh pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia sehingga pasar domestik diperkirakan masih bergerak volatil dalam jangka pendek.
Nilai tukar rupiah diperkirakan tetap berada dalam tekanan. Analis memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS selama pasar menunggu arah kebijakan The Fed. Jika bank sentral AS memberikan sinyal kenaikan suku bunga pada September, dolar AS berpotensi menguat sehingga tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam pola wait and see. Pengamat pasar memperkirakan IHSG memiliki area support di sekitar 6.060 dan resistance di kisaran 6.300. Selama tidak ada kejutan dari The Fed, pelemahan yang terjadi diperkirakan masih berupa koreksi wajar.
Pasar emas juga menjadi perhatian. Jika The Fed mempertahankan suku bunga tetapi tetap bernada hawkish, harga emas berpotensi bergerak terbatas karena imbal hasil obligasi AS masih relatif tinggi. Sebaliknya, apabila The Fed memberi sinyal pelonggaran kebijakan pada pertemuan mendatang, logam mulia berpeluang kembali menguat.
Aset kripto seperti Bitcoin diperkirakan mengalami volatilitas tinggi menjelang dan sesaat setelah pengumuman The Fed. Investor umumnya mengurangi posisi spekulatif sebelum keputusan diumumkan, kemudian kembali masuk setelah arah kebijakan menjadi lebih jelas. Kondisi ini dapat memicu pergerakan harga yang tajam dalam waktu singkat.
Sementara itu, Bank Indonesia diperkirakan tetap fokus menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valas dan optimalisasi instrumen moneter. Kebijakan tersebut diharapkan mampu meredam tekanan eksternal sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.
Secara keseluruhan, skenario dasar pasar saat ini masih mengarah pada The Fed mempertahankan suku bunga. Namun, pernyataan Ketua The Fed setelah rapat akan menjadi penentu utama arah pergerakan dolar AS, rupiah, IHSG, emas, obligasi, hingga aset kripto dalam beberapa pekan ke depan. Investor disarankan mencermati setiap sinyal kebijakan karena perubahan ekspektasi suku bunga dapat memicu volatilitas yang lebih tinggi.
FAQ: Prediksi Pasar Menjelang Keputusan The Fed
1. Apa itu The Fed?
The Fed atau Federal Reserve adalah bank sentral Amerika Serikat yang bertugas mengatur kebijakan moneter, termasuk menetapkan suku bunga acuan.
2. Kapan The Fed mengumumkan keputusan suku bunga?
Keputusan suku bunga diumumkan setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Jadwalnya telah ditetapkan dan menjadi perhatian pelaku pasar global.
3. Mengapa keputusan The Fed penting bagi Indonesia?
Kebijakan The Fed memengaruhi nilai tukar rupiah, IHSG, harga emas, obligasi, dan arus modal asing yang masuk ke pasar Indonesia.
4. Bagaimana dampaknya jika The Fed mempertahankan suku bunga?
Jika sesuai ekspektasi pasar, volatilitas bisa mereda. Namun, pernyataan The Fed tetap menjadi faktor penentu arah pasar selanjutnya.
5. Apa yang terjadi jika The Fed menaikkan suku bunga?
Dolar AS berpotensi menguat, rupiah bisa tertekan, IHSG berisiko melemah, dan dana asing dapat keluar dari pasar negara berkembang.
6. Bagaimana pengaruh keputusan The Fed terhadap harga emas?
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan harga emas. Sebaliknya, peluang penurunan suku bunga dapat mendorong harga emas naik.
7. Apakah Bitcoin ikut terdampak?
Ya. Bitcoin dan aset kripto lainnya cenderung lebih volatil menjelang dan setelah keputusan The Fed karena dipengaruhi sentimen likuiditas global.
8. Apa yang sebaiknya dilakukan investor?
Investor disarankan tidak terburu-buru mengambil keputusan, memantau hasil rapat FOMC, dan menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing.
9. Apakah rupiah akan melemah setelah keputusan The Fed?
Belum tentu. Pergerakan rupiah bergantung pada isi keputusan, pernyataan Ketua The Fed, kondisi ekonomi global, serta respons Bank Indonesia.
10. Sektor apa yang paling sensitif terhadap kebijakan The Fed?
Sektor perbankan, properti, teknologi, komoditas, serta pasar obligasi dan valuta asing biasanya paling cepat merespons perubahan kebijakan suku bunga The Fed. (Tim)









