Suku Bunga Tinggi Masih Bertahan, Daya Beli Global Tertekan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 6 Januari 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

JAKARTA- Suku bunga tinggi yang masih bertahan di berbagai negara menjadi faktor utama tekanan terhadap daya beli global. Kebijakan moneter ketat yang diterapkan bank sentral bertujuan menahan inflasi, namun di sisi lain berdampak langsung pada konsumsi masyarakat.

Kondisi ini membuat biaya pinjaman tetap tinggi, baik untuk konsumsi maupun investasi. Rumah tangga cenderung menahan belanja besar karena cicilan yang mahal, sementara pelaku usaha menunda ekspansi akibat beban bunga yang meningkat.

Di negara maju, tekanan suku bunga mulai terasa pada sektor properti dan ritel. Penjualan melambat seiring berkurangnya kemampuan beli konsumen. Situasi serupa juga mulai terlihat di negara berkembang.

Baca Juga :  Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS! Ini Penyebab Utamanya yang Bikin Pasar Deg-Degan

Indonesia tidak sepenuhnya terlepas dari dampak tersebut. Meski konsumsi domestik masih menjadi penopang, tekanan biaya hidup dan bunga kredit memengaruhi pola belanja masyarakat.
Pelaku usaha di sektor riil merespons dengan strategi efisiensi dan penyesuaian harga.

Fokus diarahkan pada menjaga volume penjualan dan arus kas di tengah permintaan yang lebih selektif.
Bagi pasar keuangan, suku bunga tinggi menciptakan volatilitas.

Baca Juga :  IMF Peringatkan Perlambatan Ekonomi Global 2026, Apa Artinya bagi Asia Tenggara

Investor menimbang ulang risiko dan imbal hasil, terutama pada sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan.
Pemerintah di berbagai negara dihadapkan pada dilema menjaga stabilitas harga sekaligus mendorong pertumbuhan.

Kebijakan fiskal menjadi alat penting untuk menahan dampak negatif pada daya beli.

Ke depan, arah suku bunga global akan sangat menentukan pemulihan konsumsi. Selama suku bunga tinggi bertahan, tekanan terhadap daya beli global diperkirakan masih berlanjut.

Berita Terkait

Telkomsel meluncurkan Halo Optima dengan kuota hingga 2.000 GB
Morgan Stanley Genggam 7,59 Persen Saham GOTO Setelah Tambah 21,92 Miliar Saham
Pemerintah Siapkan Rekening Otomatis untuk Warga Usia 17 Tahun, Ada Saldo Rp50 Ribu
Purbaya Buka Opsi Ubah Batas Omzet UMKM Bebas PPh, Ini Penjelasannya
5 Direktur Baru Bank BTN 2026, Ada Eks Pejabat WIKA dan yang Termuda 43 Tahun
KAI Group Buka Rekrutmen 2026 untuk Lulusan SMA-S1, Ini Cara Daftar
Cara Menurunkan Desil Lewat HP September 2026, Cek DTSEN dan Bansos
Harga BBM Hari Ini 3 September 2026 di Jambi, Sumbar dan Riau: Pertamax, Pertalite hingga Dexlite
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 12:00 WIB

Telkomsel meluncurkan Halo Optima dengan kuota hingga 2.000 GB

Kamis, 10 September 2026 - 06:10 WIB

Morgan Stanley Genggam 7,59 Persen Saham GOTO Setelah Tambah 21,92 Miliar Saham

Kamis, 10 September 2026 - 05:00 WIB

Pemerintah Siapkan Rekening Otomatis untuk Warga Usia 17 Tahun, Ada Saldo Rp50 Ribu

Minggu, 6 September 2026 - 12:00 WIB

Purbaya Buka Opsi Ubah Batas Omzet UMKM Bebas PPh, Ini Penjelasannya

Minggu, 6 September 2026 - 10:00 WIB

5 Direktur Baru Bank BTN 2026, Ada Eks Pejabat WIKA dan yang Termuda 43 Tahun

Berita Terbaru