Saham BBCA Anjlok ke Level Terendah 3 Tahun, Ini Penyebabnya

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 25 April 2026 - 04:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS – Saham BBCA milik PT Bank Central Asia Tbk kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (24/4/2026). Pada sesi I sekitar pukul 09.08 WIB, harga saham turun 1,56% ke level Rp6.325, bahkan sempat menyentuh Rp6.300 yang menjadi titik terendah dalam tiga tahun terakhir.

Volume transaksi tercatat mencapai 34,48 juta saham dengan frekuensi lebih dari 11 ribu kali dan nilai transaksi sekitar Rp220 miliar. Tekanan jual yang tinggi menjadi salah satu faktor utama pelemahan ini.

Aksi Jual Asing Tekan Saham BBCA

Data dari Stockbit menunjukkan bahwa saham BBCA mengalami net sell sebesar Rp91,6 miliar, tertinggi dibandingkan saham lainnya pada periode yang sama. Tren ini melanjutkan tekanan dalam beberapa hari terakhir, di mana investor asing juga mencatatkan aksi jual signifikan.

Tekanan jual tersebut terjadi seiring dengan pelemahan IHSG yang turut berada di zona merah.

IHSG Melemah, Sentimen Global Jadi Pemicu

Berdasarkan analisis Phintraco Sekuritas, IHSG diperkirakan masih melanjutkan tren pelemahan dengan rentang pergerakan di level resistance 7.500, pivot 7.400, dan support 7.300.

Baca Juga :  IHSG Melonjak Dekati 6.000! Saham BBCA, BMRI hingga BREN Kompak Terbang Usai BI Rate Naik

Secara teknikal, IHSG telah menembus level support penting, didukung oleh volume perdagangan yang meningkat. Indikator teknikal seperti MACD menunjukkan potensi death cross, sementara stochastic RSI mengarah turun.

Salah satu sentimen negatif utama berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.300 per dolar AS, menjadi level terburuk sepanjang sejarah.

Faktor Global: Harga Minyak dan Geopolitik

Tekanan terhadap pasar juga dipicu oleh ketidakpastian global, termasuk isu penutupan jalur strategis energi di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap inflasi serta potensi pelebaran defisit anggaran, yang pada akhirnya berdampak pada sentimen investor di pasar saham.

Kinerja Keuangan BBCA Masih Solid

Di tengah tekanan harga saham, kinerja fundamental BBCA masih tergolong stabil. Berdasarkan laporan Stockbit Sekuritas, laba bersih BBCA pada kuartal I 2026 mencapai Rp14,7 triliun atau tumbuh sekitar 4% secara tahunan.

Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pendapatan non-bunga (non-interest income) sebesar 16%, terutama dari sektor biaya dan komisi.

Baca Juga :  Indeks High Dividend 20 Menguat 4,93% Sejak Awal Tahun, Saham Royal Dividen Dinilai Menarik

Namun demikian, tekanan tetap terlihat pada pendapatan bunga bersih (net interest income) yang cenderung stagnan akibat penurunan asset yield.

Risiko Kredit dan Prospek 2026

Manajemen BBCA juga mengantisipasi potensi risiko ke depan dengan meningkatkan pencadangan (provisi), yang naik 23% secara tahunan. Hal ini berdampak pada kenaikan cost of credit menjadi 0,6%.

Dalam skenario terburuk, seperti lonjakan harga minyak hingga US$150 per barel dan pelemahan rupiah ke kisaran Rp18.000–Rp19.000 per dolar AS, pertumbuhan kredit diperkirakan melambat.

Rasio kredit bermasalah (NPL) juga berpotensi meningkat ke kisaran 3–3,2%, dari posisi saat ini sekitar 1,8%.

Investor Diminta Waspada

Dengan berbagai tekanan baik dari faktor global maupun domestik, analis menyarankan investor untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, terutama di tengah volatilitas pasar yang tinggi.

Meski secara fundamental BBCA masih kuat, pergerakan harga saham dalam jangka pendek tetap sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan arus dana asing.

Berita Terkait

OJK Ungkap Hasil Audit Forensik Bank Jambi Sudah Keluar
BI Rate Naik ke 5,50 Persen, Segini Tambahan Cicilan KPR per Bulan
Harga BBM Pertamina Terbaru di Jambi Juni 2026, Pertamax Tembus Rp16.650 per Liter
Livin’ by Mandiri Tembus 40,3 Juta Pengguna, Nilai Transaksi Capai Rp2.083 Triliun
Pelaku UMKM Wajib Tahu! PPh Final 0,5 Persen Masih Berlaku, Begini Cara Menghitung dan Membayarnya
Rupiah Menguat ke Rp17.708 per Dolar AS, Ini Dampaknya bagi Kredit, Investasi, dan Harga Barang Impor
Pengganti LPG Mulai Disiapkan, RI Bakal Pakai CNG 3 Kg
Banyak yang Belum Tahu, Ini Alasan Sertifikat Tanah Harus Diperbarui
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 03:09 WIB

OJK Ungkap Hasil Audit Forensik Bank Jambi Sudah Keluar

Selasa, 16 Juni 2026 - 02:00 WIB

BI Rate Naik ke 5,50 Persen, Segini Tambahan Cicilan KPR per Bulan

Senin, 15 Juni 2026 - 21:00 WIB

Livin’ by Mandiri Tembus 40,3 Juta Pengguna, Nilai Transaksi Capai Rp2.083 Triliun

Senin, 15 Juni 2026 - 20:04 WIB

Pelaku UMKM Wajib Tahu! PPh Final 0,5 Persen Masih Berlaku, Begini Cara Menghitung dan Membayarnya

Senin, 15 Juni 2026 - 17:44 WIB

Rupiah Menguat ke Rp17.708 per Dolar AS, Ini Dampaknya bagi Kredit, Investasi, dan Harga Barang Impor

Berita Terbaru

Ekonomi

OJK Ungkap Hasil Audit Forensik Bank Jambi Sudah Keluar

Selasa, 16 Jun 2026 - 03:09 WIB