KAYONEWS-Panen kayu manis tak bisa dilakukan sembarangan. Di sentra produksi seperti Kerinci dan Sumatera Barat, petani umumnya memanen saat pohon berumur 6–12 tahun, terutama menjelang akhir musim hujan. Waktu ini dinilai ideal karena kadar air stabil sehingga kulit lebih mudah dikupas dan dikeringkan.
Tanda pohon siap panen relatif mudah dikenali. Daun sudah hijau tua pekat, kulit batang mudah terkelupas, dan getah mengalir saat digores. Jika daun masih kemerahan atau pucuk terlihat muda, panen sebaiknya ditunda karena kulit cenderung tipis dan aroma belum optimal.
Proses panen dimulai dari pemilihan cabang atau batang berdiameter sekitar 3–5 cm. Setelah ditebang dengan alat tajam, kulit segera disayat vertikal sepanjang 30–50 cm lalu dikupas perlahan. Pengupasan yang rapi penting untuk menjaga permukaan kulit tetap halus dan bernilai jual tinggi.
Tahap berikutnya adalah pengeringan. Kulit kayu manis dijemur di rak bambu atau para-para selama 4–5 hari di tempat teduh dengan sirkulasi udara baik. Sinar matahari langsung sebaiknya dihindari agar warna dan kandungan minyak atsiri tetap terjaga.
Petani juga diingatkan untuk menghindari panen saat hujan deras. Kelembapan berlebih meningkatkan risiko jamur dan menurunkan mutu. Waktu terbaik panen biasanya pagi atau sore hari ketika suhu tidak terlalu ekstrem.
Menurut pedoman budidaya perkebunan, kesalahan waktu panen dapat menyebabkan kulit mudah patah, retak, atau aromanya cepat memudar. Karena itu, kombinasi umur tanaman, kondisi daun, dan teknik pengeringan menjadi kunci hasil berkualitas.
Kayu manis Indonesia dikenal di pasar global berkat karakter kulit tebal dan wangi khas. Dengan teknik panen yang tepat, petani bisa menjaga kualitas sekaligus meningkatkan nilai jual komoditas rempah unggulan ini. (***)









