KAYONEWS-Fenomena matahari tengah malam membuat wilayah seperti Norwegia, Finlandia, dan Islandia mengalami siang hampir 24 jam saat musim panas. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: bagaimana pola tidur warga ketika malam nyaris tanpa gelap?
Secara alami, tubuh manusia mengikuti ritme sirkadian yang dipengaruhi cahaya.
Paparan sinar matahari terus-menerus dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk. Namun, masyarakat di negara-negara Nordik telah beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Salah satu strategi utama adalah penggunaan blackout curtains atau tirai gelap total. Tirai ini dirancang untuk menghalangi cahaya luar sehingga kamar tetap gelap meskipun matahari masih bersinar di luar.
Selain itu, warga cenderung mempertahankan jadwal tidur yang konsisten. Jam biologis tetap dijaga melalui rutinitas harian, seperti waktu tidur dan bangun yang teratur, terlepas dari kondisi terang di luar.
Sebagian masyarakat juga mengandalkan sleep mask dan mengurangi paparan cahaya biru dari perangkat elektronik sebelum tidur. Kebiasaan ini membantu tubuh memasuki fase istirahat lebih cepat.
Di Finlandia, budaya sauna turut berperan dalam kualitas tidur. Banyak warga memanfaatkan sauna di malam hari untuk relaksasi, yang dipercaya membantu tubuh lebih siap untuk tidur nyenyak.
Meski matahari bersinar lebih lama, aktivitas sehari-hari umumnya tetap berjalan normal. Sekolah, perkantoran, dan layanan publik tidak mengubah jam operasional secara ekstrem.
Fenomena ini menunjukkan kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan ekstrem. Dengan kombinasi teknologi sederhana dan disiplin rutinitas, warga di negara tanpa malam tetap dapat menjaga kualitas tidur mereka. (***)









