KAYONEWS-Industri durian Malaysia tengah menghadapi tekanan serius menyusul perubahan pola permintaan dari pasar China yang kini lebih mengutamakan durian segar dibanding produk beku. Kondisi ini memicu penumpukan hasil panen di tingkat petani karena tidak semua durian memenuhi standar ketat ekspor, sehingga banyak buah tak terserap pasar internasional.
Permintaan durian dari China sejatinya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama untuk varietas premium seperti Musang King. Namun, preferensi terhadap durian segar dengan kualitas tinggi membuat hanya sebagian kecil produksi Malaysia yang dapat lolos seleksi ekspor. Akibatnya, durian yang tidak memenuhi kriteria tersebut membanjiri pasar domestik.
Surplus pasokan ini berdampak langsung pada harga jual di dalam negeri. Petani mengeluhkan penurunan harga yang tajam, bahkan untuk varietas yang sebelumnya tergolong premium. Dalam beberapa kasus, harga jual tidak lagi menutup biaya perawatan kebun, panen, dan distribusi, sehingga margin keuntungan petani tergerus signifikan.
Masalah utama yang dihadapi petani adalah ketidaksiapan sebagian kebun dalam memenuhi standar ekspor durian segar. Banyak kebun baru di Malaysia masih menghasilkan buah dengan kualitas yang belum stabil, baik dari segi ukuran, tingkat kematangan, maupun konsistensi rasa. Hal ini membuat durian tersebut ditolak untuk pasar ekspor.
Selain kualitas, keterbatasan rantai dingin dan logistik juga menjadi kendala. Durian segar memiliki umur simpan yang singkat, sehingga membutuhkan pengiriman cepat dan terkontrol. Ketika proses distribusi tidak optimal, risiko penurunan kualitas meningkat dan buah semakin sulit dipasarkan.
Pemerintah dan lembaga pemasaran pertanian setempat mencoba meredam dampak surplus dengan menyerap sebagian hasil panen untuk diolah menjadi produk turunan seperti pasta durian dan durian fermentasi. Meski membantu mengurangi stok, langkah ini belum sepenuhnya mampu mengimbangi kerugian yang dialami petani.
Dalam jangka menengah, pelaku industri menilai perlunya peningkatan standar budidaya dan konsolidasi petani agar mampu memenuhi permintaan ekspor durian segar. Tanpa perbaikan kualitas dan sistem distribusi, risiko surplus diperkirakan akan terus berulang setiap musim panen.
Ke depan, Malaysia diproyeksikan akan memfokuskan strategi ekspor pada segmen durian segar premium dengan volume terbatas namun bernilai tinggi. Namun, selama proses transisi ini berlangsung, petani masih harus menghadapi tantangan berat akibat ketidakseimbangan antara produksi dan serapan pasar. (***)









