Ingin Finansial Aman dan Bertumbuh di 2026? Ini Strategi Investasi Versi Pakar

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Menyambut tahun baru 2026, banyak masyarakat mulai memikirkan cara memperbaiki kondisi finansial agar lebih stabil dan berkembang. Salah satu langkah yang dinilai krusial adalah menyusun ulang strategi investasi sejak akhir tahun.

Kemudahan akses layanan keuangan digital membuat pilihan investasi kini semakin beragam. Namun, banyaknya opsi justru sering membuat investor pemula bingung menentukan instrumen yang tepat dan aman.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menegaskan bahwa tujuan utama investasi bukan sekadar mengejar keuntungan besar, melainkan menjaga nilai aset agar tetap aman dan bertumbuh secara konsisten.

Menurutnya, deposito dan obligasi masih menjadi instrumen yang paling rasional untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi di tahun depan.

Baca Juga :  OJK Ungkap Tantangan Skema Risk Sharing Asuransi Kredit, Industri Masih Beradaptasi

“Deposito memang bunganya tidak besar, tapi dijamin LPS dan Undang-Undang. Obligasi juga aman karena dijamin negara. Untuk jangka setahun ke depan, ini pilihan paling stabil,” ujarnya kepada detikcom, Jumat (19/12/2025).

Ia menilai, dua instrumen tersebut cocok dijadikan pondasi awal, terutama bagi masyarakat yang baru mulai berinvestasi atau tidak ingin mengambil risiko tinggi.

Emas Jadi Penopang Jangka Menengah dan Panjang

Setelah memiliki aset yang stabil, Ibrahim menyarankan investor menambah portofolio dengan emas. Logam mulia dinilai efektif sebagai pelindung nilai, khususnya untuk jangka menengah hingga panjang.

Baca Juga :  TVRI Resmi Penayang Piala Dunia 2026, Kick Off Digelar 1 Februari

“Emas itu bukan untuk cepat untung. Idealnya disimpan tiga sampai lima tahun. Kalau jual cepat, biasanya malah rugi karena selisih harga dan biaya,” jelasnya.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Analis Doo Financial Futures Lukman Leong. Ia memprediksi harga emas masih memiliki potensi penguatan pada 2026, meski saat ini pergerakannya cenderung melambat.

“Di akhir tahun biasanya harga emas cenderung konsolidasi. Kenaikan signifikan kemungkinan baru terlihat di awal tahun depan,” kata Lukman.

Menurutnya, kuatnya permintaan emas global menjadi faktor utama yang menopang harga logam mulia ke depan.

“Selama permintaan masih tinggi, emas tetap menarik sebagai aset investasi,” tutupnya.

Berita Terkait

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 16 September 2026 Turun Lagi, Cek Antam, UBS, Galeri 24 dan Buyback
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 16 September 2026: 1 Gram Rp2,631 Juta, Cek Buyback
CLARITY Act Gagal di Senat AS, Bitcoin Tertekan Lebih dari 5 Persen
Best Accounting Software for Small Business in 2026: Top Options Compared
The Fed Naikkan Suku Bunga 16 September 2026? Ini Sinyal Terbaru dan Dampaknya ke Rupiah, Emas, Saham
Suku Bunga The Fed 16 September 2026: Diprediksi Naik 25 Bps, Jadi 3,75%-4%
Best Home Insurance Companies in 2026: Coverage and Costs Compared
Best AI Tools for Small Businesses in 2026: Save Time and Cut Costs
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 09:16 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 16 September 2026 Turun Lagi, Cek Antam, UBS, Galeri 24 dan Buyback

Rabu, 16 September 2026 - 07:41 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 16 September 2026: 1 Gram Rp2,631 Juta, Cek Buyback

Rabu, 16 September 2026 - 07:20 WIB

CLARITY Act Gagal di Senat AS, Bitcoin Tertekan Lebih dari 5 Persen

Rabu, 16 September 2026 - 05:01 WIB

Best Accounting Software for Small Business in 2026: Top Options Compared

Rabu, 16 September 2026 - 03:02 WIB

The Fed Naikkan Suku Bunga 16 September 2026? Ini Sinyal Terbaru dan Dampaknya ke Rupiah, Emas, Saham

Berita Terbaru