JAKARTA-Indonesia memasuki fase penting dalam modernisasi pertahanan udara setelah tiga jet tempur Rafale mendarat mulus di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.
Kedatangan pesawat generasi 4.5 buatan Dassault Aviation ini menjadi tonggak bersejarah dalam kerja sama strategis Indonesia–Perancis, sekaligus pembuktian bahwa penguatan alutsista nasional terus berjalan meski di tengah dinamika geopolitik kawasan.
Kementerian Pertahanan memastikan bahwa ketiga unit Rafale tersebut telah sepenuhnya berada di bawah penguasaan TNI Angkatan Udara. Pesawat-pesawat ini langsung melalui proses integrasi dan persiapan operasional setelah tiba pada Jumat, 23 Januari 2026.
Kehadiran Rafale disebut memberikan lompatan kemampuan tempur bagi Indonesia, terutama karena angkatan udara selama bertahun-tahun mengandalkan pesawat yang kini mendekati batas usia pakai.
Pengiriman Perdana dari Kontrak Bernilai Raksasa
Kedatangan tiga unit Rafale ini merupakan bagian dari kontrak besar senilai 8 miliar dollar AS yang ditandatangani pada 2022 dan diperluas pada 2023. Kontrak tersebut mencakup paket lengkap, mulai dari pesawat tempur, pelatihan personel, hingga persenjataan mutakhir.
Kementerian Pertahanan menyebut bahwa tiga unit tambahan dijadwalkan tiba akhir tahun ini, menandai langkah awal dari keseluruhan rencana akuisisi puluhan unit Rafale yang menjadi tulang punggung kekuatan udara Indonesia pada dekade mendatang.
Dengan pesawat ini, Indonesia memperoleh akses pada salah satu jet tempur paling canggih di dunia, yang dikenal memiliki kemampuan manuver tinggi, radar AESA generasi terbaru, serta kemampuan multi-peran untuk misi udara-ke-udara maupun udara-ke-permukaan.
Komitmen Modernisasi Alutsista Indonesia
Pengadaan Rafale bukan langkah pertama Indonesia dalam memperbarui kekuatan militernya. Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir telah menaruh perhatian besar pada sektor pertahanan udara sebagai respons atas meningkatnya dinamika keamanan regional.
Selain kesepakatan dengan Perancis, Indonesia sebelumnya menandatangani kontrak jangka panjang dengan Turkiye untuk pembelian 48 jet tempur KAAN, pesawat generasi kelima yang diproyeksikan menjadi aset strategis bagi negara-negara pengguna.
Jet ini menggunakan mesin General Electric F110, sama seperti yang digunakan pada pesawat F-16 yang hingga kini masih menjadi andalan TNI AU.
Di sisi lain, pemerintah juga mempertimbangkan opsi lain untuk memperluas armada pesawat tempur. Jet tempur J-10 buatan China dan F-15EX dari Amerika Serikat masuk dalam daftar kandidat yang sedang dikaji.
Sementara itu, Indonesia dan Pakistan sempat melakukan pembahasan awal mengenai kemungkinan kerja sama pengadaan jet tempur dan drone bersenjata, menunjukkan luasnya spektrum diplomasi pertahanan Indonesia.
Penguatan Kemitraan Strategis Indonesia–Perancis
Selain penguatan militer, pengadaan Rafale juga menandai hubungan bilateral Indonesia dan Perancis yang semakin erat, khususnya dalam sektor industri pertahanan.
Perancis melihat Indonesia sebagai mitra strategis utama di Asia Tenggara, sementara Indonesia memandang kerja sama ini sebagai peluang untuk mengakselerasi transfer teknologi dan memperkuat kapasitas industri pertahanannya sendiri.
Kedatangan Rafale bukan hanya simbol kemampuan militer yang meningkat, tetapi juga representasi diplomasi pertahanan yang semakin berkembang.
Indonesia kini berada dalam posisi lebih kuat dalam menjaga ruang udara, sekaligus membuka jalan menuju program modernisasi jangka panjang untuk mencapai kekuatan udara yang kredibel di kancah regional.









